Meski tampak sederhana, nasi berkat tahlilan sejatinya dimasak oleh pihak rumah dengan susah payah demi menghormati para tamu. Namun, semakin ke sini, hasil memasak dengan penuh effort tersebut justru kerap kali harus berakhir mubazir tanpa dihargai.
***
Di desa Ozan (25) di Rembang, Jawa Tengah, beberapa orang kini sudah mulai mengubah isian berkatan tahlilan. Tidak lagi berupa nasi berkat dan lauk-pauknya, tapi bahan mentah (beras, minyak goreng, mie instan, telur, atau sejenisnya).
Sejauh pengamatan Ozan, hal itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki kelebihan uang. Sebab, mengganti isian berkatan dengan bahan mentah jelas lebih “mahal”.
Perubahan tersebut tidak begitu saja terjadi. Tapi ada pemantiknya: antara memang sahibul hajat tidak mau effort dan repot-repot masak besar, atau karena kesadaran bahwa sering kali nasi berkat tahlilan berakhir mubazir.
Nasi berkat tahlilan dulu paling dinanti: jadi nasi goreng nenek, basi pun tetap dinikmati
Ozan mengakui, ia nyaris tidak pernah menyentuh nasi berkatan tahlilan. Mentok-mentok hanya mengambil teh botol atau snack-nya saja. Karena bagi Ozan, isian nasi berkat ya begitu-begitu saja untuk dirinya yang sudah terpapar referensi makanan-makanan kekinian.
Berbeda dengan cerita Ibu Ozan yang sedari kecil hingga sekarang bahkan masih menyambut antusias. “Ibuku, kakekku, sampai bilang: Anak zaman sekarang mana mau makan nasi berkat. Kalau dulu sudah jadi makanan mewah,” ujar Ozan, Senin (14/9/2026).
Ibu Ozan bercerita, dulu ketika Kakek Ozan pulang tahlilan, Ibu Ozan dan orang rumah akan langsung meriung. Makan bersama. Jika malam itu tidak sempat makan nasi berkatan, esok harinya masih bisa Ibu Ozan nikmati meski sudah agak basi.
“Kata Ibu buat sarapan sebelum sekolah (SD),” kata Ozan.
Hingga sekarang pun, entah Ozan atau Bapak Ozan pulang dengan menenteng berkatan, kebiasaan makan bersama itu masih dilakukan. Minimal dilakukan oleh Ibu dan Nenek Ozan.
Kalau bisa jangan dibuang-buang begitu saja. Itulah prinsip keluarga Ozan. Karena mereka menyadari betapa susah-payahnya sahibul hajat dalam memasak nasi berkat tersebut. Sehingga, jika tidak di makan malam itu juga, esok paginya pasti sudah menjadi nasi goreng nenek. Prinsipnya harus kemakan.
“Kalau nasi goreng nenek aku suka. Kalau sudah jadi nasi goreng, aku ikut makan. Entah kenapa nasi goreng nenek itu rasanya spesial,” sambung Ozan.
Gambaran susah payahnya masak nasi berkat tahlilan
Bagaimana tidak susah-payah. Sahibul hajat sedang ditimpa duka. Tapi di saat yang sama, ia harus menghitung uang, belanja, dan mengkoordinir saudara atau tetangga perempuan yang rewang untuk masak besar. Karena memang proses memasak nasi berkat melihatkan banyak perempuan (entah dari kalangan saudara sendiri atau tetangga.
Ozan pun memerhatikan, ketika ada warga desa yang hendak menggelar tahlilan, suasana dapur rumah sahibul hajat pasti akan sangat hectic dari pagi sampai pagi lagi. Ibu-ibu tampak sampai berpeluh dan kepayahan demi membuat nasi berkatan yang akan diberikan kepada tamu tahlilan.
“Pagi belanja, masak sampai siang, terus sorenya bungkusin berkatan satu persatu yang jumlahnya bisa 50-an lebih. Lalu malamnya tahlilan. Besok paginya si sahibul hajat masih harus bersih-bersih peralatan memasak yang kotor,” beber Ozan.
Belum lagi jika ada undangan yang tidak hadir, sahibul hajat pasti akan effort untuk mengantarkannya door to door ke rumah masing-masing, karena memang sudah dihitung sebagai tamu undangan. Selain itu, jika tidak diantarkan, nasi berkatan itu malah hanya akan teronggok di sahibul hajat—menunggu basi. Sahibul hajat tidak ingin itu terjadi.
Sudah begitu masih dicaci hingga dibuang
Mirisnya, susah-payah itu kerap kali tidak masuk dalam hitungan penilaian. Ada saja tamu tahlilan yang hanya fokus pada apa menu yang terhidang.
Teramat sering Ozan mendengar tetangganya menggerutui isi nasi berkatan yang diterima. Perkara cuma ada irisan daging sepotong kecil saja bisa dikomentari.
“Eh ya, ngasih daging kok cuma seupil, pelit amat,” misalnya seperti itu. Tidak jarang pula Ozan melihat ada berkatan tahlilan yang dibuang di area kebun dalam kondisi masih utuh nasi dan lauk-pauknya, hanya diambil amplop dan snacknya saja.
“Masih mending kalau punya peliharaan ayam lah, bisa jadi pakan ayam. Jadi rezekinya ayam. Tapi kalau sudah dibuang utuh begitu, kalau di keluargaku merasa miris,” ujar Ozan. Alhasil, menjadi masuk akal ketika akhirnya ada warga yang memilih mengganti isian berkatan menjadi bahan mentah.
Hanya saja, bagi Ibu Ozan, tidak nafsu terhadap menu nasi berkatan sebaiknya jangan serta-merta membuangnya begitu saja. Karena Ibu Ozan sendiri punya kebiasaan, kalau memang nasi berkatan tahlilan tidak akan dimakan, kan masih bisa dibagikan ke orang yang membutuhkan. Misalnya tetangga atau saudara yang untuk makan sehari-hari saja susah.
“Aku pernah iseng. Bawa nasi berkatan ke pangkalan truk, kukasih ke sopir truk yang sedang parkir. Mau ternyata, dan dimakan dengan lahap,” tutup Ozan.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Amplop Tahlilan Dicap Tradisi Memberatkan Berdalih Sedekah tapi Isinya Paling Dinantikan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
