Beberapa orang percaya, masalah keuangan yang terasa kurang terus-menerus tidak hanya sekadar salah kelola. Tapi ada juga kaitannya dengan persoalan spiritual.
Keuangan bisa terasa seret bahkan ketika gaji sudah lebih dari cukup. Itu bisa disebabkan dari “dosa-dosa kecil” yang sudah terlanjur menjadi kebiasaan, sehingga membuat uang atau gaji berapa pun yang masuk terasa tetap kurang.
Catatan: Teman-teman pembaca tidak harus percaya sepenuhnya. Tapi tulisan ini berdasarkan pengalaman empiris yang barangkali bisa diambil pelajarannya.
Masalah keuangan bisa jadi karena suka bohongi orang
Ada masanya ketika kuliah dulu, Hikam (28) kerap berbohong kepada orang tuanya. Misalnya, ia minta dikirim uang bulanan untuk bayar kos atau lain-lain. Namun, nyatanya uang itu tidak ia gunakan secara semestinya.
Alhasil, uang sudah ludes sebelum tanggal kiriman. Jika sudah begitu, ia akan bohong lagi ke orang tua: minta kiriman lagi dengan alasan buat bayar keperluan kuliah atau organisasi.
“Tapi aku merasakan dampakanya. Kehidupanku kayak jadi serba seret. Uang berapa pun kiriman orang tua, bisa langsung ludes,” ungkap pemuda asal Jawa Tengah itu, Senin (9/3/2026).
Tak hanya itu, akibat Hikam yang sering berbohong dan menyalahgunakan uang kiriman orang tua, ternyata berimbas juga ke kondisi finansial orang tua: mengalami masalah keuangan yang berlarut-larut.
“Aku pernah ditegur temanku. Jangan suka bohongi orang tua. Apalagi soal uang. Karena pengaruhnya nanti ke rezeki orang tua juga,” jelas Hikam.
Pada akhirnya Hikam membuktikan nasihat dari temannya tersebut. Sejak hati-hati betul dalam menggunakan uang kiriman orang tua, keluarganya tidak lagi mengalami masalah keuangan. Memang tidak lantas punya uang melimpah. Tapi setidaknya dicukupkan oleh Tuhan.
Perhitungan sama orang tua sendiri
Masalah keuangan yang Hikam alami memang tidak jauh-jauh dari relasinya dengan orang tuanya. Termasuk ketika ia sudah lulus kuliah dan bekerja.
Awalnya Hikam terbilang sangat perhitungan kalau soal berbagi. Bahkan ke orang tua dan adik sendiri pun bisa dibilang “pelit”.
“Alasanku, ya karena gajiku kan nggak besar. Buat hidupku sendiri saja masih kurang, ya masa aku bagi ke orang tua. Walaupun merasa bersalah juga, karena kalau orang tua lagi susah, aku nggak bisa bantu,” ucap Hikam.
Namun, potongan ceramah KH. Bahauddin Nursalim (Gus Baha) yang lewat di beranda YouTube menghentak kesadaran Hikam. Dalam potongan ceramah tersebut, Gus Baha cerita: pernah ada satu momen ketika uangnya tinggal sedikit, dan itu dihabiskan untuk merawat ibunda yang sakit.
Alih-alih menyesal karena uangnya ludes, Gus Baha justru merasa bangga. Sebab, ibu (dan orang kedua orang tua) telah mengorbankan banyak hal dalam hidupnya untuk menghidupi anak-anak. Masa anak mau perhitungan hanya untuk biaya pengobatan ibu yang tidak seberapa itu (misalnya).
Ceramah Gus Baha itu menampar Hikam. Membuat Hikam, meski sedikit, kemudian lebih sering menyisihkan uang ke orang tua. “Percaya nggak percaya, meski aku tahu gajiku pas-pasan, tapi entah kenapa selalu cukup buat hidup sebulan. Bahkan aku bisa nabung juga,” pungkas Hikam.
Masalah keuangan berangkat dari keluhan atas pemberian Tuhan
Sementara Hanifa (27) ada di tahap yang lebih transendental. Sebagai lulusan pesantren di Jawa Timur, Hanifa memegang teguh apa yang diajarkan kiainya perihal syukur dan berserah diri kepada Tuhan.
Hanifa percaya betul konsep dalam Q.S. Ibrahim: 7:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ٧
Artinya: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku (Allah) akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.
“Kalau aku syukur, aku percaya, entah ditambah nominal rezekinya, atau ditambah rasa cukupnya sehingga uang berapa pun terasa cukup,” kata Hanifa.
Dalam hidup, memang ada banyak hal yang di luar harapan dan ekspektasi. Misalnya, kerja ngoyo harapannya jelas gaji tinggi. Tapi nyatanya dapat gaji imut.
Situasi tersebut sering membuat orang—terutama di sekitar Hanifa—kemudian mempertanyakan takdir Tuhan. Karena kurangnya rasa syukur itulah yang kemudian membuat setiap rezeki selalu terasa kurang.
Berat buat berbagi (sedekah)
Hanifa menganut betul konsep “Berbagi (sedekah) jangan nunggu kaya” yang ia dapat dari pesantrennya dulu. Karena kalau tolok ukur berbagi harus kaya (berduit banyak), sedekah tidak akan pernah terjadi. Dan itu, secara spiritual, ternyata bisa menjadi biang masalah keuangan.
Hanifa mengutip Q.S Saba’: 39:
وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗ ۚوَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ
Artinya: Dan apa saja yang kamu infakkan (bagikan), Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik.
“Aku sendiri kan, alhamdulillah, kalau lihat orang kesusahan begitu, aku punya apa kubagi. Walaupun nggak banyak. Dan hidupku terasa cukup-cukup saja walaupun uang di dompetku nggak seberapa,” pengakuan Hanifa.
“Selain itu, kalau punya uang, kalau dibelanjakan untuk sesuatu yang halal dan bermanfaat. Karena kalau tidak, seperti curhatan teman-temanku, yang terjadi ya uang rasanya cepat habis terus,” pungkasnya.
FOMO dan tidak tahu skala prioritas
Selain persoalan spiritual di atas, “dosa kecil” lain yang, terutama terjadi di kalangan anak muda, adalah FOMO dan tidak tahu skala prioritas. Punya kecenderungan mengalokasikan uang (belanja) sesuatu berdasarkan gengsi dan sekadar tren.
Karena sifat gengsi dan tren yang terus berubah, alhasil uang berapa pun terasa tidak cukup. Begitu pengakuan sejumlah teman saat saya tanya: apa yang membuat uang di dompet/rekening mereka kerap terasa tidak cukup?
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Punya Tabungan Likuid untuk Jaga-jaga PHK Memang Penting, Tapi Banyak Pekerja RI Tak Sanggup karena Realitas Hidup atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
