Di balik kemeriahan Hari Anak Nasional di Candi Prambanan, ada kisah penuh lika-liku dari guru SLB yang berjuang meredam amukan dan melatih kemandirian anak penyandang autisme.
***
Keriuhan di Ibarbo Park, sebuah taman wisata yang ramai di Jalan Magelang-Jogja, mendadak pecah oleh suara teriakan marah. Seorang pengunjung meradang saat ponsel pintar miliknya tiba-tiba diserobot paksa oleh seorang anak laki-laki.
Situasi memanas. Pengunjung itu mengomel panjang lebar, menuntut penjelasan atas kelakuan yang dianggapnya sangat tidak sopan.
Di tengah ketegangan itu, seorang pria dewasa melangkah maju dengan tenang. Ia adalah Abdu Somad.
Dengan nada bicara yang datar dan penuh kehati-hatian, Somad meminta maaf dan menjelaskan bahwa anak tersebut menyandang autisme.
Anak-anak dengan kondisi ini memang kerap mengalami tantrum, sehingga bisa melakukan hal-hal di luar dugaan, termasuk merebut barang orang lain secara tiba-tiba.
Somad pun meminta maklum. Berkat penjelasannya, situasi akhirnya mereda, meski Somad sadar betul gurat kekesalan masih tersisa jelas di wajah pengunjung tadi.
23 tahun melatih kemadirian siswa autis
Insiden penyerobotan ponsel, beberapa bulan lalu itu, hanyalah rutinitas biasa bagi Somad. Pria asal Banyuwangi ini adalah salah satu guru di SLB Fredofios, sebuah Sekolah Luar Biasa yang beralamat di Condongcatur, Kabupaten Sleman.
Dedikasinya tidak main-main. Somad sudah menghabiskan waktu selama 23 tahun mengajar di sana, terhitung sejak sekolah tersebut pertama kali dibuka.
“Saya ini prasasti sekolahnya, Mas,” ujar Somad diikuti tawa, saya mengobrol dengan Mojok, Rabu (22/7/2026).
SLB Fredofios sendiri secara khusus memusatkan pendidikannya untuk anak-anak penyandang autisme. Mereka menangani siswa dengan rentang usia yang cukup menantang, yakni 10 hingga 23 tahun. Di sekolah ini, program pembelajarannya dirancang khusus, bertumpu pada terapi perilaku, pelatihan motorik seperti membatik, hingga kelas kesenian.

Berhadapan dengan anak penyandang autisme membutuhkan pemahaman yang melampaui standard kesabaran biasa. Somad menjelaskan, autisme pada dasarnya adalah kondisi di mana sistem saraf di otak terbentuk dengan cara yang berbeda.
Kondisi ini hadir dalam spektrum yang sangat luas. Misalnya, ada siswa yang sama sekali tidak bisa berbicara secara verbal, tapi memiliki fokus dan motorik luar biasa.
Di sisi lain, ada yang kemampuan kognitifnya sangat baik, tapi sangat kesulitan saat dihadapkan pada interaksi sosial.
“Kalau di sekolah kami, kebanyakan mereka yang secara motorik itu bagus, tapi secara kognitif kurang,” jelasnya.
“Kami yang dibully siswa. Kena KDRT terus”
Sementara ledakan emosi alias tantrum, yang sering mereka alami, sebenarnya dipicu oleh kelebihan beban sensorik di otak mereka. Menurut Somad, suara bising di tempat umum yang biasa saja bagi orang kebanyakan, bisa terasa amat menyiksa telinga penyandang autisme.
Ketidakmampuan menyampaikan keinginan secara verbal membuat mereka bertindak impulsif, seperti merebut makanan atau barang orang lain karena tertarik pada tekstur atau bentuk visualnya.
Saat ditegur secara keras, insting pertahanan diri mereka merespons dengan kemarahan, bahkan pukulan fisik. Mengingat usia siswanya ada yang mencapai 20-an tahun, tenaga amukan mereka jelas setara dengan orang dewasa.
Somad sudah maklum dengan situasi ini.
“Kalau sama anak-anak, guyonannya itu, ya ibaratnya kita ini dibully mereka tiap hari. Tiap hari kena KDRT,” ujarnya seraya tertawa ringan.
Melatih siswa autis dengan outing class
Menyadari rentannya anak-anak ini saat berada di ruang publik, SLB Fredofios menerapkan program outing class secara rutin sebulan sekali. Ibarat memindahkan sekolah ke luar kelas, program ini bertujuan melatih anak-anak berinteraksi langsung dengan dunia nyata.
Perjalanan program ini bukannya tanpa kendala. Pada masa-masa awal, pihak sekolah hanya berani membawa empat orang siswa. Itu pun harus dikawal ketat oleh delapan guru pendamping.
Yang dipelajari pun sangat sederhana: tata cara naik bus TransJogja dari Halte UPN, turun di Halte Terminal Condongcatur, lalu langsung kembali lagi.
“Itu pun awal-awal, Mas, kami dua orang memegangi satu anak. Takut mengamuk di dalam bus,” jelasnya.
Seiring berjalannya waktu dan meningkatnya regulasi emosi para siswa, keberanian sekolah turut bertambah. Saat ini, Somad dan rekan-rekannya sanggup membawa hingga 18 siswa untuk outing class dengan pengawalan hanya empat guru pendamping.
Mereka pun mulai berani menembus kawasan wisata yang ramai dan penuh pemicu sensorik, seperti Ibarbo tadi. Kejadian-kejadian lucu, canggung, hingga merepotkan sudah pasti terjadi.
Namun, bagi Somad, insiden semacam itu adalah bagian tak terpisahkan dari lika-liku melatih kemandirian siswanya.
Komitmen InJourney di Hari Anak Nasional
Perjuangan panjang memupuk kemandirian inilah yang akhirnya membawa Somad dan murid-muridnya berdiri di pelataran Candi Prambanan pada Rabu (22/7/2026).
Hari ini, Lapangan Garuda dipenuhi ingar-bingar perayaan Hari Anak Nasional yang digelar oleh InJourney Community Care. Acara megah tersebut mengusung tema “Wujudkan Mimpi Lestarikan Indonesia”.
Di atas panggung acara, salah satu siswa SLB Fredofios bernama Muhammad Harun Arrofiq maju ke depan. Secara simbolik, ia menerima bantuan peralatan sekolah. Momen ini menjadi jembatan antara realitas sunyi di sekolah luar biasa dan gegap gempita perayaan di ruang publik.
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharasa, yang hadir dalam acara tersebut memberikan apresiasi penuh. Baginya, mengenalkan nilai sejarah dan budaya Candi Prambanan harus dilakukan sejak usia dini. Hari Anak Nasional pun menjadi momentum yang paling tepat untuk menanamkan nilai-nilai tersebut kepada generasi sekarang.
Pesan senada diutarakan oleh Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko InJourney, Joel Siahaan. Ia menegaskan bahwa Candi Prambanan lebih dari sekadar tumpukan batu bersejarah. Menurutnya, candi ini membawa pesan peradaban yang harus diwariskan ke generasi mendatang.
“Oleh karena itu, InJourney berkomitmen untuk terus menjadikan kawasan candi sebagai ruang kumpul dan bertukar pikiran yang terbuka. Dan yang paling penting, ruang tersebut harus memastikan tersedianya sisi inklusivitas bagi siapa saja,” pungkasnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Jadi Perempuan Satu-satunya di Lomba Dalang Anak Klaten, Bocah 13 Tahun Ini Buktikan Wayang Tak Kenal Gender atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan