Bengkel motor tidak sekadar menjadi tempat servis motor. Ada pelanggan yang mendapat pinjaman motor ketika kendaraannya harus menginap, pelanggan yang mendapat harga lebih murah karena kondisi ekonominya, ada pula pelanggan perempuan yang sengaja diajak ngobrol lebih dulu agar paham kerusakan motornya dan tidak asal mengganti komponen.
***
Pagi itu saya mampir ke sebuah bengkel motor rumahan milik Martono (45-an), tetangga saya di desa. Saya datang dengan urusan sederhana: mengganti oli motor. Namun, obrolan kami justru membawa saya pada cerita lain.
Di tengah banyaknya kasus dan keluhan pengendara motor yang kena harga nuthuk di Jogja, mungkin bengkel Martono ini yang masih melakukan pelayanan dengan baik. Martono tidak menganggap semua bengkel motor rumahan pasti memberikan harga nuthuk. Ia hanya bercerita tentang cara yang selama ini ia terapkan di bengkelnya.
Sebelum membuka bengkel sendiri pada 2020, Martono bekerja sebagai montir resmi di AHASS (Astra Honda Authorized Service Station). Menurut pengakuannya, ia menghabiskan hampir dua dekade di bengkel resmi tersebut sebelum akhirnya dirumahkan.
Ia kemudian membawa keterampilan dan pengalamannya ke rumah. Bengkelnya memang belum besar. Namun, dari usaha itulah Martono mampu membiayai pendidikan anaknya hingga lulus dari UGM pada 2024.
Berawal dari montir AHASS, berakhir di bengkel motor rumahan
Martono tidak memulai usaha bengkel dari nol. Ia sudah membawa pengalaman panjang sebagai montir ketika membuka bengkel sendiri pada masa pandemi. Perbedaannya hanya satu: sekarang ia bekerja untuk dirinya sendiri dan berhadapan langsung dengan pelanggan.
“Saya kasaran e kalau jualan jujur, ya insyaallah berkah, Mas. Tapi kalau nuwun sewu maunya bohong atau nuthuk harga gitu ya nggak banyak yang mau langganan,” ujar Martono, Rabu (23/09/2026).
Menurutnya, hubungan dengan pelanggan menjadi modal yang tidak kalah penting daripada kemampuan memperbaiki motor. Pelanggan datang bukan hanya sekadar servis motor, tetapi juga karena mereka membutuhkan orang yang bisa dipercaya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada kendaraan mereka. Buat Martono, bengkel motor rumahan tetap harus memiliki tanggung jawab yang sama: memperbaiki motor tanpa membuat pelanggan merasa sedang dimanfaatkan.
Pelanggan perempuan di bengkel motor diajak ngobrol dulu
Salah satu kebiasaan Martono muncul ketika pelanggan perempuan datang untuk memperbaiki motor atau servis motor. Ia tidak langsung mengganti komponen ketika menemukan bagian motor yang bermasalah. Ia lebih dulu menjelaskan kondisi kendaraan dan menawarkan solusi paling sederhana.
“Mbak, ini sebenarnya bisa saja ganti, tapi saya akali dulu pakai cara begini. Biar nanti kita lihat apakah ini hanya memang kendor atau memang harus ganti,” kata Martono, menirukan percakapannya dengan pelanggan.
Ia juga kerap mengingatkan soal perawatan sederhana.
“Mbak, ini kalau oli harus rutin diganti sebulan sekali ya, biar nanti mbaknya juga nggak repot kalau rusaknya parah,” ujarnya.
Martono punya alasan mengapa ia lebih banyak mengajak pelanggan perempuan berdiskusi.
“Kalau cewek itu taunya cuma beres, Mas. servis motor, bayar, kelar. Nggak tahu kalau nanti ternyata ditipu sama montirnya gimana. Makanya sering saya ajak ngobrol dulu biar sama-sama terbuka aja dan sama kepenaknya,” katanya.
Kalimat Martono tentu merupakan pandangannya sendiri, bukan gambaran tentang semua pelanggan perempuan. Namun, kebiasaan tersebut menunjukkan satu hal: ia ingin pelanggan memahami apa yang terjadi pada motornya sebelum mengeluarkan uang.
