Antrean Pagi Stasiun Lempuyangan Jogja Selalu “Keos” dan Bikin Tegang, Datang Lebih Awal Tak Jadi Solusi

Jangan remehkan antrean Stasiun Lempuyangan, Jogja, di jam pagi untuk keberangkatan Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung MOJOK.CO

Ilustrasi - Jangan remehkan antrean Stasiun Lempuyangan, Jogja, di jam pagi untuk keberangkatan Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Suasana Stasiun Lempuyangan, Jogja, di pagi hari bisa dipastikan selalu penuh ketegangan dan kegugupan. Para calon penumpang yang memang sengaja berburu tiket murah dari Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung jelas tidak mau tertinggal kereta. Masalahnya, demi lekas masuk ke gerbong kereta, penumpang memang harus senam jantung lebih dulu. 

***

Jam keberangkatan Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung dari Stasiun Lempuyangan, Jogja, sebenarnya pukul 07.00 WIB. Namun, kereta murah incaran masyarakat kelas menengah ke bawah tersebut pasti akan memasuki peron di jam 07.30 WIB. 

Di jam-jam tersebut, banyak penumpang yang baru turun dari motor (entah diantar atau pakai ojek online), langsung tergopoh-gopoh berlari menuju lokasi boarding tiket, sembari menenteng bawaan yang tidak sedikit. Pemandangan seperti itu selalu saya dapati sejak awal 2025 lalu, ketika mulai terbiasa pulang ke rumah istri di Jombang, Jawa Timur, dengan transportasi kereta api. 

Jangan remehkan antrean di Stasiun Lempuyangan Jogja di pagi hari

Awalnya saya termasuk orang yang meremehkan antrean di Stasiun Lempuyangan, Jogja, pada jam keberangkatan pagi (untuk KA Ekonomi Sri Tanjung). Saya memilih berangkat dari kos di Jalan Kaliurang Km 9 pukul 06.00 WIB.

Tidak terbayang dalam benak saya bahwa antrean di Stasiun Lempuyangan pada jam pagi benar-benar membeludak. Sampai akhirnya saya tiba di stasiun jam setengah 7 dan dua antrean menuju boarding pass sudah mengular panjang. 

Bersamaan dengan itu, suara petugas dari pengeras suara berkali-kali menginformasikan bahwa KA Ekonomi Sri Tanjung sudah berada di jalur 2, siap diberangkatkan sesaat lagi. Sontak saja saya deg-degan dan serba gugup, takut kalau-kalau ketinggalan kereta karena tidak sempat mencapai boarding pass. 

Pasalnya, alur pemeriksaan membuat pengurangan jumlah antrean tidak berlangsung cepat. Sementara jam bergulir sebaliknya: semakin mendekati jam keberangkatan. 

Sejak saat itu, saya memutuskan selalu berangkat lebih awal, setidaknya jam 06.30 WIB. Akan tetapi, memang jangan pernah meremehkan antrean di Stasiun Lempuyangan. Karena antrean sudah terjadi sejak pagi buta, jangan harap setiba di sana bisa langsung boarding tanpa melalui antrean. 

Antrean bikin gugup karena Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung jadi satu-satunya pilihan

Apa yang saya alami juga dialami oleh Fardi (24), pekerja swasta di Jogja yang kalau pulang ke Kertosono, Jawa Timur, pasti war tiket KA Sri Tanjung. Bagi Fardi, kalau gaji hanya di atas UMR Jogja sedikit, KA Ekonomi Sri Tanjung adalah satu-satunya pilihan. 

Secara, harga tiketnya cuma Rp88 ribu. Fardi mengakui agak eman kalau harus pesan kereta lain dengan harga di atas Rp200 ribu. Sebab, dengan uang segitu, sudah cukup buat Fardi memesan tiket KA Ekonomi Sri Tanjung pergi-pulang. 

“Memang ujianku kan bangun pagi. Aku paling mentok baru bisa berangkat dari kos jam 6. Terus sampai sana ternyata antreannya udah edan,” ujar Fardi. 

Panik dan gugup pada akhirnya menyerang Fardi yang berdiri di antrean beakang. Ia tidak henti-henti menengok alur pengecekan tiket di barisan depan. Saat tahu jumlah antrean masih panjang, kepanikannya pun bertambah hebat. Takut ketinggalan. 

Jika ketinggalan kereta pertama, beberapa orang mungkin bisa memesan kereta berikutnya. Tapi tidak bagi orang seperti Fardi. Ketinggalan hari itu pilihannya adalah menunda kepulangan. Menunggu di pekan berikutnya. 

Berhadapan dengan penumpang brutal tidak tahu diri yang nyerobot antrean

Dalam situasi serba panik tersebut, Fardi sering kali harus dibuat kesal dan makin gugup dengan ulah penumpang lain yang brutal dan tidak tahu diri: ada saja penumpang yang tiba-tiba nyerobot antrean. 

Fardi pernah mengalami situasi seperti ini: ketika ada penumpang yang tiba-tiba nyerobot antrean, tidak pelak si penumpang itu menerima teriakan protes dari penumpang-penumpang lain di belakang. 

“Ada dua jenis orang seperti ini, kalau nggak cuek saja, ya bilang alasannya buru-buru. Lah dikira semua yang antre nggak buru-buru,” ujar Fardi. 

Fardi sebenarnya pernah terbersit untuk nyerobot antrean. Tapi sering kali ia memilih pasrah saja di urutan tempatnya berdiri. Ia tidak cukup berani untuk melakukannya. 

Peringatan dari petugas soal datang lebih awal tidak menjawab persoalan

Dengan cerita hampir mirip, Annisa (25), juga pekerja swasta di Jogja yang menggunakan KA Ekonomi Sri Tanjung untuk pulang ke Magetan, Jawa Timur, lebih menyoroti jumlah boarding pass yang tersedia di Stasiun Lempuyangan, Jogja. 

Antrean yang mengular pada jam keberangkatan pagi memang terjadi dalam dua barisan boarding pass. Antrean yang mengular masih akan terus bertambah seiring waktu. 

“Pas sampai pada antreanku, petugas di boarding pass bilang, besok-besok datang lebih awal ya. Selalu begitu,” ujar Annisa. 

“Tapi menurutku, datang lebih awal pun sepertinya sudah bukan solusi pokok dari masalah ini. Karena nyatanya antrean mengular masih terus terjadi di jam keberangkatan pagi Kereta Api Ekonomi Sri Tanjung. Ya karena pengguna kereta ini tinggi,” lanjutnya. 

Dalam pengalaman Annisa, jika jam sudah menunjukkan 15 menit lagi, petugas di boarding pass baru akan memberi prioritas bagi pemegang tiket Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung. Di momen itu, selain acungan tangan dari para penumpang (yang luar biasa banyak), yang terjadi adalah “kekacauan” antar-penumpang karena berdesakan untuk segera maju melewati boarding pass prioritas. 

“Rasa-rasanya kalau jam-jam keos seperti itu perlu ada tambahan boarding pass nggak sih? Tapi gimana ya, namanya juga penumpang kereta subsidi, masa mau banyak minta lagi,” pungkas Annisa. 

Sebenarnya di Stasiun Lempuyangan, Jogja, sudah ada teknologi boarding pass berupa face recognition. Tapi sejauh ini keberadaannya memang belum bisa mengurai antrean di jam pagi. Mengingat, belum banyak penumpang Sri Tanjung yang terbiasa dengan alat tersebut.

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Angkringan Lempuyangan Jogja Berisi Rindu, Kegagalan, dan Beban Finansial Para Pejuang Perantauan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Exit mobile version