Sebut nama Bali, di mana pun kamu berada. Orang-orang pasti langsung membayangkan keindahan demi keindahan. Dari hamparan pasir putih, lanskap hijau terasering, hingga wangi dupa di tiap sudut jalan yang selalu menggoda.
Bagi para turis, Bali adalah definisi paradise on earth. “Surga dunia yang mewujud nyata”, kata mereka. Selama puluhan tahun, pesona elok Bali terus diagungkan sebagai etalase utama pariwisata kebanggaan Indonesia.
Namun, coba bayangkan sejenak kemungkinan lain. Bagaimana jika narasi keindahan yang terus dijajakan lewat brosur liburan itu, sebenarnya dirancang secara sistematis demi menutupi kejahatan kemanusiaan di masa lalu.
Berawal dari ambisi Belanda menguasai seluruh Bali
Melalui buku Merebut Bali (De strijd om Bali), sejarawan dan peneliti independen asal Belanda, Anne-Lot Hoek, menyingkap tirai pariwisata Pulau Dewata dan menunjukkan apa yang selama ini ada di baliknya.
Lewat penelusuran arsip dan riset lapangan yang memakan waktu hingga tujuh tahun, ia membongkar fakta sejarah yang memilukan. Menurut temuannya, citra Bali sebagai tempat yang damai dan eksotis bukanlah fenomena alamiah yang tumbuh begitu saja.
Citra “surga dunia” tersebut merupakan hasil rekayasa dan konstruksi politik kolonial Belanda pada awal abad ke-20 yang sengaja diciptakan untuk menyembunyikan noda darah kekerasan imperialismenya.
Mari mundur sejenak ke awal abad ke-20 silam. Saat itu, Belanda sangat berambisi menguasai seluruh daratan Pulau Dewata. Ambisi ini memicu rentetan penaklukan militer yang sangat kejam, memuncak pada peristiwa berdarah Puputan Badung tahun 1906 dan Puputan Klungkung tahun 1908. Ribuan rakyat Bali gugur bersimbah darah.
Bagi masyarakat lokal, puputan bukanlah pertempuran yang biasa. Ia adalah puncak pengorbanan politik dan spiritual. Mereka secara sadar memilih mati di ujung keris demi mempertahankan kehormatan serta kedaulatan atas nasib sendiri.
Operasi pencitraan secara masif
Belanda segera menyadari satu hal yang amat politis. Pembantaian berdarah ini berpotensi besar menghancurkan reputasi mereka di mata dunia internasional. Alhasil, pemerintah kolonial Hindia Belanda pun harus putar otak agar terhindar dari kutukan negara-negara Barat.
Operasi pencitraan besar-besaran akhirnya mulai dirancang dengan sangat rapi.
Hanya berselang beberapa tahun setelah bau darah hilang, kapal-kapal uap milik perusahaan Koninklijke Paketvaart-Maatschappij (KPM) mulai dikerahkan untuk membawa turis asing antara tahun 1912 hingga 1914. Pada dekade 1920-an, deretan fasilitas megah pun dibangun sebagai fondasi industri pariwisata.
Berdirinya Bali Hotel di Denpasar pada tahun 1928 menjadi tonggak penting penataan masif ini. Saking mewahnya, tokoh legendaris seperti Charlie Chaplin bahkan pernah menginap di sana.
Anne-Lot Hoek memaparkan niat terselubung di balik proyek megah ini. Komersialisasi budaya diciptakan dengan target politis yang spesifik dan terencana. Belanda amat ingin mencuci memori traumatis publik internasional atas jejak kekerasan imperium militernya.
Gambaran Bali yang sangat damai sengaja dikonstruksi secara masif. Penduduk lokal dicitrakan selalu sibuk menari, melaksanakan ritual, dan menabuh gamelan dengan senyum sukacita.
Puing-puing istana kerajaan yang terbakar tak lagi dibicarakan. Etalase kebudayaan eksotis itu kemudian dikomodifikasi habis-habisan dan dijual mahal kepada para pelancong Barat.
View this post on Instagram
Propaganda “surga” wisata ini rupanya kembali didaur ulang pasca-Perang Dunia II. Letnan Gubernur Jenderal H.J. van Mook menjadi komandan proyeknya demi membendung pengaruh Republik Indonesia yang baru diproklamasikan Sukarno.
Belanda menginisiasi Konferensi Denpasar pada tahun 1946. Tujuannya adalah merancang pemerintahan boneka bernama Negara Indonesia Timur (NIT). Tentu saja, proyek NIT sangat butuh legitimasi dunia internasional, terutama restu pihak Sekutu dan Amerika Serikat.
Karena itu, kondisi Bali harus terlihat sangat stabil dan penduduknya diklaim loyal kepada Belanda.
Namun, di saat kritis inilah I Gusti Ngurah Rai melawan. Pahlawan lokal ini berani mengobarkan perang gerilya yang mematikan. Namun, tentu saja, perlawanan gigih tersebut dianggap sebagai ancaman yang bisa meruntuhkan narasi kedamaian buatan Belanda.
