Momen Agustusan bikin Mahasiswa KKN di Desa Jadi Orang Bingung, Lebih Sigap Karang Taruna

Agustusan momen bikin mahasiswa KKN kelihatan jadi orang bingung, kalah pamor dengan anak muda Karang Taruna desa MOJOK.CO

Ilustrasi - Agustusan momen bikin mahasiswa KKN kelihatan jadi orang bingung, kalah pamor dengan anak muda Karang Taruna desa. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Agustusan menjadi momen yang membuat mahasiswa KKN di desa tampak serba bingung—dan bahkan di titik tertentu terkesan tidak berguna. Alih-alih memberi warna baru, sebagaimana ekspektasi warga, keberadaan mereka justru tetap kalah pamor dari geliat anak-anak muda desa yang tergabung di dalam Karang Taruna. 

Pengakuan tersebut diungkapkan oleh seorang anggota Karang Taruna di sebuah desa di Jawa Tengah, Safawi, yang mengaku setidaknya 2 tahun terakhir bersinggungan dengan mahasiswa KKN di desanya seiring aktifnya ia di Karang Taruna desa. 

Di momen Agustusan, mahasiswa KKN kelihatan kebingungan

Dalam pengalaman Safawi, momen Agustusan memang membuat mahasiswa KKN di desanya tampak seperti orang bingung. 

Begini, banyak warga desa Safawi memang berharap ada kegiatan yang lebih baru dan semarak dari umumnya warga desa. Maka tidak ayal jika warga meminta anak-anak muda Karang Taruna berkolaborasi dengan anak-anak kampus tersebut. 

Ekspektasi itu pun tidak datang begitu saja. Termasuk ekspektasi anak-anak Karang Taruna. Sebab, sejak awal, kegiatan Agustusan memang dipresentasikan sebagai salah satu program yang akan mahasiswa KKN jalankan di desa. 

“Tapi ketika kami ikut rapat mereka, anak-anak KKN ini malah kelihatan bingung buat cari format lomba yang nggak hanya baru, tapi juga seru,” tutur Safawi, Minggu (16/8/2026) malam. 

Bahkan di titik tertentu, Safawi mengaku, ketika ada anak Karang Taruna desa mengusulkan konsep ide kegiatan Agustusan, para mahasiswa KKN tersebut justru memasang wajah tidak antusias. Seperti meremehkan. 

Belum lagi jika sudah mulai eksekusi teknis: menyiapkan segala keperluan untuk kegiatan Agustusan di desa, malah lebih bingung lagi. 

“Misalnya untuk hal sesederhana memalu paku di tiang kayu, walaupun laki-laki ya belum tentu bisa. Keterampilan-keterampilan itu kan memang kayaknya nggak dimiliki setiap anak kuliahan yang hari-hari di menghadap layar laptop,” beber Safawi. 

Tanpa mahasiswa KKN, Karang Taruna desa tetap bisa mengonsep Agustusan untuk warga

Agustusan tentu bukan menjadi satu-satunya kegiatan di desa yang dikoordinatori oleh anak-anak muda Karang Taruna desa Safawi. Ada sejumlah kegiatan lain seperti Muharraman, sedekah bumi, dan lain-lain. 

Momen-momen tersebut tidak mesti bertepatan dengan keberadaan mahasiswa KKN. Kata Safawi, tanpa keberadaan mahasiswa KKN pun, anak-anak muda Karang Taruna nyatanya sudah bisa mengonsep sebuah acara yang seru dan selalu up to date. 

“Termasuk Agustusan, sekarang zaman TikTok, jadi tinggal lihat model lomba apa yang dipakai dan lagi trend. Itu yang kami pakai. Ya modifikasi tipis-tipis lah,” beber Safawi. 

“Tanpa diprogram mahasiswa KKN, semua itu sebenarnya sudah jalan di desa kami,” imbuhnya. 

Menurut Safawi, ide anak-anak Karang Taruna dengan mahasiswa KKN yang dirapatkan sering kali tidak jauh berbeda. Bedanya, anak-anak Karang Taruna tahu harus berbuat apa karena mayoritas anak-anak muda desa menguasai beberapa keterampilan teknis. Sementara mahasiswa KKN, bagi Safawi, hanya bisa berteori. 

Itulah bagian yang membuat Safawi merasa risih. Karena kalau eksekusi untuk menyiapkan kegiatan, ada dua jenis mahasiswa yang harus anak-anak muda Karang Taruna hadapi. Satu, serba bingung dan serba kikuk karena dimintai bantuan apa-apa tidak bisa. Dan dua, hanya bagian memberi instruksi seperti mandor. 

“Masalahnya memang, mungkin karena gengsi kali ya. Gini, kami ini kan asli desa sini, yang lebih paham seluk beluk desa sini. Sementara mereka ini pendatang. Harusnya mereka punya inisiatif buat belajar ke kami,” tutur Safawi. 

“Tapi yang terjadi kan nggak, mereka ini seperti punya ego sebagai orang yang lebih intelektual, jadi yang terjadi malah adu gengsi. Kalau rapat bukan nyari titik temu, malah kami sering disanggah. Padahal program atau kegiatan yang mereka tawarkan itu ya sudah kami lakukan,” sambungnya. 

Bikin kesal sama mahasiswa sok kota yang enggan srawung dengan warga

Lebih lanjut, Safawi mengaku kerap kesal dengan sikap oknum mahasiswa KKN yang terkesan sok kota. Terlihat dari bagaimana cara mereka bersikap dengan warga desa asli. 

Safawi mencontohkan, misalnya saat kegiatan Agustusan berlangsung: alih-alih ikut membaur bersama warga atau anak-anak desa lain, sejumlah mahasiswa justru memilih bergerombol sendiri. 

“Antara kami Karang Taruna dengan mahasiswa juga nggak nyatu. Ada sekat,” ujar Safawi. 

Bahkan, Safawi juga pernah mendapati, saat Karang Taruna dan warga tengah seru-serunya mengikuti kegiatan Agustusan, ada satu-dua mahasiswa perempuan dengan wajah jutek memilih melenggang pergi: kembali ke posko. Alasannya lokasi acara Agustusan terlalu kemproh karena memang sedang ada lomba yang berhubungan dengan air. 

Jangan ulangi program yang sudah ada dan berjalan

Safawi secara pribadi—tidak mewakili warga desanya—menyebut keberadaan mahasiswa KKN dengan format dan fokus yang begitu-begitu saja akhirnya terasa tidak relevan

Dalam dua tahun terakhir, ia masih mendapati mahasiswa KKN yang datang dengan membawa program-program klise: program-program yang sebenarnya sudah ada. Bahkan untuk sekadar membuat kegiatan Agustusan pun klise. 

“Aku nggak benci dengan mahasiswa KKN. Tapi kalau cuma gitu-gitu aja, mengulangi apa yang sudah ada dan jalan, jatuhnya malah seperti formalitas belaka,” tegas Safawi. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Lomba Agustusan di Desa Jadi Toxic dan “Merusak” Anak Muda karena Terpapar Konten Kreator, Tidak Seasyik Dulu atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Exit mobile version