Motor Martono bisa dipinjam kalau motor pelanggan harus menginap di bengkel motor
Kebaikan lain yang baru saya ketahui ketika Martono bercerita soal pelanggan yang harus meninggalkan motornya di bengkel. Jika servis motor atau perbaikan membutuhkan waktu lebih lama, ia terkadang menawarkan motor miliknya untuk dipakai pelanggan.
“Biasanya kalau ada motor yang nginep sini saya tanyain ada motor lain nggak. Kalau nggak ada saya suruh pakai motor saya dulu,” kata Martono.
Saya kemudian mencoba memastikan cerita itu kepada Sidiq, salah satu pelanggan Martono. Sidiq membenarkannya.
“Benar, Mas. Sering banget Pak Martono ini kalau ada motor yang nginep pasti dikasih pinjaman motor. Kalau pelanggan nggak mau, kadang Pak Martono tetap maksa,” ujar Sidiq.
Bagi pelanggan yang masih harus bekerja, kuliah, atau menjalankan aktivitas sehari-hari, motor yang menginap bisa menjadi masalah tersendiri. Martono memilih menyelesaikan masalah itu dengan cara yang sederhana: meminjamkan motornya. Tidak ada tarif rental. Tidak ada perhitungan tambahan.
Ada harga saudara untuk pelanggan yang sedang pas-pasan
Sidiq juga menceritakan kebiasaan lain Martono yang menurutnya membuat pelanggan bertahan. Ia menyebut istilahnya sebagai “harga saudara”. Kadang biaya servis motor di bengkel motor Martono jauh lebih ‘bersaudara’ daripada bengkel lainnya.
Martono terkadang menjual onderdil kepada pelanggan dengan harga di bawah harga normal yang seharusnya ia kenakan setelah memasukkan ongkos pemasangan dan keuntungan.
Martono memberi contoh v-belt yang ia beli dengan harga tertentu. Jika harga normal setelah pemasangan seharusnya Rp50 ribu, ia bisa mengatakan kepada pelanggan bahwa harganya cukup Rp45 ribu. Selisih Rp5 ribu itu ia relakan.
“Sering, Mas, orang-orang itu nggak percaya sama harganya. Makanya sering ngasih saya tip, ya sekadar uang rokok. Padahal saya nggak pernah minta,” ujar Martono.
Sidiq mengatakan kebiasaan itu menjadi salah satu alasan dirinya tetap kembali ke bengkel Martono. Tentu, harga murah bukan satu-satunya ukuran pelayanan bengkel. Pelanggan juga perlu mengetahui harga suku cadang, ongkos pengerjaan, serta komponen apa saja yang benar-benar perlu diganti.
Di tengah isu ‘harga nuthuk’, Martono memilih memelihara kepercayaan
Istilah “nuthuk” memang bukan hal asing di Yogyakarta. Dalam beberapa unggahan di media sosial khususnya Threads banyak yang mencari rekomendasi bengkel motor rumahan yang pelayanannya oke dengan harga yang masih masuk akal. Namun bukan berarti semua bengkel motor rumahan di Jogja menggunakan harga nuthuk tersebut.
Justru yang menarik dari cerita Martono adalah bagaimana ia memilih jalan sebaliknya. Baginya, pelanggan yang percaya akan kembali. Kini Martono bahkan mempekerjakan dua orang untuk membantunya karena pekerjaan di bengkelnya semakin banyak.
“Ini kalau saya tandangi sendiri ya repot mas, bisa meriang,” katanya sambil tertawa.
Di bengkel motor kecil di rumahnya, kejujuran itu tidak selalu muncul dalam bentuk besar. Kadang bentuknya hanya menyarankan pelanggan tidak perlu mengganti onderdil, pinjaman motor agar pelanggan tetap bisa beraktivitas, atau hanya potongan Rp5 ribu yang tidak pernah tercatat sebagai keuntungan.
Bagi Martono, mungkin itu sekadar cara bekerja. Bagi pelanggan seperti Sidiq, kebiasaan-kebiasaan kecil tersebut justru membuat sebuah bengkel motor terasa seperti tempat milik saudara sendiri.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Menyepelekan Pentingnya Servis Jok Motor, Berbulan-bulan Pantat Jadi Korban atau liputan Muchamad Aly Reza lainnya di rubrik Liputan
