Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Titik Terendah Ibu saat Naik Kereta Api Bawa Bocil: Mental Terguncang Bukan karena Bocil Tantrum tapi Mulut Jahat Sesama Perempuan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
27 Juli 2026
A A
Titi terendah perempuan: bawa bocil saat naik kereta api MOJOK.CO

Ilustrasi - Titi terendah perempuan: bawa bocil saat naik kereta api. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi seorang ibu, naik kereta api membawa bayi atau balita bisa menjadi salah satu titik terendah karena harus menghadapi betapa jahatnya mulut manusia, bahkan dari sesama perempuan. 

***

Iklan

Wahida menghela napas panjang saat hendak menceritakan pengalamannya membawa bocil naik kereta api. Perempuan asal Lumajang, Jawa Timur, itu mengaku selalu pedih setiap mengingat ucapan-ucapan orang yang pernah ia dengar. 

Menikah pada 2023 lalu, Wahida tinggal bersama suami di Sidoarjo. Sesekali ia dan suami juga pulang ke Lumajang menggunakan moda transportasi kereta api. Salah satu momen tidak terlupakan adalah saat pertama kali bepergian dengan membawa anak mereka saat menginjak 1 tahun. Kereta api ekonomi Sri Tanjung menjadi pilihan karena harganya yang murah.

Hari itu menjadi hari yang menguras energi dan mental, bahkan Wahida merasa berada di titik terendah sebagai perempuan, meminjam istilah yang belakangan dipakai para ibu-ibu muda yang membawa bocil di kereta.

Bocil tantrum sepanjang perjalanan, seluruh upaya tidak mempan

Semula anak Wahida tidur pulas semenjak kereta api ekonomi Sri Tanjung berangkat dari Stasiun Wonokromo Surabaya. Ketika bangun, Wahida sebenarnya sudah menyiapkan beberapa mainan agar anaknya tidak rewel. 

Sayangnya, fokus anak ke mainan hanya berlangsung sesaat. Setelahnya, anak Wahida merengek-rengek hingga meronta-ronta. Wahida dan suami sampai berganti-gantian untuk menggendong, mengajak jalan maju-mundur di dalam gerbong. 

“Kalau duduk pasti langsung rewel. Nangis. Tapi pas diajak jalan juga kadang tenang, kadang tantrum lagi. Dikasih hp juga nggak mempan,” cerita Wahida. 

“Aku sampai tanya ke suami, ini kenapa sih sebenarnya? Tapi suami mencoba menenangkan aku juga, wajar ini kan baru pertama kali si bocil diajak naik kereta, ramai orang, jauh juga jaraknya,” sambungnya. 

Demi menenangkan anak, saat kereta api berhenti di stasiun, suami Wahida sampai menggendongnya ke peron untuk melihat suasana luar. Sesaat diam. Tapi saat masuk lagi ke gerbong dan kereta api berjalan, tangisan kembali tidak terhindarkan. 

Penumpang kereta api merasa terganggu bocil tantrum hingga protes

Karena tantrumnya si bocil terlalu intens, lama-lama beberapa penumpang mulai terang-terangan menunjukkan gestur terganggu. Sepasang anak muda yang duduk di kursi depan Wahida misalnya: satu di antaranya sampai menutup telinga dengan earphone sambil mendesis sebal. Sementara satunya lagi sampai berkali-kali menghembuskan napas berat. 

Tidak cukup sampai di situ, bahkan ada seorang penumpang, ibu-ibu berusia 40-an tahun yang sampai menegur: “Kenapa sih, Mbak, kok rewel sampai segitunya?”

Wahida tidak menjawab karena energinya sudah habis. Saat itu suaminya lah yang mencoba menjelaskan kalau itu momen pertama kali si bocil diajak naik kereta api. 

“Besok-besok nggak usah naik kereta api, Mbak, daripada rewel kayak gitu,” sahut ibu-ibu dengan nada ketus. Bahkan Wahida mengaku mendengar samar-samar suara laki-laki yang bergumam: “Kalau masih rewel terus mending turun di stasiun berikutnya.” 

Iklan

Mendengar itu, Wahida hampir menangis. Air matanya sebenarnya sudah di ujung. Tapi ia mencoba sekuat tenaga untuk menahan. Apalagi saat melihat sang suami yang sedari awal begitu tabah dan telaten berupaya menggendong dan menenangkan anak mereka. 

Di sisa perjalanan, untungnya anak mereka bisa tertidur kembali. Meski di sisa perjalanan itu pula Wahida lebih banyak larut dalam lamunan. Seperti merasa sebagai ibu gagal karena tidak bisa menenangkan anaknya. 

Komentar jahat sesama perempuan

“Setelah kejadian itu, aku sempat trauma. Mikir-mikir kalau mau naik kereta api bawa bocil,” tutur Wahida. 

Namun, pada akhirnya, Wahida mulai menebalkan telinga dan menguatkan mental. Bahkan setelahnya ia sering berangkat dari Surabaya ke Lumajang (dan sebaliknya) tanpa suami. Kadang si bocil tenang, tidak jarang pula tantrum, bahkan juga kalau mremet: lari-lari hingga tiduran di gang gerbong. 

Ia pun memahami dan turut memberi support ketika baru-baru ini ada perempuan yang membagian momen “titik terendahnya” membawa bocil naik kereta api melalui Threads. Di saat yang sama, ia juga tidak habis pikir dengan sesama perempuan yang melayangkan komentar-komentar jahat. 

