Bagi sebagian besar masyarakat, hajatan pernikahan adalah tradisi yang sangat melekat sekaligus simbol kesuksesan sebuah keluarga. Menggelar pesta yang meriah dengan ratusan bahkan ribuan tamu undangan, sering dianggap sebagai pencapaian tertinggi orang tua dalam mengantarkan anaknya ke gerbang rumah tangga.
Namun, di balik kemegahan acara, hajatan kerap kali menyimpan masalah finansial. Pesta singkat itu justru berpotensi “memiskinkan” pasangan yang baru saja menikah.
Realitas pahit inilah yang salah satunya masih membekas bagi Dito (28). Lelaki asal Magelang ini mengaku, berbulan-bulan setelah resepsi, penyesalan itu masih ada.
Tabungan selama 7 tahun tak tersisa
Dito menceritakan bagaimana tabungan masa depannya lenyap tak bersisa. Sebagai pekerja biasa, Dito sudah berhitung matang sebelum memutuskan menikah.
Ia dan pasangannya butuh waktu bertahun-tahun hidup hemat demi mengumpulkan tabungan sebesar Rp50 juta. Rencana awal mereka, uang itu akan dipakai murni untuk membayar DP KPR sebuah rumah mungil di pinggiran kota.
Sisanya, mereka hanya ingin menikah sederhana di KUA yang disaksikan keluarga inti.
“Tujuh tahun, Mas. Tujuh tahun kami rela nahan nggak beli ini itu, ngumpulin gaji buat masa depan. Eh, ujungnya habis juga dalam semalam,” kisah Dito, Sabtu (25/4/2026).
Namun, rencana itu buyar seketika karena ia kalah suara oleh keluarga besarnya. Pihak keluarga menuntut hajatan besar dengan alasan sudah sewajarnya pernikahan anak dirayakan.
Di masyarakat kita, anak acap kali tidak punya kuasa penuh atas acara pernikahannya sendiri.
“Abis hajatan, malah utang yang tiba-tiba numpuk.”
Uang habis buat memberi makan “orang asing”
Dito sadar betul, orang tuanya tidak bersikap egois apalagi berniat memeras keringat anaknya. Saat hajatan berlangsung, Dito melihat ibunya menangis terharu.
Sang ibu tampak begitu bangga karena bisa mengumpulkan dan menjamu saudara-saudara jauh serta tetangga satu kampung. Sayangnya, harga dari air mata itu teramat mahal bagi kehidupan rumah tangga Dito kemudian hari.
“Asli Mas, saya nyesek kalau inget,” kata Dito sambil menggelengkan kepala. “Uang puluhan juta hasil habis buat ngasih makan orang-orang yang bahkan saya nggak kenal. Ujung-ujungnya sekarang saya sama istri masih numpang di rumah mertua.”
Bagi Dito, hajatan adalah momen di mana harapan memiliki rumah sendiri menguap dalam semalam. Tabungan rumah itu berubah bentuk menjadi hidangan yang dinikmati oleh orang asing.
Hajatan cuma buat “membeli” omongan tetangga
Jika Dito kehilangan kesempatan mencicil rumah, pengalaman Tria (27) justru menyoroti sisi lain dari tuntutan adat. Perempuan asal Kulonprogo ini menjabarkan “kekalahan” rencana pernikahannya dengan realitas yang selama ini jadi kewajaran di banyak keluarga.
Realitas pertama, adalah soal ketakutan orang tua pada sanksi sosial. Awalnya, Tria berkeras hanya ingin menikah di KUA saja. Namun, mendengar itu, ibunya langsung panik.
“Di lingkungan tempat tinggal kami, tidak menggelar hajatan dianggap aib,” kata Tria.
“Ibu terutama ya takut kalau acaranya biasa-biasa aja dianggapnya pelit lah, nggak ngumumi lah, atau bahkan hamil duluan,” imbuhnya.
Pada titik ini, Tria sadar bahwa hajatan terpaksa dibuat murni untuk “membeli” validasi lingkungan sekitar agar keluarganya tidak jadi bahan omongan.
Omong kosong balik modal
Tak sampai di situ. Tria yang khawatir soal kurangnya biaya diyakinkan oleh ibunya dengan sistem “balik modal”. Ibunya bilang, kalau dirinya nggak usah takut kurang biaya karena tamu pasti banyak.
“Keluarga itu punya catatan dulu pernah datang ke hajatan siapa aja. Nyumbang di desa itu kan harus dibalikin lagi suatu hari nanti. Nah, ibu bilang mereka ini bakal balikin sumbangannya di hajatan saya.”
Kata Tria, ibunya sangat yakin bahwa uang hasil resepsi hajatan nantinya pasti bisa menutup semua biaya vendor. Sayangnya, kenyataan di lapangan meleset jauh.
Mitos “balik modal” itu hancur saat amplop sumbangan dihitung. Memang benar, tetangga yang dulu disumbang ibunya membalas dengan nominal yang sama. Masalahnya, jumlah keseluruhan masih kurang buat menutup semua pengeluaran.
“Hasilnya nombok. Utang di mana-mana. Dan siapa coba yang punya kewajiban ngelunasin kalau bukan saya dan suami?”
Mempelai cuma jadi pajangan saat hajatan
Bahkan, Tria juga sadar ia hanya dijadikan “pajangan”. Saat hari H tiba, mayoritas tamu yang datang ternyata adalah kenalan bapak dan ibunya.
Bagi Tria, pesta itu murni menjadi “panggung” untuk membuktikan bahwa orang tuanya berhasil bikin hajatan besar bagi anaknya.
“Padahal saya dan suami pengennya kecil-kecilan aja, ngundang teman dekat. Syukuran, udah. Nggak perlu sampai ada dangdutan segala.”
Tria pun berpikir, kalau anak muda seperti dirinya adalah korban benturan generasi antara anak dan orang tua. Keluarga seringkali memaksakan kehendak mereka, tak peduli seperti apa keinginan mempelai.
“Percuma kita merencanakan nikah dari A sampai Z. Ujung-ujungnya kudu ikut rencana orang tua.”
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Dilema Hadiri Nikahan Rekan Kerja di Jakarta, Gaji Tak Seberapa tapi Gengsi kalau Isi Amplop Sekadarnya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
