Ibu Jadi Sayang Kucing padahal Awalnya Benci: Dirawat Seperti Anak Sendiri, Terpukul dan Trauma saat Anabul Mati dalam Dekapan

Membuat ibu sangat menyayangi kucing padal awalnya sangat tak suka. Setelah memelihara malah merawat seperti anak sendiri dan sangat terpukul ketika si anabul mati MOJOK.CO

Ilustrasi - Membuat ibu sangat menyayangi kucing padal awalnya sangat tak suka. Setelah memelihara malah merawat seperti anak sendiri dan sangat terpukul ketika si anabul mati. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Wacana memelihara kucing awalnya tidak pernah bisa terwujud karena selalu ditentang keras oleh ibu. Sebab awalnya ibu benar-benar sangat membenci peliharaan tersebut. Namun, setelah akhirnya memelihara, ibu justru memerlakukan si anabul seperti anak sendiri. Bahkan sangat terpukul saat si anabul mati. 

***

Berkali-kali ibu Nizam menyatakan kalau ia sangat membenci kucing. Ada saja alasannya. Misalnya, takut kencing, poop, atau muntah sembarangan di dalam rumah lah, makanannya kelewat mahal lah, dan lain-lain. 

Kata ibu Nizar, buat apa keluar uang banyak hanya buat memelihara dan merawat anabul. Mending uang buat ngurus diri sendiri. 

“Padahal aku sudah berulang kali bilang, soal itu nanti bisa dilatih. Soal makanan juga aku yang akan beli dari nyisihkan uang saku sekolah,” kata remaja 16 tahun tersebut, Kamis (26/3/2026).

Sekian kali membujuk, baru pada pertengahan 2025 lalu Nizar mendapat izin memelihara kucing oleh ibunya. Nizar sebenarnya agak terkejut. Karena ketika membujuk, ia sebenarnya sudah menebak bakal ditentang. Tapi saat itu sang ibu justru luluh dan malah membolehkan. 

Melihat anak-anak anabul, seperti melihat anak manusia yang lucu dan tanpa dosa

“Titik balik” ibu Nizar terjadi saat suatu ketika Nizar dan sang ibu mampir di rumah saudara yang selama ini dikenal sebagai pencinta kucing. Mereka mampir ketika anabul milik saudara baru seminggu melahirkan tiga ekor anak kucing. 

Tiga anak kucing itu tampak lucu-lucu. Apalagi suara “miaw-miaw”-nya yang masih terdengar imut. 

Di rumah saudara, Nizar mengelus-elus tiga ekor anak kucing itu dengan manja. Adegan itu memantik saudara untuk menawarkan satu anak kucing untuk Nizar adopsi. 

“Nggak, Mbak. Ibu nggak suka memelihara kucing,” ujar Nizar saat itu, setengah menggerutu. 

“Ya kalau mau bawa pulang satu. Tapi pokoknya kamu yang rawat. Ibu nggak ikut-ikut. Pokoknya pastikan nggak kencing, berak, atau muntah sembarangan,” jawab sang ibu. 

Nizar kaget. Di saat bersamaan juga kegirangan. Dalam benaknya saat itu, Malaikat siapa yang nyasar dan membisiki ibu agar membolehkannya memelihara kucing? Hewan yang selama ini tidak ibu sukai? 

Alasan sang ibu sulit dijelaskan. Namun, di kemudian hari akhirnya Nizar tahu, intinya ibu Nizar mengaku “tersentuh” melihat anak-anak kucing itu. Rasanya seperti melihat anak-anak manusia. Pada dasarnya lucu-lucu dan tanpa dosa. Bahwa kelak menjadi sosok menyebalkan, itu karena lingkungan yang membentuknya. 

Memelihara dan merawat kucing seperti anak sendiri: poop diceboki, dimandikan, hingga dikeloni

Siapa nyana, di rumah Nizar di sebuah desa di Jawa Tengah, si ibu yang justru lebih aktif merawat anak kucing tersebut. Lebih aktif ketimbang Nizar sendiri. 

