Kritik hingga hujatan terhadap fenomena sound horeg nyatanya tidak membuat karnaval sound menggelegar di Jawa Timur ini meredup. Peminatnya masih banyak. Dan Agustus menjadi bulan yang masih tetap menyebalkan bagi orang-orang yang mendambakan ketenangan.
***
“Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia, Agustus Kita Getarkan Jawa Timur.” Begitu bunyi sebuah selebaran yang Magfira (22) temukan menempel di sejumlah sudut desanya di Jawa Timur, lengkap dengan informasi soal rute dan waktu pelaksanaan arak-arakan sound horeg.
Magfira membacanya dengan nafas panjang. Meski belakangan sudah tidak terlalu banyak diperbincangkan di media sosial, tapi Magfira mendapati bagaimana karnaval yang menurutnya problematik ini masih terus menggeliat di Jawa Timur. Selebaran tersebut bahkan sudah dipasang sejak Juli.
“Setelah fatwa haram MUI Jawa Timur, hujatan-hujatan di media sosial, kupikir ini bakal jadi fenomena sesaat. Ya sebagaimana banyak fenomena viral lain di Indonesia kan, habis booming terus hilang,” ujar Magfira, Sabtu (1/8/2026).
Maka Magfira heran betul karena ternyata karnaval ini bisa sustain. Peminatnya masih besar, terutama untuk acara Agustusan.
Karnaval sound horeg menjadi tradisi wajib, jadi adu gengsi antardesa
Meski fatwa MUI Jawa Timur mengharamkan karnaval sound horeg, apa yang terjadi di masyarakat justru sebaliknya: sudah menjelma menjadi tradisi wajib.
Bedanya dari tahun-tahun sebelumnya: jika sebelumnya karnaval sound horeg jadi event tanpa momentum khusus, semakin ke sini karnaval tersebut sudah diidentikkan dengan peringatan kemerdekaan RI di bulan Agustus.
“Sejak Juni di desaku sudah ada tarikan iuran per-KK. Modusnya buat memeriahkan Agustusan dan bikin desa kita jadi yang paling gong,” kata perempuan asli Jawa Timur tersebut.
Sejak Juli, Magfira kerap mencuri-curi dengar perbincangan anak-anak muda desa hingga kalangan bapak-bapak yang nyaris selalu update informasi: Desa B sudah sampai mana persiapannya, Desa C sudah mulai latihan untuk para penari latarnya, dan rencana-rencana untuk memoles sound horeg di desa Magfira semaksimal mungkin.
“Benar-benar jadi adu gengsi antardesa,” kata Magfira. “Benar-benar treatment-nya serius, harus maksimal, karena nggak mau kalah sama desa sebelah.”
Check sound dan gladi bersih para penari tak kenal siang-malam
Sejak menjelang penghujung Juli lalu, situasi di desa Magfira di Jawa Timur sudah disibukkan dengan persiapan berupa check sound dan gladi bersih para penari latar. Kadang di jam-jam siang. Lebih sering di jam-jam malam (selepas Isya).
Sialnya, rumah Magfira berada tidak jauh dari halaman luas terbuka milik seorang warga yang menjadi tempat check sound dan gladi bersih.
“Lihat ibu-ibu, remaja-remaja SMA cewek maupun cowok pada latihan joget-joget sambil mengiringi musik jedag-jedug. Mereka ya ketawa-ketawa, kayak seru aja,” tutur Magfira.
“Paling sebel tentu kalau sound-nya udah disetel kenceng. Belum Agustusan udah bergetar,” sambungnya.
Magfira masih menyimpan kesal dengan tradisi ini. Tradisi yang sudah jelas-jelas dibenci netizen karena dianggap mengganggu. Masalahnya, masyarakat di desanya menyukainya. Jadi ya ia hanya bisa menerima situasi.
“Aku itu kasihan karena ada tetangga yang punya bayi atau orang sepuh yang sudah sakit-sakitan. Tapi ya nggak ada yang bisa protes, karena itu kesenangan mayoritas warga,” tutur Magfira.
Yang bisa Magfira lakukan paling-paling kalau momen Agustusan nanti ia memilih keluar entah ke mana untuk menjauhi gelegar sound horeg. Meskipun ia pesimis juga di sudut-sudut kabupaten kecil di Jawa Timur itu masih ada tempat yang benar-benar steril dari sound horeg.
