ADVERTISEMENT

Pasang WiFi di Rumah Desa Tak Cuma untuk Internet tapi Juga Gengsi, Rumah Tanpa WiFi Dianggap Tertinggal dan “Dihindari”

Pasang WiFi di rumah desa bukan sekadar untuk kebutuhan akses internet mudah dan murah, tapi ada gengsi sosial juga MOJOK.CO

Ketika sebuah rumah di desa memasang WiFi, kebutuhan pemilik rumah tidak berhenti pada kemudahan akses internet dan efisiensi biaya. Tetapi ada persoalan gengsi sosial yang harus diikuti. 

***

Hampir setiap rumah di desa Jono (25) di sebuah desa di Jawa Tengah kini sudah memasang WiFi sejak rumah pertama memasang di era pandemi Covid-19 lalu. Termasuk rumah Jono sendiri yang akhirnya pun ikut memasang.  Karena ketika ada tetangga baru memasang, tidak berselang lama tetangga yang lain pun akan ikut-ikutan, tidak mau ketinggalan. 

“Dulu pas Covid-19 kan hiburan di rumah YouTube, biar hemat pakai WiFi. Dulu yang pertama kali pasang, ada lah orang kaya di desa sini. Tapi terus mulai satu persatu mengikuti,” ungkap Jono, Kamis (1/10/2026). 

Jawa jadi kontributor terbesar pengguna internet nasional

Apa yang terjadi di desa Jono terekam dalam laporan resmi hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). 

Hasil survei yang dirilis pada Mei 2026 lalu itu menunjukkan, tingkat penetrasi internet Indonesia mencapai 81,72% atau setara 235.261.078 jiwa, meningkat dibanding tahun sebelumnya sebesar 80,66%. Kenaikan penetrasi tersebut seiring internet yang kini telah menjadi bagian penting dalam aktivitas sosial, ekonomi, pendidikan, hingga pelayanan publik masyarakat Indonesia.

APJII mencatat, Pulau Jawa masih menjadi kontributor terbesar pengguna internet nasional dengan penetrasi 85,95%, disusul Kalimantan 80,40% dan Sumatra 78,24%. Wilayah urban tercatat berada di angka 84,75%, sedangkan rural ada di angka 78,18%.

Selain itu, APJII juga mencatat pertumbuhan pelanggan internet tetap (fixed broadband) mencapai 99,5 juta jiwa dengan pertumbuhan 3,6% dibanding tahun sebelumnya. Dari jutaan jiwa tersebut, penetrasi internet laki-laki disebut mencapai 83,95%, adapun perempuan di angka 79,79%, dengan pengguna internet terbesar dari Generasi Milenial dan Gen Z. 

Komunikasi dan media sosial menjadi aktivitas utama penggunaan internet. Smartphone masih menjadi perangkat akses utama dengan durasi penggunaan mayoritas 4–6 jam per hari.

Pasang WiFi di rumah desa bukan semata kebutuhan internet murah

Jono bercerita, pada mulanya keputusan pasang WiFi di rumah desa adalah lantaran kebutuhan efisiensi untuk kebutuhan internet rumah tangga. 

Misalnya dalam rumah Jono sendiri: setidaknya ada 3 perangkat ponsel yang harus tersambung internet (milik Jono, adiknya, dan orang tuanya: bapak dan ibu Jono pakai satu hp). 

Anggap saja, standar untuk membeli paket internet dari sebuah provider merah yang dikenal punya jaringan kencang di desa Jono adalah Rp75 ribu sampai Rp100 ribu perbulan. Artinya, untuk tiga ponsel, sebesar Rp300 ribu harus dikeluarkan demi membeli paket internet bulanan.  Itu pun dengan paket internet yang bisa habis bahkan sebelum 30 hari. 

“Dengan pasang WiFi di rumah sendiri, kan sebulan cuma Rp130 ribuan, buat serumah,” jelas Jono. “Sudah bisa mengakses apa saja. Kalau kebutuhan orang tua kan Facebook sama YouTube. Kalau adikku ya mabar. Kalau aku paling ya nonton film, YouTube, medsos, sama streaming sepak bola.” 

Namun, pada akhirnya, pasang WiFi di rumah tersebut tidak semata persoalan kebutuhan efisiensi anggaran internet rumah tangga. 

Sekarang kalau orang bertamu pasti tanya “Ada WiFi nggak di rumah?”

Ada alasan kenapa sebuah rumah di desa Jono kemudian terdorong betul untuk pasang WiFi. Pasalnya, kini ada perubahan pola perilaku orang ketika bertamu. 

“Dulu kan orang saat mampir ke rumah tanyanya, ada kopi nggak? Kalau sekarang, baru duduk, ngobrol sebentar, terus tanya, ‘Ada WiFi nggak ya?’, karena ada kebutuhan buat buka hp,” ujar Jono. 

Sebelum memasang WiFi, Jono pernah mengalami situasi semacam itu. Menerima pertanyaan tersebut, Jono hanya bisa menggelengkan kepala dengan situasi batin yang ciut. 

Apalagi jika saudara jauh yang bertamu. Nun di desa asalnya, si saudara sudah terbiasa dengan kemudahan akses internet melalui WiFi yang terpasang di rumah. Lantas, saat ke rumah Jono dan mendapati rumah Jono belum terpasang WiFi, tampak betul raut kecewanya. 

Situasi itu kemudian menjadi dasar lain bagi Jono untuk lekas pasang WiFi di rumahnya. Ada persoalan gengsi sosial di samping efisiensi anggaran internet rumah tangga. 

Kalau belum pasang terkesan tertinggal

“Zaman gini kok belum pasang WiFi, sudah banyak yang pasang karena sekarang apa-apa pakai hp.” Kalimat itu beberapa kali terlontar ke Jono saat beberapa orang (tetangga, teman, atau saudara) tahu rumah Jono masih belum terpasang WiFi. 

Ada kesan tertinggal. Bahkan, bisa jadi orang agak ogah ke rumah yang belum ada WiFinya. 

Adik Jono sendiri pernah mengalami. Lingkungan perkawanan Jono—bocil-bocil FF—butuh sambungan WiFi untuk main game bareng (mabar). Mereka biasa berpindah rumah satu sama lain. Namun, rumah Jono jelas tidak menjadi jujukan karena memang tidak ada WiFi-nya. 

Situasi berubah ketika rumah Jono terpasang WiFi. Tiap selang berapa hari sekali pasti riuh jadi tempat mabar, sampai Jono risih sendiri dan beranggapan kalau memasang WiFi di rumah adalah kesalahan. 

“Karena kayak merebut dunia nyata anak-anak. Mereka tenggelam di hp masing-masing. Kalau risikonya begitu, kayaknya dicap tertinggal nggak masalah lah aku,” tutupnya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Penyesalan Pasang WiFi di Rumah: Lepas Kendali Merusak Hidup dan Mental karena Terkungkung Layar HP  atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan



Terakhir diperbarui pada 2 Oktober 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.