“Ibu sampai nyindir-nyindir. Yang ngebet memelihara siapa, eh yang mengurus siapa hehe. Karena diam-diam, dia memang kelihatan sayang banget sama si anabul,” kata Nizar. 

Misalnya, sehabis si anak kucing itu poop, ibu Nizar dengan telaten membersihkan area pantatnya. Rutin membersihkan kandangnya. Bahkan tak pernah absen untuk memandikannya.

Sesekali juga saat si anabul menerobos masuk kamar ibu Nizar, alih-alih mengusir, ibu Nizar membiarkan saja si anabul ndusel-ndusel. Bahkan sampai mengeloninya. Benar-benar seperti anak sendiri. 

Ibu Nizar memang melakukan itu sambil ngedumel. Namun, Nizar tahu, ibunya sebenarnya tulus melakukannya. 

“Pas masih bocil banget si anabul, hal pertama yang dilakukan ibu kalau bangun tidur itu ngecek ke kandang. Terus bukain kandang biar anabul main-main di halaman rumah,” ujar Nizar. 

Selalu mencari-cari kalau si kucing tidak kelihatan di rumah

Kucing peliharaan Nizar itu tumbuh menjadi kucing yang sangat aktif. Yang menggemaskan adalah: dia sering menemani ibu Nizar saat sedang masak atau saat makan. Benar-benar seperti keluarga sendiri. 

Kalau Nizar pulang sekolah atau saat sang ibu pulang kerja, si anabul menjadi sosok pertama yang akan berlari keluar rumah—menyambut. 

Lama-lama itu memberi ikatan tersendiri antara si kucing dengan Nizar dan ibu Nizar. Sehingga, ketika kucing itu tidak kelihatan agak lama, ibu Nizar pasti akan mencari-cari: mendesak Nizar agar mencari. 

“Ibu takut si anabul diracun orang, atau ditabrak kendaraan kalau main-main di jalan,” kata Nizar. 

“Tapi memang sebegitu sayangnya ibu sama si anabul. Makanan kalau udah hampir habis, pasti ngasih uang ke aku buat beli. Padahal dulu kan kesepakatannya aku yang beli pakai uang sendiri. Bahkan minta aku kalau ada susu khusus kucing, beli saja sekalian,” lanjutnya. 

Terpukul saat anabul diracun orang, mati dalam dekapan ibu

Hari yang buruk itu tiba. Dalam 24 jam kucing Nizar tidak kelihatan di rumah. Dipanggil-panggil tidak mendekat, dicari-cari di sekitar rumah tidak ketemu. 

Esok harinya, kucing tersebut ditemukan tekapar lunglai dengan mulut berbusa di tepi jalan. Seorang teman Nizar bersaksi: sebelum terkapar, kucing Nizar sempat main-main di rumah seorang tetangga. 

Kucing itu dipulangkan dalam kondisi napas yang sudah patah-patah dan mata yang sudah tidak merespons cahaya. Ibu Nizar tampak mendekapnya. Menatap sendu kondisi si anabul. 

Ibu Nizar tidak banyak bicara. Hanya menatap detik demi detik kondisi si kucing keracunan yang menuju ajal tersebut. Sampai akhirnya si kucing mengembuskan napas terakhir dalam dekapan ibu Nizar. 

“Ibu sendiri yang menggali kubur Nizar. Ditaruh di belakang rumah, dekat aliran air. Terus ditanami mangga,” jelas Nizar. 

Sejak hari itu, ibu Nizar masih belum mau memelihara kucing lagi. Katanya sih malas repot. Walaupun Nizar tahu belaka, sang ibu trauma dengan kematian kucing peliharaan sebelumnya. Trauma karena nyatanya, di dunia ini, masih banyak orang yang tidat suka kucing. Tidak hanya sekadar tidak suka, tapi benar-benar punya hasrat melenyapkan nyawa

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version