ADVERTISEMENT

Cita-cita Masa Kecil Jadi Masinis tapi Pas Dewasa Cuma Jadi Penumpang Kereta Ekonomi, Sedih tapi Sadar Kenyataan

Cita-cita masa kecil jadi masinis tapi cuma jadi penumpang kereta api ekonomi MOJOK.CO

Setiap anak kecil pernah memiliki cita-cita besar. Menjadi masinis kereta api misalnya. Namun, bagaimana jika saat dewasa ternyata hanya menjadi penikmat terwujudnya cita-cita anak kecil lain? 

Seperti cerita yang dituturkan Jami (24), seorang pemuda yang saya temui saat duduk di area merokok Stasiun Jombang pada Senin (12/10/2026) sore. Saya tengah menunggu kereta menuju Jogja. Sementara Jami menanti keberangkatan ke Jember, Jawa Timur. Di sana ia bekerja di sektor swasta, ikut saudaranya. 

ADVERTISEMENT

Masinis kereta api: cita-cita masa kecil dari jawaban lugu dan poster-buku

Jami mengaku, ada perasaan mengganjal setiap melihat orang-orang berseragam KAI. Terutama masinis. Ketika kereta memasuki peron stasiun, lalu tampak dari depan seorang masinis dengan gagah di kursi kemudi, hasrat masa kecilnya tiba-tiba menyeruak. 

“Kamu pernah kan di masa kecil dulu, SD lah, pas guru tanya ‘Kamu cita-citanya apa?’ Kita jawabnya pasti sesuatu yang susah dijangkau. Pilot, astronot, dokter, presiden lah. Kalau aku dulu dengan polos menjawab masinis,” ungkap Jami. 

Tinggal di Jombang, Jami tentu sudah akrab dengan kereta api sejak kecil. Itulah kenapa, di antara banyak cita-cita besar, dulu ia tertuju pada profesi sebagai masinis. 

Dulu ia tidak tahu alasan rasionalnya apa. Dalam benak polosnya sebagai anak-anak, sebatas karena “masinis kereta api” kerap muncul di dalam poster atau buku yang memuat profesi. 

Cita-cita tersebut sempat terhempas. Akses pendidikan, privilege keluarga, dan variabel penentu karier lainnya tidak berpihak bagi Jami. Ia hanya tumbuh sebagai “mas-mas kabupaten” biasa. Hanya berhenti sebagai lulusan SMA. Kehidupan yang ia jalani berikutnya adalah asal bisa kerja (kerja apa saja), meski gaji kecil, tidak masalah. Tidak nganggur saja sudah syukur. 

“Sekarang baru lah tahu, kenapa masinis kereta api mesti masuk daftar profesi di buku atau poster. BUMN, Bro, sopo sing gak kepengen) (BUMN, Bro, siapa yang nggak pengin?), hidup terjamin itu,” tutur Jami. 

Berakhir jadi penumpang kereta api ekonomi, seporsi kekalahan?

Kini, saat tumbuh dewasa, Jami hanya berakhir menjadi penumpang kereta api kelas ekonomi. Menandakan bahwa uang yang ia miliki hanya cukup untuk naik kereta api jenis tersebut (ya meski sekarang harga tiketnya melonjak mahal). 

“Kalau seporsi kekalahan sih enggak, cuma itu tadi, rasanya setiap naik kereta atau lihat kereta melintas itu sentimentil. Membatin, ‘Cok biyen aku pengin dadi koyo ngono (Cok, aku dulu pengin jadi seperti itu)’,” ujar Jami. Tentu yang ia maksud adalah masinis. 

ADVERTISEMENT

Pun begitu ketika ia sudah duduk di dalam kereta. Terutama jika ia kebagian kursi di dekat jendela. Ia kadang duduk sambil melamun, kalau ia duduk di kursi kemudi kereta api, pasti ia bisa melihat pemandangan lebih jelas dari depan. 

“Tapi lebih dari itu, jadi masinis itu seperti keren gitu. Orang penting lah kalau di transportasi darat,” beber Jami. 

“Apalagi setiap lihat ya, ada masinis turun buat menyalami anaknya. Aku membayangkan, pasti istri, anak, dan keluarganya bangga sekali ya punya bapak seorang masinis,” sambungnya. 

Jadi petugas kebersihan pun tidak masalah

Lambat laun, intensitas Jami naik kereta api justru membuka matanya lebar-lebar: pekerjaan di sektor perkeretaapian itu tidak hanya soal masinis. Ada banyak. Dari teknisi, petugas keamanan, pramugari, hingga petugas kebersihan (facility care). 

Sekarang ia justru berpikir, kalau tidak sebagai masinis, kerja di posisi apapun asal di kereta api sepertinya tidak buruk-buruk amat. Misalnya, dalam konteks yang masih mungkin ia jangkau: facility care. Rasa-rasanya masih mungkin, asal bisa ketemu alurnya saja. 

“Tapi kan tetap keren kalau ditanya kerja di mana? Jawabnya di KAI haha,” ujar Jami setengah bercanda. 

Toh setelah Jami cari tahu dari internet, informasi yang ia dapat, gaji facility care KAI bisa start di angka Rp3 jutaan perbulan. Terdengar kecil bagi sebagian orang, tapi terdengar lebih dari cukup untuk ukuran Jami. 

Tapi Jami memang sudah terlanjur percaya: tidak setiap mimpi bisa diwujudkan. Nasib orang sudah ditentukan dengan porsi masing-masing. 

Jami pun sebenarnya sudah di tahap menerima saja dengan pekerjaan yang ia jalani saat ini. Mentok-mentok kalau ia memang butuh upgrade penghasilan, jalan yang ia tempuh mungkin tidak jauh berbeda dari anak-anak muda Jombang pada umumnya: daftar LPK, lalu kerja di luar negeri (entah Timur Tengah atau Jepang). 

Sekali lagi Jami menegaskan, nasib tidak ada yang tahu. Yang pasti, kereta api tujuan Jember sudah memasuki peron. Jami harus keluar dari bayangan cita-cita masa kecilnya, menjalani realitas di depan mata. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Seporsi Kekalahan Anak Laki-laki: Kerja Ngoyo tapi Masih Begini-begini Saja, Tak Sanggup Ringankan Beban Ortu di Masa Tua atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 13 Oktober 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.