Seiring fatwa haram MUI Jawa Timur terhadap sound horeg, seorang guru ngaji akhirnya berani secara terbuka menegur kelompok tersebut. Namun, teguran tersebut justru berbalik menjadi makian sok suci hingga cap orang kolot yang tidak paham trend anak muda.
***
Pernyataan seorang pengusaha sound horeg, Setyo Budi Mularso, belakangan menjadi sorotan tajam publik usai potongan videonya beredar di media sosial.
Dalam acara Catatan Demokrasi dengan tema “Sound Horeg: Musik Berujung Petaka” yang ditayangkan secara langsung oleh salah satu tv nasional, Setyo dengan lepas mencaci MUI Jawa Timur karena telah mengeluarkan fatwa haram terhadap sound horeg.
Fatwa haram tersebut sebenarnya sudah dikeluarkan sejak Juli 2025 lalu. Hanya memang, sound horeg justru semakin menggeliat, terutama di Jawa Timur.
Bukan tanpa alasan kenapa karnaval sound system dengan suara menggelegar ini menuai penentangan dari sebagian banyak masyarakat. Selain suara yang mengganggu, baru-baru ini dilaporkan karnaval sound horeg di Jawa Timur bahkan memakan korban jiwa. Dalam kurun sekitar sebulan ini, tiga orang dilaporkan meninggal dunia dalam peristiwa yang berkaitan dengan karnaval tersebut.
“MUI Jawa Timur itu bagi saya sendiri, itu sebuah kegoblokan MUI-nya sendiri. Kenapa? Karena MUI itu harusnya itu menjaga. Ini anak-anaknya loh,” ujar Setyo mencaci, yang kemudian viral di media sosial.
“Dikit-dikit haram, matiin rezeki orang!” Kata pelaku sound horeg
Peristiwa semacam itu ternyata juga terjadi di akar rumput, sebagaimana diungkapkan oleh Hardi (27), pemuda asal Jawa Timur yang beberapa kali menitip keresahannya perihal sound horeg kepada Mojok. Peristiwa serupa terjadi pada seorang guru ngaji di desa Hardi, yang tidak lain masih terhitung sebagai kerabat Hardi sendiri.
Hardi bercerita, ketika MUI Jawa Timur memfatwakan haram sound horeg, guru ngaji desa tersebut menyambutnya dengan emosional: Akhirnya diharamkan, karena selama ini sindiran dan berbagai bentuk penyadaran perihal ketertiban tidak mempan.
“Tapi sound horeg sudah terlanjur mengakar kuat di Jawa Timur. Termasuk di desa-desa. Waktu fatwa itu keluar, aku dengar lah selentingan-selentingan dari para pelaku sound horeg. Mereka dengan tegas, ‘Bodo amat, dikit-dikit kok haram, matiin rezeki orang’. Begitu,” jelas Hardi, Kamis (10/9/2026).
Alhasil, perasaan emosional guru ngaji—kerabat Hardi—tadi menguap sisa-sia. Sebab, di hari-hari berikutnya, ia masih mendapati bagaimana warga desanya justru semakin “kegilaan” dengan karnaval ini.
Kata hardi, yang paling disesalkan dan membuat dongkol hati si guru ngaji desa itu adalah karena karnaval sound horeg dinilai merusak generasi muda desa, menjerumuskan mereka pada hal-hal tidak senonoh.
“Seperti yang kuceritakan, cewek-cewek pakai baju seksi, dandan menor. Bagiku sendiri itu sudah sangat mengganggu, apalagi bagi kerabatku yang guru ngaji itu,” tutur Hardi.
Bangku ngaji sepi, guru ngaji kehilangan marwah di hadapan artis sound horeg
Pada Agustus 2026 lalu, saat karnaval sound horeg di Jawa Timur tengah riuh-riuhnya, kerabat Hardi semakin mengeluh. Bahkan menyebut fenomena sound horeg yang tengah menjangkiti masyarakat sebagai tanda-tanda akhir zaman.
Bagaimana tidak. Karnaval sound horeg ini tidak kenal waktu. Dari siang-sore sebagai waktu mengaji madrasah dan TPQ di desa Hardi. Kemudian ada juga yang berlangsung malam.
“Kalau siang sampai sore gitu biasanya kan checksound. Malamnya baru pentas. Kerabatku yang ngajar Al-Qur’an tiap sore kehilangan murid karena sejak checksound anak-anak sudah pada nonton. Kalau diamati juga pada nggak salat,” ungkap Hardi.
“Hanya satu-dua yang masih datang. Sisanya larut dalam arak-arakan. Wajar saja kalau kerabatku marah bukan main,” sambungnya.
Guru ngaji kerabat Hadi itu sampai bergumam: Anak-anak sekarang lebih suka joget-joget maksiat sembari berebut foto dengan “artis” sound horeg daripada berlomba-lomba buat duduk paling depan saat ngaji. Belum lagi, fenomena sound horeg di desa Hardi identik dengan minuman keras. Biasanya panitia membawa sebotol air mineral yang isinya cairan merah kehitaman. Setiap yang menenggak botol tersebut pasti akan tampak teler. “Biasa, anggur merah,” kata Hardi.
“Sudah jadi ajang pamer aurat, meninggalkan salat, hingga mabuk-mabukan. Itulah titik kemarahan kerabatku,” ucap Hardi.
Mengingatkan kebaikan malah dicap sok suci dan kolot
“Astaghfirullah, memang ini sudah akhir zaman,” gerutu guru ngaji desa tersebut saat baru-baru ini melihat potongan video pengusaha sound horeg mencaci MUI, yang diperlihatkan oleh Hardi.
Sebelumnya, kata Hardi, kerabatnya itu ternyata sudah sempat mengingatkan seorang panitia sound horeg di desanya perihal fatwa haram MUI. Tidak hanya itu, guru ngaji itu juga menyinggung pemandangan tidak senonoh yang dipertontonkan setiap kali ada karnaval sound horeg.
“Kerabatku dibentak dengan nada tinggi, disebut sok suci. Dia langsung kaget. Tapi di titik itu dia sudah putus asa, karena katanya kelompok pencinta sound menggelegar ini mirip Bani Israil hahaha, bebal, nggak bisa dinasihati,” tutur Hardi.
Tidak berhenti di situ, kerabat Hardi juga disebut sebagai orang kolot yang hidupnya terlalu lurus dan tidak pernah mengalami masa muda. Sehingga, ketika saat ini anak-anak muda ingin mengekspresikan trend-budaya mereka sendiri, orang seperti kerabat Hardi si guru ngaji dianggap terlalu cerewet dan mengganggu.
Pada akhirnya, karnaval sound horeg memang masih akan terus eksis. Orang-orang seperti Hardi dan kerabatnya yang tidak suka hanya bisa memendam jengkel. Merasa buntu harus pakai cara apa lagi untuk meluruskan bagian yang mereka anggap melenceng dari sound horeg.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Ada Manfaat, Banyak Mudharat: Bagaimana Kita Seharusnya Memandang Fenomena Sound Horeg Hari Ini? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