Belanda akhirnya merespons dengan tangan besi. Pasukan Ngurah Rai ditumpas habis dalam tragedi heroik Puputan Margarana pada November 1946. Ribuan nyawa kembali melayang membasahi tanah subur Bali sebagai harga berdarah kesekian yang harus dibayar demi proyek politik kolonial.
Masih relevan dengan situasi Bali hari ini
Pemikiran dalam buku Anne-Lot Hoek ini sangatlah relevan. Ia mampu menarik garis paralel yang tegas antara eksploitasi masa kolonial dan situasi hari ini. Rasa lapar kapitalis era kolonial terhubung langsung ke masa kini, di mana Bali seolah terus-menerus dieksploitasi bak sebuah tambang emas.
Sumber daya alamnya dikeruk tanpa henti demi akumulasi modal. Sayangnya, nasib dan perlindungan terhadap ruang hidup warga lokal jarang benar-benar diperhatikan oleh penguasa.
Wajah kolonialisme era modern kini telah bersalin rupa. Eksploitasi berubah wujud menjadi krisis ekologis dan komplikasi sosial yang mencekik leher. Praktik alih fungsi lahan sawah terjadi secara gila-gilaan, disusul krisis air tanah dan investasi asing yang dibuka bebas tanpa kendali ketat.
Hadirnya kawasan super eksklusif semacam Little Moscow, yang dipicu oleh eksodus warga asing pasca-konflik Rusia-Ukraina, serta menjamurnya pemukiman bagi pekerja nomaden digital, memperlihatkan betapa ruang hidup warga asli Bali makin terdesak mundur.
Banyak pendatang memborong unit apartemen dan tanah strategis bukan untuk ditinggali. Unit-unit itu dibeli cuma sebagai instrumen investasi kapitalis untuk disewakan kembali.
Krisis hunian pun meledak di mana-mana. Harga tanah melambung ke tingkat yang tak masuk akal, mengikis identitas agraris budaya lokal secara perlahan. Warga Bali pada akhirnya kembali menjadi korban manipulasi narasi “surga” di tanahnya sendiri, sementara pemerintah kerap dinilai terlalu lambat dan ciut nyali saat berhadapan dengan kekuatan modal besar.
Mendobrak historiografi Jawa-sentris
Keberanian Hoek mengkritik penulisan sejarah juga memberikan hantaman metodologis yang patut diacungi jempol. Selama puluhan tahun, sejarah revolusi yang diajarkan di sekolah kita sangat bernuansa Jawa-sentris dan hanya terpaku pada figur pahlawan tunggal.
Pendekatan usang itu alhasil melupakan darah dan keringat rakyat kecil. Dinamika perjuangan berdarah, ketahanan, dan penderitaan kolektif kelompok warga awam di luar Pulau Jawa amat jarang diceritakan.
Anne-Lot Hoek menolak tunduk pada narasi usang tersebut. Ia sadar betul bahwa arsip resmi kolonial di Den Haag sarat dengan bias penjajah dan rentan dimanipulasi. Oleh karena itu, ia berani memadukan dokumen-dokumen berdebu itu dengan metodologi sejarah lisan.
Ia sabar mewawancarai langsung banyak saksi mata yang masih hidup. Metode lisan ini awalnya sempat dipandang sebelah mata dan diremehkan oleh sejarawan senior di Belanda. Namun, tekad nekat Hoek justru sukses membuka kotak pandora.
Perpaduan riset arsip dan wawancara ini membuahkan hasil luar biasa. Temuan investigasinya sungguh membuat bulu kuduk siapa saja berdiri.
Hoek menemukan keberadaan sekitar 50 kamp tahanan dan fasilitas penyiksaan militer milik Belanda. Fasilitas mengerikan ini tersebar luas di sekujur pelosok desa di Bali sepanjang masa revolusi kemerdekaan.
Militer dan intelijen Belanda menebar ketakutan dan kekerasan sistematis yang sangat mencekam. Tragisnya, penderitaan massal ini menguap begitu saja. Tidak ada monumen megah yang didirikan di sana, dan historiografi populer kita tak pernah mencatatnya.
Demi merekonstruksi fakta, Hoek memburu dan mewawancarai para veteran perang Belanda yang dilanda penyesalan. Beberapa mantan anggota kelompok militer Indo (KNIL) juga ikut angkat bicara.
Kesaksian paling perih tentu datang dari para penyintas renta di desa-desa terpencil. Cerita kelam yang lama terpendam akhirnya mengalir deras. Suara rakyat jelata yang selama ini dibungkam oleh deru sejarah utama kini bergema dengan sangat nyaring.
Setelah membaca lembar demi lembar buku ini, kamu dijamin tak akan pernah lagi melihat Bali dengan cara yang sama.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: ‘Anak Bali Ilang Baline’ – Bagaimana Pariwisata Mencabut Akar Budaya dan Identitas Masyarakat Adat Pulau Dewata? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan