Sebetulnya, Honda Scoopy bukanlah pilihan utama Ari Dwi (23) saat membeli motor untuk pertama kali. Hanya karena orang tuanya menghadiahi Ari tanpa diminta, mau tak mau ia akhirnya menerima. Tanpa disangka, Honda Scoopy jadi motor favoritnya hingga kini, bahkan sering ia gunakan untuk mudik dari Surabaya ke Jombang, lalu lanjut ke Lumajang.
Dengan kecepatan 60 kilometer per jam, Ari bisa menghabiskan waktu selama 2 jam dari Surabaya ke Jombang dengan jarak sekitar 88 kilometer. Sementara, ia harus menempuh perjalanan selama 5 jam untuk pergi dari Jombang ke Lumajang yang jaraknya lebih dari 170 kilometer.
Perempuan Surabaya itu rela menghabiskan waktu di jalan untuk menemui keluarganya yang ada di desa, serta mengunjungi makam para leluhurnya. Hitung-hitung healing, karena sudah suntuk dengan suasana kota.
Gaya retro Honda Scoopy bikin jatuh hati
Terhitung, sudah 8 tahun ini Ari menggunakan Honda Scoopy berwarna coklat miliknya. Tepatnya sejak duduk di bangku kelas 2 SMK hingga sekarang bekerja. Salah satu alasan yang bikin Ari tergila-gila adalah idling stop system (ISS) yang ada pada Honda Scoopy.
“Jadi mesinnya bakal otomatis mati kalau kita berhenti selama lebih dari 3 detik, apalagi di Surabaya itu terkenal dengan macetnya kan. Fitur ini bikin hemat bensin,” kata Ari yang asli orang Surabaya, Selasa (24/2/2026).
Untuk menghidupkan Honda Scoopy kembali, Ari hanya perlu memutar gas tanpa perlu menekan tombol starter, sehingga tak perlu buru-buru menghidupkan saat berada di traffic light. Selain itu, ada pula fitur suara answer back system yang memungkinkan motor bersuara ‘bip’ diiringi dengan lampu sein yang berkedip.
“Buat aku yang pelupa, fitur ini membantu banget apalagi saat di parkiran,” ucapnya.
Fitur-fitur di atas memang disediakan khusus dari Honda. Mulai dari motor PCX, Vario, BeAT, ADV, dan Scoopy. Namun, dari semua jenis motor Honda, ayah Ari lebih menyukai tampilan Scoopy yang terlihat lucu untuk anak perempuan bungsunya.
“Katanya, beliau suka dengan desain retro-nya yang manis. Nggak banyak juga motor matic yang punya desain seperti ini,” ujar Ari.
Menyibak kemacetan Probolinggo ke Lumajang
Namun, Ari baru sadar. Membeli motor seharusnya tidak hanya dilihat dari segi tampang melainkan performa. Perempuan asal Surabaya itu mengaku Honda Scoopy miliknya tak cocok untuk dipakai berkelana atau mudik ke luar daerah, khususnya Jombang–tempat kelahiran orang tuanya.
Meski terkesan sebagai motor andalan keluarga, Honda Scoopy nyatanya punya kekurangan yang tertutupi berkat desainnya yang lucu. Tahun 2024 lalu, untuk yang ketujuh kalinya, Ari mudik dari Surabaya ke Lumajang. Dengan Honda Scoopy-nya, Ari membonceng ayahnya yang duduk di belakang.
Kemacetan pun tak terhindarkan saat mereka memasuki area Probolinggo. Di sana, Ari harus bertarung bersama pemudik lainnya untuk menyalip bus dan truk berukuran besar. Masalahnya, tampilan bulat Honda Scoopy yang tak ramping dibanding motor lainnya, bikin Ari tak bisa menyelinap asal-asalan di sela-sela mobil, bus, atau truk.
“Kalau sudah begitu, aku mending kasih jarak jauh karena takut malah keserempet, terus jatuh dan kelindas,” kata Ari.
