Batik, candi, keraton, hingga tradisi mandi kembang punya satu persoalan: bagaimana membuatnya tetap relevan ketika zaman berubah? Warisan budaya tidak otomatis menarik hanya karena diwariskan. Jika generasi sekarang hanya boleh melihat dan mengagumi tanpa ruang untuk menafsirkan, budaya berisiko terasa seperti barang museum yang tak boleh disentuh.
***
Persoalan itu mengemuka dalam talkshow “Merayakan Kebudayaan Indonesia melalui Warisan Budaya Yogyakarta” di Taman Pintar, Yogyakarta, Sabtu (10/10/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari RUMAKET (Ruang Masyarakat Ketemu), program Dinas Kebudayaan Pemerintah Kota Yogyakarta yang mempertemukan masyarakat dengan isu kebudayaan.
Matahari Jogja sedang terik saat saya memasuki Pythagoras Hall, Taman Pintar. Puluhan orang telah memenuhi kursi, mulai dari anak muda berkemeja batik hingga pemangku kepentingan pemerintah. Siang itu, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo dan pelaku seni budaya Anisa Hertami, serta Anggota DPD RI, Ahmad Syauqi Soeratno berbagi pandangan tentang cara menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Warisan budaya bukan sekadar prasasti
Bagi Hasto, warisan budaya bukan hanya peninggalan masa lalu, melainkan sumber daya yang dapat dikembangkan dan memberi manfaat bagi masyarakat. Pengalamannya memimpin Kulon Progo sejak 2011 membuatnya melihat peluang itu secara langsung.
“Warisan budaya ini jangan hanya menjadi prasasti. Kita perlu membuatnya produktif agar masyarakat juga memperoleh manfaat,” demikian pokok pandangan Hasto.
Pelestarian tidak mesti berhenti pada menjaga benda, bangunan, atau cerita agar tetap utuh. Tradisi dapat dikembangkan menjadi bentuk baru selama akar dan maknanya tidak diabaikan. Bagi Yogyakarta yang lekat dengan julukan kota budaya, pekerjaan rumahnya bukan sekadar memamerkan masa lalu, melainkan menghadirkan kebudayaan dalam kehidupan sehari-hari, membuka ruang kreativitas, dan memberi manfaat nyata.
Gen Z bisa membawa kebudayaan sampai FYP
Jika Hasto menyoroti produktivitas warisan budaya, Anisa menekankan cara menyampaikannya. Generasi muda tidak semestinya terus dianggap sebagai kelompok yang akan melupakan tradisi. Sebagian justru menggunakan media sosial untuk mengenalkan budaya lokal dan membangun kebanggaan terhadap identitas mereka.
Menurut Anisa, konten perlu dikemas agar menjangkau audiens lebih luas, termasuk berpeluang masuk FYP atau For You Page TikTok. Budaya harus terasa dekat dengan kehidupan anak muda, bukan ditempatkan di “menara gading” yang membuatnya terasa jauh.
Salah satu contohnya adalah batik Truntum. Motif ini lekat dengan prosesi pernikahan Jawa dan memiliki filosofi cinta kasih; kata tumaruntum merujuk pada sesuatu yang tumbuh kembali atau bersemi. Anisa membayangkan maknanya dapat dikenalkan melalui bahasa yang akrab bagi generasi sekarang: “batik yang bisa bikin cinta kalian bersemi kembali”.
Tentu, mengenakan batik Truntum tidak otomatis membuat mantan mengirim pesan WhatsApp. Namun, ungkapan ringan semacam itu bisa menjadi pintu masuk untuk mengenalkan filosofi di balik motif batik. Audiens tertarik pada bahasanya, lalu berkesempatan memahami makna tradisi yang sebelumnya terasa asing. Media sosial dapat menjadi jembatan antara warisan budaya dan khalayak baru.

Mandi kembang tak melulu urusan mistis, ini soal kebudayaan
Anisa juga mencontohkan mandi kembang macan kerah, tradisi yang bagi sebagian orang terdengar mistis atau sulit diterima secara logis. Menurutnya, praktik itu dapat diperkenalkan melalui pengalaman yang lebih kontekstual, misalnya dikaitkan dengan relaksasi dan ketenangan yang dirasakan dari aroma bunga.
Pendekatan semacam ini membuat tradisi terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari. Namun, pemaknaan budaya tetap perlu dibedakan dari klaim kesehatan. Aroma bunga mungkin memberi pengalaman sensoris yang menyenangkan, tetapi manfaat medis tertentu tidak bisa disimpulkan tanpa bukti. Membuat tradisi relevan bukan berarti mengarang penjelasan agar terdengar modern.