 

Lihat di Threads

 

“Ada yang komen, kalau belum becus jadi orang tua, ya jangan punya anak dulu. Kalau masih miskin, kalau naik kereta aja masih ekonomi, ya jangan berkembang biak dulu. Menurutku jahat. Anak itu pemberian Tuhan,” ucap Wahida. 

Wahida menilai, para penumpang yang merasa risih dengan keberadaan bocil di kereta api salah sasaran jika menyalurkan kemarahan pada si ibu. Apalagi jika si ibu sudah berusaha keras untuk menenangkan, sementara psikologi anak-anak masih sangat kompleks untuk dimengerti. 

“Kalau mau marah, ya ke KAI, karena belum bisa menyediakan gerbong yang benar-benar khusus untuk para orang tua yang naik kereta api bawa bayi atau balita,” gerutu Wahida. 

 

Lihat di Threads

 

Masih ada orang baik di kereta api? 

Cerita Wahida, pengakuan ibu-ibu muda di Threads, juga komentar-komentar jahat yang bertebaran di media sosial membuat istri saya semakin takut merencanakan perjalanan naik kereta api membawa bayi. 

Sejak melahirkan saya memang LDM dengan anak dan istri. Saya di Jogja, istri dan anak di Jombang. Untuk sementara saya masih harus riwa-riwi Jogja-Jombang. Sampai kemudian istri saya mengutarakan niat untuk bertandang ke Jogja, membawa bayi kami yang baru tujuh bulan. 

“Tapi aku takut kalau tantrum, nanti dapat komentar jahat dari penumpang lain,” ujar istri saya. 

Saat saya ceritakan ketakutan istri saya ke Wahida, ia berkata kalau kadang pilihan kita memang hanya menebalkan telinga dan menguatkan mental. Akan tetapi, Wahida mengaku, di sela reaksi penumpang lain yang menyakitkan bagi ibu baru sepertinya, ia masih menemukan perlakuan dari orang baik tanpa ia duga. 

“Misalnya, aku pernah kan, pas anakku ngerengek-ngerengek, kursi di sebelahku itu kan rombongan keluarga. Dua Ibu-ibu dan satu bapak-bapak umur 50-an tahun, terus sama satu mbak-mbak masih muda. Itu mereka malah ikut ngajak anakku bercanda, biar nggak rewel. Malah si ibunya juga nawarin mau bantu gendong, terus si mbak-mbaknya ngasih kipas angin kecilnya buat mainan,” beber Wahida. Wahida benar-benar terharu dengan perlakuan mereka, di saat penumpang lain menganggap ia dan anaknya musuh bersama sebagai biang ketidaknyamanan kereta. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Tangisan Anak Kecil di Kereta Ekonomi Bikin Saya Sadar di Usia 25, Betapa Kasih Ibu Diuji Lewat Rasa Lelah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 27 Juli 2026 oleh

Tags: fase terberat ibu barugerbong untuk balitagerbong untuk bayikereta apitips bawa bocil naik keretatips bocil tidak tantrum
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Fitur "Pilih Kursi" di KAI Access terasa percuma karena penumpang di kereta api ekonomi tidak tahu diri MOJOK.CO
Sehari-hari

Fitur “Pilih Kursi” KAI Access Terasa Percuma, Mau Duduk Nyaman di Kursi Incaran tapi Malah Makin Kesal

8 Juni 2026
Menormalisasi pakai jasa porter di stasiun kereta api MOJOK.CO
Urban

Pakai Jasa Porter di Stasiun meski Bisa Bawa Barang Sendiri: Sadar 50 Ribu Itu Tak bikin Rugi, Tapi Justru Belum Seberapa

23 April 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO
Catatan

Backpackeran Naik KA Eksekutif Jogja-Jakarta Demi Menyembuhkan Luka, Malah Dibuat Kesal dengan Kelakuan Norak Penumpangnya

1 April 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO
Sehari-hari

Penyesalan Penumpang Kereta Eksekutif: Bayar Mahal untuk Layanan Mewah, Malah Lebih Nyaman Pakai Kereta Gaya Lama

31 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Anak penjual tahu kuliah di ITB. MOJOK.CO

Perjuangan Mutiara Belajar Mandiri dan Andalkan Buku Panduan dari Sang Ayah Penjual Tahu hingga Tembus ITB

27 Juli 2026
Titi terendah perempuan: bawa bocil saat naik kereta api MOJOK.CO

Titik Terendah Ibu saat Naik Kereta Api Bawa Bocil: Mental Terguncang Bukan karena Bocil Tantrum tapi Mulut Jahat Sesama Perempuan

27 Juli 2026
KAI Daop 6 Bagikan 80 Paket Makanan kepada Penumpang Anak di Stasiun Yogyakarta MOJOK.CO

KAI Daop 6 Bagikan 80 Paket Makanan kepada Penumpang Anak di Stasiun Yogyakarta

23 Juli 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Jadi gini rasanya keracunan motor Yamaha Xabre bekas MOJOK.CO

Akulah yang dulu meremehkan motor Yamaha Xabre karena harganya yang nggak ngotak, tapi kini rasa ingin memilikinya semakin tinggi

23 Juli 2026
Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif MOJOK.CO

Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif

21 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.