Bahaya mengintai saat melewati tanjakan dengan Honda Scoopy
Beberapa jam berlalu, Ari akhirnya berhasil terbebas dari kemacetan. Namun, tantangan datang lagi saat ia melintasi area Leces, Probolinggo–jalan menanjak di sekitar pabrik kertas. Konon, pabrik yang sudah ada sejak zaman Hindia Belanda itu menjadi pabrik kertas terbesar di Jawa, tapi kemudian pailit pada 2018, hingga akhirnya dibubarkan di tahun 2023.
Siapa sangka, jalanan yang biasanya sepi, kini malah ramai saat musim lebaran. Jalanan itu, kata Ari, ibarat jalan tikus bagi pengendara motor yang ingin menghindari kemacetan. Tapi bukannya terhindar dari kemacetan, Ari dan ayahnya justru tak terlepas dari musibah.
“Awalnya, aku yang bonceng ayah tapi karena jalannya menanjak aku minta gantian agar lebih aman. Tapi ayah malah nggak mau, katanya biar aku sekalian latihan padahal kondisi di sekitar Leces itu lagi macet dan chaos banget,” tutur Ari yang masih ragu-ragu memenuhi permintaan ayahnya.
Bingung dengan kondisi yang tak seperti biasanya, ayah Ari mulai mencari informasi penyebab kemacetan di Jalan Leces. Rupanya, ada kecelakaan antara mobil dan mobil yang menyebabkan salah satu kaca depan mobil pecah dan penyok.
Mereka pun memutuskan menunggu selama beberapa menit hingga jalanan kembali lancar. Tak lama kemudian, jalanan mulai lengang. Setidaknya, pengendara motor bisa saling menyalip. Melihat kondisi tersebut, ayah Ari makin mantap mendorongnya berlatih mengendarai Honda Scoopy di jalan tanjakan.
Tampilan lucu Honda Scoopy yang menipu
Ari yang awalnya yakin karena merasa bawaan motornya ringan selama ini, jadi ragu saat berada di jalan tanjakan. Pikirannya pun kalang kabut, takut membayangkan dirinya justru membahayakan nyawa keluarganya karena tidak bisa memainkan rem dengan benar. Salah-salah, mereka bisa meluncur ke bawah dan menabrak pengendara lain.
“Dari situ, aku sudah panik banget karena mau nyalip juga nggak bisa. Mau stuck di sana juga capek tarik rem,” ujarnya.
Apalagi, rem Honda Scoopy terbilang standar. Tidak terlalu istimewa karena sistemnya memang menyasar pemula dan pengguna muda. Bukan rahasia lagi kalau pengendara Honda Scoopy sering merasa rem bagian belakangnya kurang pakem atau menggigit.
Hal ini bikin kampas rem cenderung cepat habis. Apalagi, Ari sering membawa beban berat dalam jok besarnya saat mudik, sehingga pengereman terasa makin kasar.
Tak hanya Ari, Ipang (38) yang juga merupakan pengguna Honda Scoopy berwarna merah merasa, motor miliknya tak cocok digunakan untuk ngebut di jalan.
Meskipun kapasitas tangkinya lebih besar dari Honda Mio dan BeAt, kata dia, Honda Scoopy rawan dipakai dengan kecepatan lebih dari 60 kilometer per jam. “Setirnya goyang-goyang nggak nyaman dipakai,” ujarnya.
Lebih dari itu, beberapa kekurangan fitur Honda Scoopy di area penting juga bisa membahayakan penggunanya di jalan. Untungnya, selama perjalanan dari Surabaya ke Lumajang itu, Ari dan ayahnya masih selamat. Pengalaman itu bikin Ari sadar, pentingnya membeli motor dengan mengutamakan performa ketimbang visual.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Nasib Punya Motor Honda ADV 160: Jadi Simbol Kesuksesan di Desa, tapi Diolok-olok dan Dicap Norak oleh Orang Kota atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