Bagi Anisa, kuncinya adalah relate dan storytelling: budaya perlu terhubung dengan pengalaman audiens dan disampaikan lewat cerita yang menarik. Contoh lainnya ialah Cultural Walk di Sumbu Filosofis Yogyakarta. Peserta berjalan menyusuri kawasan tersebut sambil mendengarkan kisah mengenai sejarah dan nilai yang membentuknya. Aktivitas yang biasa dilakukan untuk berjalan-jalan pun dapat menjadi jalan untuk mengenal kota Yogyakarta.
Anggota DPD RI dari Daerah Pemilihan DIY, Ahmad Syauqi Soeratno, turut menekankan bahwa nilai budaya perlu dilestarikan, sementara ekspresinya bisa hadir dalam berbagai bentuk. Menjaga kebudayaan tidak selalu berarti mempertahankan satu ekspresi secara kaku. Pertunjukan, pendidikan, cerita, media sosial, dan kegiatan kreatif dapat menjadi cara baru untuk menyampaikannya, asalkan tetap berangkat dari pemahaman atas nilai yang diwariskan.

Nilai yang tak terlihat juga warisan
Hasto mengingatkan bahwa kebudayaan tidak hanya berupa benda atau peninggalan fisik. Yogyakarta juga memiliki nilai-nilai takbenda (intangible) yang hidup dalam keseharian masyarakat dan ikut membentuk cara mereka berpikir serta bersikap.
Ia bercerita tentang pengalamannya membagi tugas dokter di Kalimantan. Dalam pengamatannya, lulusan dari Yogyakarta cenderung memiliki sifat nerimo, tidak banyak menuntut, dan berselera hidup membumi dibandingkan sebagian lulusan daerah lain yang pernah ditemuinya. Pengalaman itu tentu bukan gambaran mutlak tentang semua lulusan Yogyakarta, tetapi menjadi cara Hasto menjelaskan pengaruh nilai budaya terhadap perilaku.
“Meskipun itu sesuatu yang bersifat intangible, tidak bisa dilihat, tapi ayolah Jogja ini kita pertahankan ada nilai-nilai yang tidak kelihatan. Ini bagian dari kekayaan nonbenda yang mewarnai setiap insan yang tinggal di Yogyakarta,” kata Hasto. Ia juga mengutip ungkapan yang menggambarkan kedekatan emosional orang dengan kota ini: “Jogja itu nek ditinggal ngangeni.”
Ia turut mengangkat filosofi Jawa, “Aja rumangsa bisa, ning bisa o rumangsa.” Menurutnya, ungkapan itu mengajarkan agar seseorang tidak merasa paling mampu, melainkan belajar memahami keadaan dan orang lain. Hasto menghubungkannya dengan konsep Personal Mastery yang ditulis Peter Senge, terutama kesadaran akan keterbatasan diri dan kemauan untuk terus belajar.
Sementara itu, alon-alon waton kelakon tidak seharusnya dimaknai sebagai ajakan untuk bergerak lambat. Hasto mengaitkannya dengan prinsip faster is slower: tindakan yang terlalu tergesa-gesa justru berisiko menimbulkan kesalahan dan memperlambat proses. Dalam pelestarian budaya, kreativitas memang dibutuhkan, tetapi tidak semestinya hanya mengejar tren atau perhatian sesaat. Sebaliknya, alasan menjaga tradisi juga tak bisa menjadi pembenaran untuk menolak semua perubahan.
Hasto berharap generasi muda dan pemimpin berikutnya berani melahirkan mahakarya budaya baru, bukan hanya merawat peninggalan yang sudah ada. Harapan itu membutuhkan ekosistem yang melibatkan pemerintah, pelaku seni, komunitas, dan warga, bukan sekadar acara seremonial. Kebudayaan dapat bersinggungan dengan pendidikan, kreativitas, pariwisata, ekonomi, hingga kualitas hidup masyarakat.
Talkshow RUMAKET yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta tersebut menegaskan bahwa pelestarian tak cukup dilakukan dengan mengimbau anak muda agar mencintai budaya sendiri. Mereka perlu diberi ruang untuk mengenal, menafsirkan, dan mengembangkan warisan budaya sesuai konteks zaman, tanpa kehilangan pemahaman terhadap nilai dasarnya.
“Tanggung jawab tersebut tidak hanya berada di tangan generasi muda. Pemerintah dan para pemangku kepentingan perlu membuka lebih banyak ruang serta mengaktifkan kegiatan budaya yang sesuai dengan konteks kehidupan sekarang,” tegas Anisa. *(Adv)
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: PESTA BONEKA #10 – Bergandengan Tangan Menandai Perjalanan Dua Dekade Papermoon Puppet Theatre Mendunia lewat Teater Boneka atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan