MilkLife Superliga Junior 2026 bikin Indonesia dikenal oleh dunia. Para atlet dan pelatih asing membawa cerita berkesan dair dalam dan luar lapangan.
***
GOR Djarum di Jati, Kudus, Jawa Tengah, sudah bergemuruh sejak pagi. Memasuki sore hari pada Jumat (6/11/2026), suasananya kian semarak. Suara drum makin kencang, terompet makin bising, dan teriakan dari dua tribun yang terisi penuh saling bersahutan, seolah berlomba menjadi yang paling nyaring.
Di tengah lapangan, Jasiulewicz Weronika bersiap menghadapi tim Singapore Badminton Academy di fase grup. Karena tak memahami bahasa Indonesia, ia pun tak tahu apa yang diteriakkan oleh para penonton di tribun.
Namun, teriakan-teriakan itu cukup membuat pebulu tangkis putri U-17 asal Polandia tersebut merasa terintimidasi. Ia menarik napas panjang, menunduk sebentar, lalu mencoba menatap lurus ke seberang net.
Gemuruh yang tak pernah dijumpai di Polandia
Ia mengaku, suasana riuh seperti itu hampir tak pernah ia temui di negaranya. Di Polandia, pertandingan level junior biasanya berlangsung kurang semarak. Penontonnya sedikit, dan tepuk tangan hanya datang sesekali dari orang tua maupun pelatih.
Oleh karena itu, ketika gemuruh di Kudus menyergap telinganya, kepercayaan dirinya sedikit goyah.
“Di Polandia, pertandingan junior biasanya sepi. Di sini rasanya seperti final turnamen besar. Saya kagum, tapi juga takut,” kata Weronika saat ditemui di sela-sela kompetisi.
Rasa minder itu bahkan berubah menjadi panik. Dua poin pertama lepas dari tangannya, dan sorak-sorai penonton terasa ikut memburunya. Padahal, ia bukan sedang bermain di partai puncak, tetapi baru berjuang di fase grup. Bagi remaja seusianya, gemuruh sebesar itu sudah cukup membuat mentalnya agak down.

MilkLife Superliga Junior 2026, panggung 707 atlet muda
Gemuruh yang dirasakan Weronika itu memang menjadi napas utama dari MilkLife Superliga Junior 2026, turnamen bulu tangkis junior beregu yang diselenggarakan oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation bersama PBSI dan MilkLife di GOR Djarum pada 2-8 November 2026.
Format kompetisi ini mengadopsi Piala Thomas dan Uber. Tim putra dan putri saling berhadapan di empat kelompok usia, U-13, U-15, U-17, dan U-19.
Sebanyak 707 pebulu tangkis muda dari delapan negara ikut serta demi memperebutkan total hadiah lebih dari Rp1,4 miliar. Karena setiap partai sangat menentukan nasib tim, tribun penonton nyaris tak pernah benar-benar tenang.
Bagi tim Polandia, gemuruh itu memang tak berujung pada tiket semifinal. Bersama Amerika Serikat, mereka harus tersingkir oleh dominasi klub-klub Asia di fase grup. Namun, papan skor nyatanya hanya mencatat sebagian kecil cerita dari tujuh hari penyelenggaraan di Kudus.
Di kota yang menjadi markas besar PB Djarum itu, anak-anak muda dari delapan negara belajar banyak hal yang tidak pernah diajarkan oleh pelatih mereka di lapangan. Menariknya, mereka tidak sendirian dalam merasakannya.
Sensasi bermain di negeri orang selalu berbeda
Rasa gentar saat bertanding di negeri orang, sebagaimana dirasakan Weronika, juga pernah dialami Radithya Bayu Wardhana. Pebulu tangkis Indonesia yang juga ikut bermain di Kudus ini baru saja menjuarai World Junior Championships (WJC) di Kairo, Mesir, pada 5-17 Oktober 2026 lalu. Di sanalah ia merasakan menjadi sosok orang asing.
Radithya bercerita, mentalnya sempat goyah setiap kali memasuki arena. Meski itu bukan panggung internasional pertamanya, dan atmosfer di Kairo tak seganas di Indonesia, rasa gugup tetap datang menghampiri.
Untungnya, ia pandai mengendalikan diri. Di luar lapangan, tepatnya saat waktu istirahat, ia punya cara tersendiri agar tetap merasa berada di Indonesia. Radithya gemar menonton anime dan siniar (podcast) Raditya Dika di YouTube.
Sambil rebahan di kamar hotel dengan layar ponsel yang menyala, tawa dari tayangan itu membuatnya sejenak lupa bahwa rumahnya berjarak ribuan kilometer.
“Waktu masuk lapangan, jujur, mental saya agak turun. Beda banget sama main di rumah. Rasanya kayak sendirian,” ujar Radithya. “Makanya pas istirahat saya nonton anime atau dengerin podcast Raditya Dika. Itu bikin saya merasa masih di Indonesia,” tambahnya.

