Desil 6 Menyulitkan Hidup Pedagang Ayam Goreng: Dagangan Tidak Laris, Bantuan Distop Total, Proses Sanggah Susah

Desil 6 sulitkan hidup pedagang ayam goreng MOJOK.CO

Sejak bulan Juni, Winarsih tidak lagi mendapat bansos (bantuan sosial) lantaran desil Winarsih tiba-tiba melonjak dari 2 ke 6.

***

ADVERTISEMENT

Ayam telah masuk penggorengan. Winarsih (39) mencari cabai sambil bertanya ingin dibuatkan sambal yang pedas atau tidak. Namun, ketika melihat sayur, topik pembicaraan mulai berubah. Winarsih jadi ingat betapa kini isi dapur sangatlah mahal. Apalagi bansos yang rutin ia dapatkan telah distop.  

”Sejak Juni 2026 saya udah nggak dapet bansos, soalnya desil tiba-tiba naik jadi 6,” ujar Winarsih saat ditemui Mojok pada Jumat (30/10/2026). Padahal, sebelumnya saat masih dalam desil 2, ia rutin menerima bansos yang sedikit-banyak meringankan hidupnya. 

Keberadaan bansos jelas sangat berarti bagi Winarsih. Sebab, sejak 2023 dagangannya (ayam goreng) terus sepi dan berlarut-larut hingga sekarang. Bahkan dalam satu hari belum tentu ada yang beli. Kadang pun jika ada, orang hanya membeli es jeruk atau es kopi. 

Rumah dan mobil jadi alasan, padahal keduanya bukan milik pribadi 

Saat ini, Winarsih dan keluarga tinggal di rumah mertuanya. Ia menempati salah satu kamar di rumah tersebut. Kebetulan mertuanya pemilik kos. Itulah alasan mengapa daya listrik di rumah itu tinggi.

”Mertua punya usaha kos dari zaman dulu. Meterannya satu, tapi dayanya tinggi di 1.300,” ungkapnya.

Winarsih tidak menyangka jika listrik di rumah mertuanya menjadi alasan desil naik. Sedangkan, keluarga kecilnya dan mertua berbeda KK. Dalih itu pun baru ia ketahui setelah beberapa kali menyambangi kantor kelurahan.

Alasan lain yang dikemukakan adalah karena Samsat mendata keluarga Winarsih memiliki mobil. Padahal sebenarnya itu adalah mobil mertua yang bahkan sudah dijual sejak 2024.

Hingga kini, bantuan sosial distop total

Sebelum desilnya naik mendadak menjadi desil 6, Winarsih dan keluarga mendapatkan bantuan iuran BPJS dan uang tunai sebesar Rp600 ribu pertiga bulan sekali. Bantuan uang itu harus digunakan untuk membeli kebutuhan pangan pokok.

ADVERTISEMENT

Bagi Winarsih, bantuan itu sangat berharga. Pemberhentian bansos dengan mendadak membuat ia terkejut.  Apalagi saat ini perekonomian keluarganya sedang sangat lesu. 

”Mungkin buat orang kaya, beras dari pemerintah nggak enak. Tapi kalau untuk kami orang miskin, beras itu sangat bermanfaat,” katanya. 

Sulitnya turun dari desil 6

Dengan desil 6, Winarsih tidak punya kesempatan untuk langsung menyanggah. ”Kalau desil 6 itu nggak bisa disanggah, nggak bisa di-klik,” katanya.

Berbeda dengan tetangganya yang bisa turun dari desil 9 menjadi desil semula dan semestinya: 2. 

Meski begitu, Winarsih dan suami masih terus mengusahakan pembaruan data. Hanya memang, menurut pengalaman Winarsih, penyanggahan untuk pembaruan data tersebut terasa cukup sulit. 

Winarsih pada akhirnya memang bisa menurunkan desilnya, hanya saja hanya turun satu tingkat: kini masuk desil 5. Baginya, hasil itu belum sesuai dengan kondisi ekonominya. Maka ia kini masih terus mengupayakan untuk mengajukan sanggah desil.

HP rusak jadi kendala

Dalam proses penyanggahan, Winarsih perlu memastikan beberapa urusan administrasi ke kantor kelurahan. Sayangnya, saat itu ia belum memenuhi syarat untuk melakukan sanggah mandiri.

Winarsih menjelaskan bahwa untuk menyanggah desil perlu masuk ke aplikasi resmi pemerintah: Perlinsos. Syarat selanjutnya untuk bisa mengakses Perlinsos adalah IKD (Identitas Kependudukan Digital). IKD inilah yang belum dimiliki dan harus diurus oleh Winarsih. 

Untuk mengurusnya, IKD membutuhkan HP yang berfungsi optimal, sedangkan HP milik Winarsih sedang rusak. Di sisi lain, HP suaminya pun tak mampu menangkap barcode karena kameranya pecah. 

Winarsih menjelaskan, ternyata bukan hanya ia yang mengalami kesulitan terkait digitalisasi. Beberapa tetangganya pun mengaku mengalami hal serupa. Alhasil, pengurusan di kantor kelurahan menjadi sangat ramai oleh masyarakat yang mengantre.

”Ya Allah saat itu saya nangis. Saya sambil bawa anak saya yang sedang,” tutur WInarsih.

Beruntung IKD berhasil diproses. Ia juga telah melakukan sanggah mandiri. Saat ini, Winarsih sedang berharap dengan cemas terkait ketetapan desilnya. Hampir setiap saat ia mengecek aplikasi, berharap angka desil di sana menunjukkan angka 2, agar tidak memberatkan hidupnya. 

Tulisan ini diproduksi oleh mahasiswa program Sekolah Vokasi Jurnalistik Mojok.co periode Agustus-November 2026

Baca Majalah

Penulis: Feninda Rahmadiah

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Lulusan S2, Masuk Desil 5, dan Tetap Hidup Pas-pasan di Pacitan  atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 6 November 2026 oleh .

Feninda Rahmadiah

Feninda Rahmadiah. Mahasiswa magang departemen liputan di Mojok.co. Sedang menempuh pendidikan akhir Sastra Indonesia di UNY. Mengambil konsentrasi linguistik dan sedang mempelajari jurnalisme. Tertarik dengan isu perempuan.