Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Fragmen

Riset Kampus di Indonesia Cuma Jadi Sampah Ilmiah, Alarm Serius buat Binus hingga Unair yang Masuk Daftar Red Flag

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
9 Juli 2025
A A
kampus di Indonesia.MOJOK.CO

Riset Kampus di Indonesia Cuma Jadi Sampah Ilmiah (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

13 belas kampus di Indonesia masuk dalam zona risiko integritas penelitian. Lima di antaranya masuk zona merah alias red flag, menunjukkan betapa rendahnya kualitas riset di Indonesia.

***

Dunia akademik Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Ia menghadapi tantangan serius menyusul terungkapnya masalah integritas riset di sejumlah perguruan tinggi. Sebuah laporan terbaru dari Research Integrity Index (RI²), yang digagas Profesor Lokman Meho dari American University of Beirut, mengidentifikasi 13 kampus di Indonesia masuk dalam daftar risiko integritas riset. 

Temuan ini memicu seruan untuk introspeksi mendalam dan perbaikan sistemik di lingkungan akademik nasional, mengingat obsesi kampus terhadap reputasi internasional kini dipertanyakan integritasnya.

Koordinator Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA), Satria Unggul Wicaksana Prakasa, mengatakan bahwa temuan ini berangkat dari beberapa data indikator indeksasi akreditasi, atau reputasi internasional yang saat ini menjadi obsesi kampus-kampus di Indonesia. 

Namun, ia menggarisbawahi adanya paradoks, di mana perankingan tersebut justru dihasilkan dengan cara-cara yang tidak berintegritas. 

“Ini menunjukkan adanya situasi anomali,” jelasnya saat dihubungi Mojok, Rabu (9/7/2025). “Di satu sisi, ada upaya yang didorong oleh pemerintah kita untuk menjadikan kampus-kampus ini bertaraf internasional. Tapi di sisi lain, ternyata perankingan itu kemudian dihasilkan dengan cara-cara yang tidak berintegritas,” imbuhnya.

Apa itu RI²?

Research Integrity Index (RI²) merupakan metrik gabungan berbasis data empiris pertama di dunia yang dirancang khusus untuk mengukur dan memprofilkan risiko integritas riset pada tingkat institusi. 

Inisiatif ini lahir dari kecenderungan sistem pemeringkatan universitas global yang selama ini terlalu fokus pada volume publikasi dan jumlah sitasi, tanpa memberi perhatian memadai pada kualitas dan integritas ilmiah dari riset yang dihasilkan.

Melansir laman resminya, ada dua indikator utama yang digunakan dalam evaluasi RI². Pertama, Retraction Rate (R Rate). Indikator ini mengukur jumlah artikel yang dicabut (retracted) per 1.000 publikasi. Tingkat penarikan artikel yang tinggi dapat mengindikasikan masalah serius, seperti kesalahan metodologis fatal, pelanggaran etika penelitian (plagiarisme, fabrikasi, atau falsifikasi data), atau penyalahgunaan kepenulisan.

Kedua, Delisted Journal Rate (D Rate). Indikator ini menghitung persentase publikasi suatu institusi di jurnal-jurnal yang kemudian dikeluarkan (delisted) dari indeks internasional terkemuka, seperti Scopus atau Web of Science. Jurnal-jurnal ini umumnya dicabut indeksnya karena tidak memenuhi standar kualitas editorial atau tergolong jurnal predator.

“Semakin tinggi skor RI² suatu institusi, semakin besar pula indikasi risiko integritas riset yang teridentifikasi,” tulis Lokman Meho dalam keterangan resminya.

risiko riset di Indonesia.MOJOK.CO
Lokman Meho mengkategorikan risiko riset menjadi lima tingkatan. Tidak ada kampus di Indonesia yang masuk daftar warna hijau dan putih. (sumber gambar: https://sites.aub.edu.lb/lmeho/)

Binus-Unair red flag, UGM “paling mendingan”

Lokman Meho, dalam RI², juga mengkategorikan risiko menjadi lima tingkatan. Mulai dari Red Flag (risiko tertinggi) hingga Low Risk (risiko rendah).

