Festival Mbok Sri menjadi salah satu festival tahunan yang bisa menjadi tujuan di Klaten. Diinisiasi oleh warga dan petani, festival ini bisa menjadi ruang bagi yang ingin belajar soal kedaulatan pangan.
***
Dalam perkara festival, Klaten ternyata tidak kalah dari Jogja dan Solo sebagai dua daerah yang sudah dikenal memiliki ragam jenis festival. Kabupaten ini punya sebuah festival “hidden gem”, yaitu Festival Mbok Sri, tepatnya di Desa Kaibon, Kecamatan Delanggu.
Festival ini digagas oleh warga dan petani. Tahun ini sudah menginjak tahun ke-9 penyelenggaraan. Festival Mbok Sri menjadi tempat untuk menepi dari hiruk-pikuk urban tapi tetap produktif. Karena festival ini dirancang tidak hanya sebagai festival seni dan perayaan kebudayaan semata, tapi menjadi sumber wacana baru.
Kekuatan utama festival ini terletak pada transformasi warga desa dari sekadar objek pembangunan menjadi subjek yang memiliki agensi penuh atas narasi dan pengetahuannya. Praktik gotong royong dihidupkan kembali melalui partisipasi aktif seluruh unsur masyarakat; mulai dari sepuh hingga pemuda, dalam mengelola dapur umum kolektif serta merancang instalasi panggung dari material lokal.
Festival Mbok Sri Klaten: simbol kedaulatan petani dari praktik-praktik kecil
Kekuatan itu tercermin dari cerita Muksin (30), salah seorang petani muda setempat yang saya temui di Sanggar Rojolele pada Sabtu (26/9/2026) sore.
Sejak dua bulan sebelum festival, Muksin mengajak kalangan muda di Desa Kaibon, Delanggu, untuk mengumpulkan rerumputan, potongan bambu, kayu, dan bagian-bagian dari tanaman yang bisa dikreasikan menjadi dekorasi. Hasilnya, jadilah stand, gapura, hingga pernak-pernik hiasan Festival Mbok Sri 2026. Setiap warga juga tampak gotong-royong untuk menyemarakkan festival ini dalam porsinya masing-masing.
Pendiri Sanggar Rojolele sekaligus Direktur Festival Mbok Sri, Eksan Hartanto, menjelaskan bahwa FMS—demikian festival ini disebut—telah tumbuh sebagai ruang perjumpaan, belajar, dan bekerja bersama untuk membicarakan kembali persoalan kehidupan agraris.
Sejak 2017, festival berkembang dari inisiatif komunitas menjadi gerakan budaya agraria yang melibatkan kelompok tani, kelompok perempuan, pemerintah desa, pelaku usaha lokal, komunitas seni, akademisi lintas disiplin, kelas, dan generasi.
“Dengan demikian, kedaulatan petani tidak hanya dibicarakan sebagai persoalan kebijakan. Ia juga dibangun melalui praktik-praktik kecil yang berlangsung setiap hari,” ujar Eksan.
“Praktik itu yakni ketika warga bekerja bersama, pengetahuan pertanian dibagikan, hasil panen diperdagangkan melalui ruang ekonomi lokal, koperasi dirintis, anak muda diajak mengenal kembali kehidupan agraris, dan masyarakat berkumpul untuk merawat ingatan serta identitas desanya,” sambungnya.
Mengenal kembali khazanah tanaman untuk kedaulatan pangan dari desa
Salah satu rangkaian acara di Festival Mbok Sri 2026 yang saya ikuti hari itu adalah Jagongan Tani bertajuk “Tanah untuk Pertanian, Pangan oleh Perempuan”, yang diikuti oleh mayoritas perempuan dari kalangan ibu-ibu dan anak-anak muda.
Dalam jagongan tersebut, Chandra Kirana Prijosusilo, peneliti pangan nusantara yang menjadi pembicara mengajak kami untuk mengenal kembali khazanah tanaman pedesaan sebagai bagian untuk mewujudkan kedaulatan pangan dari desa.
Perempuan yang akrab disapa Kiki tersebut menjelaskan, pedesaan Jawa sebenarnya memiliki banyak sekali khazanah perihal tanaman. Salah satunya adalah “tukulan”, yakni tanaman yang tumbuh tidak sengaja. Tanaman tersebut sebenarnya memiliki nilai konsumsi, tapi kerap kali justru tersingkirkan karena diistilahkan dengan “liar”.
