Kasih Tip Rp5 Ribu ke Driver Ojol Tak Bikin Rugi tapi Bikin Hidup Lebih Bermakna di Tengah Situasi Hidup yang Kacau

Beri tip ke driver ojol. MOJOK.CO

ilustrasi - tip untuk driver ojol, berapapun jumlahnya bakal lebih menguntungkan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Tekanan biaya hidup sehari-hari kini makin terasa, terutama oleh sebagian masyarakat menengah ke bawah. Kesadaran untuk saling mengulurkan tangan pun tumbuh di tengah kesulitan tersebut. Salah satunya dengan menormalisasi pemberian tip ke driver ojol. 

***

Hujan deras mengguyur Jakarta Pusat pada Maret 2026 saat bulan Ramadan kemarin. Badai petir menyambar daerah Thamrin City hingga Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK). Di tengah keriuhan tersebut, Aulia (26) akhirnya bisa pulang lebih awal sekitar pukul 16.00 WIB. 

Namun, ia tak langsung pulang ke kosannya. Aulia harus menghadiri agenda buka bersama di GBK. Sialnya, ia harus menunggu hampir 1 jam untuk memesan driver ojol. Tak lama setelah itu, Aulia akhirnya dapat driver perempuan alias seorang ibu-ibu.

“Aku ajak ngobrol dan dia cerita kalau potongan ojolnya besar. Dia beneran kasih lihat di aplikasinya gitu nominalnya. Aku akhirnya kasih tip saja, tapi nggak bilang ke dia,” kata Aulia.

“Soalnya dia juga nggak ngeluh atau indirectly minta tip gitu lho. Kan ada tuh yang kalau maksa, malah kitanya ogah ngasih,” jelas Aulia.

Driver ojol yang layak mendapatkan tip

Jauh sebelum kejadian itu, Aulia sudah membiasakan diri untuk memberikan tip ke driver ojol dengan beberapa alasan. Pertama, karena ia relate dengan masalah gig economy atau sistem pasar tenaga kerja yang didominasi oleh pekerja kontrak jangka pendek, pekerja lepas (freelancer), dan mandiri. 

Aulia pun tak tutup mata dengan keresahan driver ojol yang mengalami penurunan pendapatan bersih akibat tingginya biaya operasional dan potongan platform, sementara mereka harus tarung di jalanan. Bahkan ada yang bekerja mati-matian untuk menghidupi keluarga.

“Aku sering merasa, njir mereka udah nunggu lama, jauh juga tempatnya. Kok cuma dapat segini doang?,” tanya Aulia.

Kedua, pelayanan driver ojol yang benar-benar bikin Aulia puas. Salah satunya, ketika si driver nyambung diajak ngobrol. Namun, bukan berarti Aulia memaksakan kondisi tersebut sebab ia paham ada pula driver yang memang tak suka mengobrol

Hanya saja, ketika melihat driver yang berusaha memberikan kenyamanan pada penumpang seperti mengajak ngobrol mereka agar tidak bosan, tidak kebut-kebutan di jalan, selalu memprioritaskan penumpang, Aulia merasa lebih senang bahkan tak segan untuk memberikan tip sebesar Rp20 ribu. 

Namun, menurut Aulia penumpang bebas memberikan tip berapapun. Sebab, sepengalamannya ngobrol dengan driver ojol, mereka selalu senang menerima tip tersebut berapapun nominalnya.

Walaupun tak seberapa, driver ojol sudah begitu senang mendapatkan pesanan dan dihargai upayanya. Paling tidak, tip tersebut dapat menambah semangatnya mencari penumpang baru.

Kebaikan tak sebatas uang

Tak hanya Aulia, Eca (25) juga sering memberikan tip ke driver ojol saat memesan makanan. Menurut Eca, harga makanan biasanya akan lebih murah ketika pengguna membeli banyak makanan karena dapat diskon. 

Sementara, kalau dimakan sendirian Eca merasa tak sanggup. Oleh karena itu, ia tak segan membeli banyak makanan dan memberikan salah satu makanannya ke driver ojol.

“Cuma aku lebih senang kasih tip sih, karena kalau tip bisa langsung diterima sama driver-nya. Dan biasanya aku kasih 10 persen dari total belanjaanku tapi kalau terlalu rendah, minimal aku kasih Rp5 ribu sampai Rp10 ribu,” ujar Eca.

Berliana (25) mengaku sering memberikan tip ke ojol ketika dia meminta sesuatu lebih ke driver, sebab ia menyadari jika ojol merupakan pekerja mandiri yang gajinya tak seberapa dengan risiko kelelahan yang cukup tinggi.

“Misal nih aku pesan ojol terus aku minta driver-nya mampir ke ATM dulu. Kalau nggak pas minta mampir ke warung untuk beli makan, biasanya aku belikan juga bapaknya,” kata Berliana.

Memberi pengemis versus kasih tip ke driver ojol

Pemberian tip ke driver ojol juga biasa dilakukan Dhyra (23). Bahkan menurutnya, lebih baik memberikan tip ke driver ojol dibandingkan pengemis. “Karena aku lihat langsung kerja keras mereka,” ucapnya.

Namun, Berliana dan Eca tak sepakat dengan pandangan tersebut. Jika mau berempati, kata Berliana, seharusnya tidak perlu membanding-bandingkan perjuangan atau usaha orang lain. Seperti antara pengemis dan driver ojol.

If you want to be kind and giving, ya just give. Apakah dia melihat usaha dari seluruh hidup pengemis? Kalau nggak mau kasih ya nggak usah kasih, gitu aja sih kalau aku,” kata Berliana.

Senada dengan Berliana, menurut Eca kebaikan seharusnya dilakukan tanpa pamrih. Ketika ingin berbuat baik, maka seharusnya manusia tak tebang pilih bahkan ke makhluk hidup lainnya. Mau itu tukang ojol, pengemis, manusia silver, atau bahkan hewan. 

“Karena kamu melakukan kebaikan ya untuk dirimu sendiri dan itu urusan pribadimu. Masalah uangnya disalah gunakan atau nggak ya terserah,” kata Eca.

Eca meyakini bahwa tidak semua pengemis bodoh. Siapa tahu, mereka memang sedang kesulitan dan hanya itu yang bisa mereka lakukan. Bahkan, kata Eca, tidak semua driver yang dikasih tip menggunakannya dengan baik.

“Kita mana tahu kalau mereka sebenarnya nggak suka atau lebih parahnya, justru mereka pakai buat judi online (judol) tipnya,” ujar Eca.

“Jadi mending fokus ke diri sendiri saja sih. Kayak, kenapa kamu bersedekah? Apa alasan kamu bersedekah? Ikhlas nggak kamu bersedekah dengan jumlah segitu?”

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Pelajaran Hidup dari Seorang Driver Ojol di Semarang yang Suka “Yapping” Tak Lupa Membantu Sesama di Tengah Tekanan Hidup dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version