“Kalau orang bilang slow living, hidup saya (di Delanggu, Klaten) bisa dibilang begitu.” Riil slow living sekaligus frugal living, karena kebutuhan pangan sehari-hari bisa ditopang dari kebun sendiri. Begitu kata Muksin, seorang petani muda asal Desa Kaibon.
Ketika narasi slow living dan frugal living merebak sejak 2024, Klaten menjadi salah satu daerah yang tidak luput dipertimbangkan. Klaten masuk dalam kawasan Solo Raya yang menempati posisi ke-8 daerah ideal untuk slow living berdasarkan hasil riset Tim Jurnalis Data Kompas pada 2025.
Nah, dari 26 kecamatan, 391 desa, dan 10 kelurahan di Klaten, Desa Kaibon, Kecamatan Delanggu, dibuktikan Muksin menjadi daerah yang menjawab kebutuhan slow living dan frugal living tersebut.
Mengolah yang tumbuh dari tanah
Belakangan ini, Muksin dan sang istri tengah coba-coba membuat minuman dari olahan bunga telang dan rosella yang mereka tanam sendiri. Memang belum sepenuhnya diorientasikan untuk komersial.
Namun, belakangan saat ia mencoba menjualnya dalam bentuk minuman dingin, ternyata bisa bernilai ekonomi—-jadi alternatif minuman segar di terik siang.
Dua jenis minuman tersebut lah yang disuguhkan Muksin saat saya bertamu di Sanggar Rojolele, Desa Kaibon, Delanggu, mengikuti rangkaian acara Festival Mbok Sri Ke-9, Sabtu (26/9/2026) siang.
Tidak hanya itu, saya juga disuguhi satu tampah berisi aneka rebusan: kacang, sukun, rebusan, dan beberapa jenis jajanan pasar. “Kalau di rumah, makanan saya—selain beras—ya palawija seperti ini,” ungkap Muksin. Selaras dengan konsumsi sehat—dari rebusan—yang belakangan juga tengah ramai diarusutamakan.
Kembali ke sawah dan kebun saat teman sebaya ke pabrik
Muksin sebenarnya sudah akrab dengan sawah dan kebun sejak kecil. Semasa SD, ia kerap ikut ibunya yang menjadi penggarap sawah orang lain. Lalu ketika SMP, ia bahkan mulai ikut menggarap kebun orang.
“Pulang sekolah (SMP) ke ladang, ikut kerja, buat uang jajan lah,” ujar Muksin.
Namun, selepas lulus SMA, ia memang mulai agak berjarak dengan sawah dan kebun. Apalagi ibunya juga tidak memiliki lahan sendiri.
Tidak sedikit teman sebaya Muksin yang bekerja di pabrik. Bagi mereka, kerja di pabrik jauh lebih memberi kepastian hidup karena gaji bulanan.
“Karena saya nggak bisa terikat, kalau di pabrik kan harus terikat, jadi saya nggak ikut lah. Saya pilih nguli,” kata Muksin.
Sampai akhirnya, ada momen yang membuat Muksin termenung. Ironis rasanya sebagai warga Delanggu—yang dikenal sebagai penghasil beras—tapi beras saja masih harus beli. Jika ia bisa menanam kebutuhan pangannya sendiri, ia tentu tidak harus beli-beli lagi.
Muksin kemudian mulai belajar bertani dari Sanggar Rojolele di Desa Kaibon. Ia dipasrahi menggarap lahan yang semula mangkrak untuk ditanami padi dan beragam jenis sayuran.
“Saya mulai belajar otodidak juga cara membuat pupuk organik. Lihat di Facebook caranya mengolah kembang kemangi, daun serai, dan pelepah pisang buat jadi pupuk,” beber Muksin. “Jadi sama sekali aku nggak pakai kimia.”
Bisa slow living dan frugal living karena kebun sendiri di Delanggu, Klaten
Meski baru memulai kembali menjadi petani, tapi hasilnya ternyata terbukti membawa Muksin ke slow living dan frugal living sebagaimana yang dibicarakan banyak orang.
Bagaimana tidak slow living, ia tidak harus terikat jam kerja untuk aktivitasnya di sawah dan kebun. Untuk kebutuhan pangan pun ia tidak perlu lagi keluar uang untuk membeli alias frugal living.
“Saya garap petak sawah 20×20. Panennya tiap 95 harian lah. Sekali panen itu cukup buat hidup keluarga saya (seorang istri dan dua anak) selama empat bulan kedepan,” beber Muksin.
“Kalau sayur, ada kira-kira ya 46 jenis lah. Ada kangkung, pakcoy, kacang panjang, tomat, cabai, labu madu dan lain-lain. Tinggal petik, olah sendiri,” sambungnya.
Belakangan ini, Muksin juga mulai menanam buah seperti timun, melon, dan semangka. Semuanya sudah berbuah dan telah bisa dikonsumsi sendiri oleh Muksin. Lalu ada pula tanaman jamu-jamuan seperti jahe, kunyit, kumis kucing, dan sejenisnya.
“Ibarat kalau butuh jamu apa, pegal-pegal misalnya, saya tinggal ambil dan buat sendiri. Cara buatnya lihat di internet, belajar dari situ,” tutur Muksin.
“Banyak pilihan lah untuk makan. Kalau nggak makan nasi, makan kolak pisang, pisangnya dari tanam sendiri. Kalau bosen kolak, ya cukup jadi pisang rebus,” jelasnya. Seperti itulah gambaran kehidupan slow living dan frugal living yang Muksin rasakan di Desa Kaibon, Delanggu, Klaten, setelah memutuskan “kembali lagi” ke sawah dan kebun. Apalagi memang Delanggu, Klaten, diberkahi tanah subur dan sumber air melimpah.
Mengajak anak-anak tidak anti-sawah
Berkaca dari kehidupan bertopang dari sawah dan kebun yang Muksin jalani, ia pun mulai mengenalkan dua anaknya dengan tanah sekaligus tanaman di kebun.
Muksin kerap mengajak dua anaknya (satu masih SD, satu berumur di bawahnya) ke kebun. Sekadar untuk main-main hingga ikut memetik sayuran.
“Yang penting mereka akrab dulu dengan kebun. Kelak mereka juga jangan sampai anti-sawah anti-kebun,” tutur Muksin.
“Sayang, kalau berkah tanah subur dan sumber air melimpah di Delanggu, Klaten, ini nanti justru nggak punya regenerasi petani. Sementara dari bertani dan berkebun bisa mandiri pangan,” imbuhnya. Di Delanggu, Klaten, Muksin menunjukkan bahwa pertanian menjadi sektor potensial, terlebih buat mereka yang mendambakan slow living dan frugal living. Asal mau belajar saja. ***(Adv)
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Tinggalkan Profesi Dokter untuk Jadi Penasihat Kelompok Tani, Optimalkan Anugerah Tanah Klaten yang Subur atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