“Dulu nggak ada istilah (tanaman liar). Orang desa Jawa punya istilah tanduran dan tukulan. Kalau tanduran itu memang sengaja ditanam. Kalau tukulan itu tumbuh tanpa sengaja. Tapi justru dari tukulan itu nenek moyang kita menemukan obat-obatan (herbal),” beber Kiki.
Mengenal khazanah pangan lokal tersebut kemudian bisa menjadi pintu masuk untuk menuju kedaulatan pangan dari desa. Pasalnya, term “liar” yang selama ini dipakai pada akhirnya membuat sejumlah jenis tanaman lokal mengalami kepunahan karena tersingkirkan.
Mengambil jarak dari logika pasar
Kepunahan, lanjut Kiki, bahkan juga menyasar tanaman-tanaman “mainstream” karena tidak ada lagi yang menanamnya. Padahal, setiap jenis varietas punya fungsi pangan yang berbeda dan khas.
“Saya pernah meneliti di sebuah desa di Jambi. Di sana ada 14 jenis durian. Jadi durian buat lempok (makanan khas Jambi) beda, buat dimakan sebagai buah itu juga beda,” kata Kiki.
“Mirip pisang. Indonesia itu punya 400-an jenis pisang. Yang buat getuk, buat pisang goreng, atau langsung dimakan, itu beda-beda. Kalau cuma punya jenis, kita akan kehilangan kenikmatan-kenikmatan olahan yang beragam,” sambungnya.
Salah satu faktor kepunahan tersebut juga karena masyarakat mulai menanam dengan logika pasar: menanam yang hanya bisa dijual dan banyak diminati pasar.
Padahal, menurut Kiki, bisa loh menanam memang untuk diri sendiri atau untuk desa. Menanam untuk dikonsumsi/memenuhi kebutuhan pangan sendiri, seperti dilakukan Muksin dalam tulisan sebelumnya.
Pengetahuan-pengetahuan semacam itulah yang ditularkan di Festival Mbok Sri di Klaten. Sehingga tidak hanya khusus warga Klaten, tapi warga dari daerah-daerah lain pun bisa datang untuk belajar sekaligus menggugah kesadaran perihal kedaulatan pangan.
Tahun ini, Festival berlangsung selama tiga hari: Jumat-Minggu (25-27 September). Di tahun-tahun mendatang, Festival Mbok Sri bisa menjadi pilihan jujukan di Klaten. Di antara area persawahan dan perkebunan, mengikuti festival ini juga menjadi healing produktif. Karena selain sharing pengetahuan, festival ini juga diwarnai ragam kegiatan kebudayaan, hiburan, dan menyediakan banyak stand-stand kulineran.
Perhatian pada lahan dan regenerasi petani
Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, pun tidak pelak mengapresiasi penyelenggaraan festival sarat makna tersebut. Ia hadir dalam Kirab Mbok Sri dan Wiwitan yang menjadi puncak rangkaian festival tahunan tersebut pada Minggu, (27/9/2026).
“Tradisi wiwitan mengingatkan semua bagaimana kita untuk menikmati hasil, harus membersamai alam,” ujar Hamenang kepada awak media.
Festival Mbok Sri, yang tahun ini mengusung tema “Seni Bertahan Petai: Tatag Ngupaya, Jejeg Urip”, bagi Hamenang jadi momentum penegasan bahwa pertanian di Klaten harus dipertahankan. Mengingat, pertanian di Klaten memang menghadapi ragam tantangan, salah satunya adalah alihfungsi lahan.
Maka dari itu, Hamenang menegaskan kalau Pemkab tetap berkomitmen untuk terus mempertahankan lahan pertanian, yakni melalui penetapan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) sehingga memberi kepastian hukum serta perlindungan sawah produktif di Kabupaten Klaten.
Adanya Festival Mbok Sri, yang sudah menjadi festival tahunan, juga diharapkan bisa menjadi wadah kolaborasi antara Pemerintah dan komunitas masyarakat. Termasuk dalam upaya menjaga regenerasi petani di Klaten yang selama ini dikenal sebagai lumbung pangan nasional.***(Adv)
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Belajar Bertani dari Dasar, Akhirnya Hidupkan Ketahanan Pangan dari Lahan Kosong di Delanggu Klaten atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