Dari 13 kampus di Indonesia yang masuk pantauan RI², beberapa teridentifikasi berada pada kategori risiko tertinggi. Berikut adalah daftar kampus yang teridentifikasi beserta kategorinya:

Iklan

Zona Merah (Red Flag) – Risiko Tertinggi:

  • Universitas Bina Nusantara (BINUS)
  • Universitas Airlangga (UNAIR)
  • Universitas Sumatera Utara (USU)
  • Universitas Hasanuddin (UNHAS)
  • Universitas Sebelas Maret (UNS)

Zona Oranye (High Risk) – Risiko Tinggi:

  • Universitas Diponegoro (UNDIP)
  • Universitas Brawijaya (UB)
  • Universitas Padjadjaran (UNPAD)

Zona Kuning (Watch List) – Risiko Sedang:

  • Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
  • Universitas Indonesia (UI)
  • Institut Teknologi Bandung (ITB)
  • Institut Pertanian Bogor (IPB)
  • Universitas Gadjah Mada (UGM)
risiko riset kampus di indonesia.MOJOK.CO
Kampus di Indonesia seperti Binus, Unair, hingga UNS masuk daftar red flag. (sumber gambar: https://sites.aub.edu.lb/lmeho/)

Temuan ini menunjukkan adanya potensi anomali dalam praktik riset dan publikasi di kampus-kampus tersebut. Potensi masalahnya, bisa berkisar dari ketidakcermatan metodologis hingga dugaan pelanggaran etika yang lebih serius, atau kecenderungan publikasi di jurnal yang kualitasnya dipertanyakan. 

“Di sini kita lihat ada lima kampus Indonesia yang masuk red flag, yang itu indikatornya adalah extreme anomaly, dan resiko pelanggaran integritas yang sistematis. Itu kampus yang bukan kampus kecil, itu kampus yang sangat besar,” ujar Satria Unggul Wicaksana Prakasa.

“Kondisi ini berdampak pada tercorengnya reputasi global kampus-kampus besar ini,” imbuhnya.

Jurnal predator dan masalah integritas riset kampus di Indonesia

Sebelum adanya RI², isu integritas riset kampus di Indonesia sebenarnya bukanlah hal baru, terutama terkait maraknya jurnal predator. Fenomena ini telah menjadi bayang-bayang panjang dalam ekosistem akademik nasional, yang sering didorong oleh tekanan untuk memenuhi target publikasi ilmiah demi kenaikan pangkat dosen, akreditasi program studi, hingga indikator kinerja universitas. 

Jurnal predator sendiri didefinisikan sebagai publikasi yang mengeksploitasi model akses terbuka (open access) dengan membebankan biaya publikasi (Article Processing Charge/APC) kepada penulis, tanpa menyediakan layanan editorial dan peer-review yang kredibel. Mereka kerap menggunakan nama yang menyerupai jurnal bereputasi, alamat palsu, atau mengklaim indeksasi di database ternama, padahal tidak.

Jurnal predator laku karena menjanjikan kecepatan penerbitan dan kemudahan lolos review; sangat kontras dengan proses ketat di jurnal-jurnal bereputasi. 

Kondisi ini bahkan diperparah dengan…

Baca halaman selanjutnya…

Kampus Indonesia sibuk ngurus kuantitas riset, bukan kualitas apalagi integritas. Kudu belajar dari negara tetangga!

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 10 Juli 2025 oleh

Tags: jurnal predatorkampus di indonesiapilihan redaksiResearch Integrity Indexrisiko risetzona integritas riset
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Esai

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO
Sehari-hari

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Standard Ganda: Orang Kota Sok Lebih Berkelas, Padahal di Mata Orang Desa Sama Noraknya

21 Juli 2026
sarjana, ijazah s1, pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan

20 Juli 2026
Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) 31 jadi sumber sukacita dan perkuat posisi Yogya sebagai Kota Budaya di mata dunia MOJOK.CO

Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) 31: Sumber Sukacita dan Perkuat Posisi Yogya sebagai Kota Budaya di Mata Dunia

22 Juli 2026
kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
Lulusan s2, susahnya legalisir ijazah setelah wisuda.MOJOK.CO

Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga

23 Juli 2026
Pilih jadi tukang cukur rambut rumahan dan barbershop saat teman sebaya kerja di luar negeri. Dicap pemalas tetangga, hidup berkecukupan malam dicurigai MOJOK.CO

Pilih Jadi Tukang Cukur Rumahan saat Teman Kerja di Luar Negeri: Dicap Pemalas Tetangga, Terlihat Berkecukupan Malah Dicurigai

22 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.