ADVERTISEMENT

Jadi Anak Tunggal Bikin Orang Lain Iri: Dikira Hidup Tentram, Aslinya Menanggung Beban Ekspektasi dan Stigma Sosial yang Bikin Muak

PNS, ibu, orang tua, anak tunggal.MOJOK.CO

Orang kira hidup anak tunggal itu serba enak dengan segala cap, mulai satu-satunya penerima warisan, finansial yang aman, hingga label anak yang selalu dimanja orang tua. Padahal, di balik itu semua, mereka justru memikul beban hidup dua kali lipat lebih besar.

***

Setiap kali sedang nongkrong dan obrolan mulai menyinggung soal tugas akhir, Adib (23) lebih sering diam. Mahasiswa ini sudah masuk tahun keenam di kampusnya, meleset dua tahun dari target lulus tepat waktu. 

Jika tahun depan skripsinya tak kunjung selesai, ancaman drop out (DO) sudah di depan mata. Namun, di mata teman-temannya, masalah kuliah Adib selalu dianggap sepele.

Alasannya, Adib adalah anak tunggal. Setiap kali ia mulai mengeluh soal tekanan kampus, teman-temannya langsung menimpali dengan adu nasib “lu mah enak”. 

Mereka menganggap Adib akan selalu aman secara ekonomi, mau kuliahnya molor berapa tahun pun. Apalagi, ayahnya adalah seorang pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Dalam bayangan teman-teman tongkrongannya, sebagai pewaris satu-satunya, hidup Adib sudah pasti terjamin. Ia tidak perlu pusing berebut harta atau perhatian.

Bagi Adib, anggapan itu sangat mengganggu. Orang luar sering kali hanya melihat enaknya saja, tanpa tahu ada beban hidup yang jauh lebih berat bersembunyi di balik status anak tunggal.

Anak tunggal nggak punya teman diskusi di rumah buat ambil keputusan sulit

Ketika teman-temannya sibuk membicarakan soal warisan dan kondisi finansial yang aman, isi kepala Adib justru dipenuhi kecemasan soal masa depannya. Menjadi anak tunggal berarti ia harus bersiap menjadi tumpuan utama–dan satu-satunya–untuk merawat kedua orang tuanya yang perlahan menua.

“Kalau suatu saat nanti, amit-amint, orang tuaku jatuh sakit dan nggak bisa apa-apa lagi, aku nggak punya saudara kandung yang bisa diajak berbagi tugas,” ujarnya Adib, Senin (14/9/2026) lalu. 

Tidak ada kakak untuk dimintai patungan biaya perawatan, dan tidak ada adik untuk bergantian menjaga di rumah sakit. Semua keputusan sulit terkait urusan keluarga harus ia ambil dan ia tanggung sendirian. 

“Nggak ada orang di rumah yang bisa diajak berdiskusi kalau ada keputusan sulit kayak gitu,” imbuhnya.

Kecemasan itu bahkan sudah membayangi rencana karier Adib. Taruhlah tahun depan ia berhasil lulus dan mendapat tawaran pekerjaan yang bagus, ia tetap dihadapkan pada pilihan yang sulit. 

“Misal nih, tahun depan aku lulus, apakah aku bisa dengan bebas merantau demi mengejar karier? Ataukah harus mengalah, menekan egoku, mencari kerjaan di dekat rumah karena tidak tega membiarkan orang tua tinggal sendirian?” tanyanya.

Menurut Adib, “menjadi anak tunggal sering kali berarti tidak punya kemewahan untuk bebas melangkah pergi.”

Beban ekspektasi, kalau gagal ya dipikul sendiri

Jika Adib masih memiliki sedikit jaring pengaman dari uang pensiun ayahnya, realitas yang jauh lebih keras dialami oleh Dara (27). Dara juga seorang anak tunggal, tetapi keluarganya hidup dengan kondisi ekonomi yang sangat pas-pasan.

Bagi Dara, menjadi anak semata wayang berarti memikul seratus persen harapan keluarga. Semua beban untuk sukses secara akademis, memiliki karier yang mapan, hingga mengangkat derajat keluarga, diletakkan sepenuhnya di atas satu punggung. 

“Nggak ada saudara lain yang bisa diandalkan, atau minimal gantiin peranku kalau aku gagal, Mas,” curhat Dara.

Kondisi ini membuat Dara sering merasa harus selalu tampil sempurna. Ia merasa kegagalan sekecil apa pun adalah bentuk pengkhianatan terhadap pengorbanan orang tuanya. 

Dara sendiri dulunya adalah mahasiswa penerima beasiswa yang punya cita-cita karier cukup tinggi. Namun, realitas kerasnya mencari kerja pasca-pandemi memukul mundur rencananya. Ia lulus tepat di saat lowongan pekerjaan sedang sangat sulit dicari.

Setelah sempat luntang-lantung tanpa pekerjaan tetap, Dara akhirnya realistis. Ia mengubur mimpinya dan mengambil pekerjaan apa saja yang penting menghasilkan uang. 

Kini, sudah masuk tahun kedua ia bekerja sebagai pegawai sebuah coffee shop di Jogja. Realitas ini jelas jauh dari ekspektasi awal orang tuanya saat menyekolahkannya dulu, dan hal itu menjadi beban pikiran yang ia tanggung dalam diam setiap hari.

“Kerja kayak gini pun aku masih kepikiran, orang tua memandang aku gagal nggak ya?”

Stigma sosial yang bikin anak tunggal muak

Selain urusan beban masa depan dan ekspektasi keluarga, hal yang paling membuat lelah para anak tunggal adalah stigma sosial di masyarakat. Ada semacam kesepakatan tak tertulis yang kerap menghakimi anak tunggal sebagai pribadi yang pasti manja, egois, tidak bisa berbagi, dan terbiasa dilayani.

Bagi anak dari keluarga menengah ke bawah seperti Dara, stigma itu sama sekali tidak berdasar. Sejak kecil, ia tidak pernah merasakan kemewahan menjadi sosok yang manja. 

“Manja dari mana? Dulu ya, sejak SMP, aku udah terbiasa membantu ibu berjualan di warung di kampung. Aku nggak punya privilese buat manja itu,” katanya.

Kebiasaan banting tulang itu berlanjut terus hingga ia kuliah. Dara terbiasa mencari kerja sampingan untuk menambah uang saku dan menambal kebutuhan sehari-hari. 

Ia harus mandiri lebih awal karena sadar betul orang tuanya tidak punya uang berlebih, dan ia tidak punya saudara kandung untuk dimintai tolong di saat darurat.

Bagi Dara, label manja dan egois itu mungkin hanya berlaku untuk anak tunggal yang lahir dari keluarga kaya raya. Sementara bagi anak tunggal dari keluarga pas-pasan sepertinya, bersikap manja adalah sebuah kemustahilan. 

“Kamu anak tunggal, dan dari keluarga miskin. Ya sejak awal dipaksa keadaan untuk lebih cepat dewasa dan mandiri dong,” ujarnya. “Apalagi klaim ‘dapat warisan tunggal’, orang miskin kayak aku warisannya apa sih, Mas,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Anak Perempuan Pertama Mengorbankan Masa Muda demi Hidupi Orang Tua Miskin dan Adik Tolol, Tapi Tetap Dihina Keluarga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 18 September 2026 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Exit mobile version