Efek karnaval sound horeg: serasa jadi orang waras sekaligus orang aneh sendirian
Serupa, Hardi (27), pemuda asal Jawa Timur, juga heran bagaimana fenomena tersebut ternyata bisa terus eksis.
“Kalau kata orang sini, ya ini jadi hiburan wong cilik. Apa salahnya? Masa yang boleh punya hiburan cuma orang kota dan dengan cara mereka? Begitu,” ucap Hardi.
Bagi Hardi, pernyataan sejumlah warga desanya itu tidak sepenuhnya salah, bahwa orang desa pun layak punya hiburan dengan caranya sendiri.
“Kalau hiburan wong cilik, sewa sound horeg itu mahal loh sebenarnya. Bisa ratusan juta hingga miliaran,” terang Hardi.
Jika Hardi menggunakan alasan “mengganggu ketenangan”, tapi toh kenyataannya lebih banyak warga yang merasa terhibur. Di saat yang sama lebih sedikit warga yang mengaku terganggu, itu pun cenderung diam, hanya bisa bisik-bisik atau malah hanya bisa memendam.
Jika menganggapnya mengganggu, tapi fakta di lapangan karnaval sound horeg mampu menggerakkan perputaran ekonomi di bawah. Sebab, dalam karnaval sound horeg, ada para perias yang mendapatkan pemasukan dari merias para penari latar, tukang sewa baju karnaval laris-manis, pedagang-pedagang kecil (seperti pentol, es teh, dan lain-lain) juga meraup cuan.
Hardi tidak bisa membantah fakta-fakta tersebut. Alhasil, di satu sisi Hardi merasa jadi orang waras sendirian karena ia menjadi satu dari sedikit orang yang tidak terseret arus sound horeg. Akan tetapi di sisi lain ia juga merasa menjadi orang aneh sendirian karena mayoritas warga desanya menikmati: menikmati hiburannya sekaligus menikmati perputaran ekonominya.
“Akhirnya aku juga dicap nggak gaul dan nggak srawung. Jadi orang aneh lah pokoknya karena nggak pernah mau ikut-ikutan sound horeg. Karena di desaku, khususnya anak-anak muda, aktif di karnaval sound horeg itu jadi standar pemuda desa gaul,” bebernya.
Dalih selawatan hingga lagu religi, tapi tetap berdandan seksi
Yang lebih ironi bagi Hardi: untuk mengakali fatwa haram MUI, sound horeg yang ada di desanya kini diformat dengan selawatan atau lagu-lagu religi, hanya saja musiknya tetap jedag-jedug.
“Ya misalnya kan lagi viral lagu ‘Bapakku Ansor ibu muslimat, ngalor-ngidul gawa berkat’, ya itu diputar dengan format jedag-jedug,” jelas Hardi.
Kata Hardi, kalau ada yang menghujat, dalihnya adalah masa selawatan dan lagu religi mau dihujat. Walaupun, lanjut Hardi, masih banyak celah hujatan yang bisa dilayangkan. Misalnya: masa selawatan dibikin jedag-jedug atau masa selawatan tapi joget-joget sambil berdandan seksi.
“Memang iya begitu. Jadi para penari latar di desaku itu yang cewek-cewek kan akhirnya pakai hijab dan pakaian panjang. Tapi ya tetap ketat, tapi ya tetap joget-joget erotis,” ujar Hardi.
“Nah, jadi dosa jariah nggak itu? Di medsos belakangan ada yang mengutuk-mengutuk, kalau penemu sound horeg dihitung dosa jariah karena meninggalkan lebih banyak dampak buruk,” sambungnya.
Lihat di Threads
Dan memang hal itu sudah menjadi tren di sejumlah daerah di Jawa Timur. Pernah viral sebuah acara maulid Nabi, Isra Mikraj, atau akhirussanah sebuah madrasah yang menampilkan cewek-cewek berhijab tapi pentas seni yang ditunjukkan adalah joget-joget ala TikTok.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Derita Mahasiswa KKN di Desa Sound Horeg: “Dipaksa Jadi Jamet” buat Karnaval, Kalau Nolak Bisa Diusir atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
