Undangan untuk datang ke acara ulang tahun (ultah) anak tetangga di desa kini membuat orang tua overthinking. Pasalnya, acara tersebut bisa berubah menjadi penghakiman isi kado hingga membuat utang sosial semakin bertumpuk saja.
***
Wanah (31) tengah berpikir keras sembari mencari referensi hadiah ulang tahun di TikTok tidak lama setelah tetangga memberinya undangan acara ulang tahun sang anak.
Wanah tidak bisa begitu saja membuat-buat alasan agar tidak datang. Namanya undangan, harus dipenuhi. Lebih-lebih, anak tetangga tersebut adalah teman bermain dan sekolah anak Wanah.
“Kalau di desaku, acara ulang tahun semacam ini memang sering dibuat orang tua buat anaknya yang masih kecil-kecil. Udah nggak dirayakan lagi kalau sudah masuk SD,” ujar perempuan asal Rembang, Jawa Tengah, itu bercerita, Senin (14/9/2026) lalu.
Namun, memenuhi undangan acara ulang tahun anak tetangga di desa tidak sesederhana datang ikut merayakan. Tapi ada kewajiban memberikan kado. Tidak sekadar memberi kado, tapi harus kado yang bisa menjawab ekspektasi si penggelar acara.
Acara ulang tahun (ultah) anak itu budaya kota, bukan budaya desa?
Perayaan ulang tahun sebenarnya bukan hal baru di desa. Kata Wanah, sejak dulu warga desanya sudah akrab dengan acara memperingati hari lahir bahkan syukuran weton anak.
Bedanya, dulu acara peringatan tersebut dilakukan dengan bentuk syukuran biasa: Mengundang tetangga dan saudara untuk berdoa dan makan bersama, meski hanya masakan sederhana. Tidak ada keharusan datang membawa hadiah ulang tahun.
Namun, seiring banyaknya warga desa yang bisa mengakses siaran televisi dan kini merambah ke media sosial di ponsel, peringatan hari lahir anak di desa pun berubah format sebagaimana referensi—dari tayangan—yang warga lihat.
“Kalau di tv atau medsos kan acara ulang tahun anak itu ada balon-balonnya, ada pernak-perniknya, ada kuenya, terus anak-anak lain memberi kado. Semakin ke sini, model seperti itulah yang digunakan,” beber Wanah.
Hukum tak tertulis: wajib membawa kado, tapi tidak bisa kado sederhana
Dengan perubahan tersebut, lalu muncul semacam hukum tidak tertulis bahwa memenuhi undangannya pun tidak bisa dengan tangan kosong sebagaimana dulu-dulu.
Kalau undangan sudah tergeletak di meja rumah, maka orang tua harus mengintip dompet untuk memberi sesuatu yang sekiranya bisa dianggap “pantas” oleh sahibul hajat yang bakal menerima. Karena memang, seiring referensi konsumsi warga yang semakin luas, kado sederhana tidak lagi ada artinya.
“Awalnya ya, kita ngasih kado mainan yang murah-murah, yang lazim ya alat tulis (seperti paket buku, pulpen, pensil gambar, dan sejenisnya), begitu sudah cukup. Yang penting jadi hadiah ulang tahun,” tutur Wanah. “Kalau barang-barang itu kan terjangkau, bisa dibeli di toko desa.”
“Tapi standarnya sekarang kalau dinilai terlalu sederhana dan biasa saja, dianggap pelit atau nggak niat ngasih kado,” ujar Wanah.
Bagaimana tidak. Sekarang standar kado untuk hadiah ulang tahun anak tetangga bisa berupa tas, sepatu, mainan, baju, jam tangan, dan barang-barang yang sekiranya dibeli dengan harga agak mahal serta tidak ada di desa.
Barang-barang itu, bagi Wanah, mungkin mudah dibeli oleh orang kota atau orang berduit. Tapi bagi warga desa yang untuk anaknya sendiri saja masih berhitung untuk membelikannya, membeli barang-barang tersebut untuk kado anak tetangga tidak pelak menjadi beban tersendiri.
“Dulu ya, Mas, kalau ke anak perempuan, kasih hadiah ulang tahun boneka Barbie meski murah yang dibeli di pasar kecamatan saja cukup. Sekarang, wah sudah dihina-hina,” kata Wanah.
Perkara pembungkus kado saja bisa dihina-hina
Wanah mengaku beberapa kali mendapati penghinaan-penghinaan semacam itu. Misalnya, ketika seorang tetangga habis menggelar acara ulang tahun anak, esok harinya saat bertemu sembari menunggu anak sekolah ia tidak segan berbisik sembari rasan-rasan: menghina kado pemberian seseorang yang dianggapnya tidak niat, hanya karena berisi beberapa bungkus jajanan anak yang bisa dibeli dari warung.
“Lainnya ngasih tas, ada yang sepatu, eh ini ada yang ngasih jajan Rp2 ribuan. Kalau mau ngasih jajan mbok yang beli di Indomaret,” begitu gerutu si tetangga yang rasan-rasan. Padahal, kata Wanah, dulu tidak begitu. Jajanan Rp2 ribuan tetap bisa diterima sebagai hadiah berharga karena toh anak-anak suka.
“Perkara bungkus kado juga nggak luput dari penilaian. Dulu itu ibarat bungkus kado pakai kertas buku udah nggak apa-apa. Sekarang selain harus pakai kertas kado yang coraknya menarik, juga harus dibentuk-bentuk yang menarik juga kan,” imbuhnya.
Kado ulang tahun (ultah) semakin menumpuk utang sosial
Standar bentuk dan nilai hadiah ulang tahun yang berubah tersebut pun akhirnya juga dirasa semakin menumpuk utang sosial.
Sebagaimana jamak diketahui, kultur masyarakat desa memang erat dengan utang sosial. Istilah yang dipakai di desa Wanah adalah “kepotangan”, seperti yang terjadi pada konteks sumbangan pernikahan: suatu saat harus mengembalikan dengan nilai yang setidaknya sepadan, tidak boleh di bawahnya.
“Misalnya saat ini anakku ulang tahun. Anakku nerima macem-macem kado yang nggak sederhana. Maka suatu saat aku harus mengembalikan ke si pemberi dengan nilai serupa,” ujar Wanah.
Bahkan, kini pun mulai dinormalisasi: jika tidak memberi hadiah ulang tahun dalam bentuk barang, maka bisa diganti dengan uang. Catatannya: jangan harap uang Rp20 ribu bisa diterima dengan baik. Standarnya ada di angka Rp50 ribu-Rp100 ribu. Sudah mirip sumbangan pernikahan.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Orang Miskin di Desa Nekat Utang buat Gaya Hidup: Gara-gara Putus Asa dan Muak Diinjak-injak Mulut Tetangga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