Dengan cara sederhana itulah, ia sanggup melewati pertandingan demi pertandingan hingga akhirnya pulang membawa gelar juara.
Beberapa pekan kemudian, ia kembali bermain di Kudus yang merupakan kandangnya sendiri. Peran pun seketika terbalik. Kini, justru lawan-lawannyalah yang harus bersusah payah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang tidak mereka kenal.
Pengalaman di MilkLife Superliga Junior bikin pelatih asing kagum
Rasa asing bercampur kagum nyatanya tidak hanya dirasakan para atlet. Di bangku pelatih, Mohd Nazri Bin Naser, Pelatih Tim Bulu Tangkis Bukit Jalil Sports School (BJSS) Malaysia, juga mencatat banyak hal menarik.
Hal yang paling menyita perhatiannya adalah bagaimana cara Indonesia secara serius menyiapkan anak-anak sejak usia dini.
Menurut Nazri, kunci utamanya di Indonesia, ada pada sistem klub. Di Kudus, tempat turnamen bergengsi ini digelar, PB Djarum rutin membuka audisi umum untuk menjaring bibit unggul dari berbagai daerah.
Pada tahun 2026, misalnya, dari ribuan peserta yang memadati arena untuk berebut tempat, hanya segelintir atlet pilihan yang berhak meraih Djarum Beasiswa Bulutangkis dan bergabung dengan klub. Jalur pembinaan ketat seperti inilah yang di masa lalu pernah mengantarkan talenta besar seperti Kevin Sanjaya menembus pelatnas.
Rantai pembinaan itu pun tidak berhenti di Kudus. PB Djarum aktif menggandeng klub-klub mitra di 19 kota, dan sejak 2024 menggelar kejuaraan khusus bagi mereka agar para atlet muda memiliki jam terbang tambahan di luar kalender kompetisi resmi.
Turnamen semacam MilkLife Superliga Junior 2026 memperpanjang ekosistem tersebut. Anak-anak tidak lagi hanya bertanding sendirian, tetapi belajar memikul tanggung jawab membawa nama klub dalam format beregu.
“Pembinaan usia mudanya sangat bagus. Jalurnya jelas, anak-anak dipilih sejak kecil, dibina di klub, lalu diuji di banyak turnamen. Mentalnya terbentuk lebih cepat,” puji Nazri.
Malaysia sejatinya memiliki jalurnya sendiri, dan Nazri berdiri tepat di dalam sistem tersebut. Sekolah Sukan Bukit Jalil, tempatnya mengabdi, dibuka pada tahun 1996 sebagai sekolah olahraga elite pertama di Malaysia yang terintegrasi di kompleks Sukan Negara.
Bulu tangkis tercatat sebagai salah satu cabang olahraga inti yang pembinaannya mendapat sokongan penuh dari pemerintah melalui sinergi dengan akademi di bawah naungan Persatuan Bulu Tangkis Malaysia (BAM). Negara tersebut terus mencari bentuk dan formulasi terbaik untuk menjaga mata rantai tradisi juaranya.
“Kami punya sekolah dan akademi yang kuat. Tapi di sini kompetisinya lebih sering dan berlapis, dari klub sampai turnamen beregu seperti ini. Anak-anak cepat dewasa di lapangan,” ujar Nazri. Pengamatan strategis itu, tekadnya, akan ia bawa pulang sebagai bekal berharga untuk anak-anak asuhnya di Bukit Jalil.
Jahe menjadi oleh-oleh spesial dari Kudus
Namun, ternyata bukan hanya sistem pembinaan olahraga yang masuk ke dalam buku catatan perjalanan Nazri. Ada pula hal kecil yang diakui bakal membuatnya merindukan Kudus: minuman jahe. Di Kudus, untuk pertama kalinya pelatih asal negeri jiran itu mencicipi racikan minuman tradisional khas setempat tersebut.
Bagi orang Jawa, segelas wedang jahe hangat tentu bukan barang asing dan lazim disajikan oleh warga lokal untuk menghangatkan badan, apalagi saat hujan atau malam yang dingin. Namun, bagi sang tamu, racikan rempah lokal dengan sensasi pedas yang langsung menghangat di tenggorokan ini memberikan pengalaman rasa yang baru.
“Pertama kali saya minum seduhan jahe yang seperti ini di sini. Pedas, tapi hangat. Di Malaysia tak ada racikan khas yang persis seperti ini,” ujar Nazri sambil tersenyum lebar. “Saya pernah ke Jakarta, Jogja, tapi baru di Kudus mencicipi jahe.”
Pengalaman organik itulah yang senantiasa disebut oleh pihak penyelenggara sebagai bentuk diplomasi budaya. Bagi Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin, manfaat turnamen ini memang dirancang agar tidak berhenti hanya di dalam lapangan.
“Salah satu manfaat turnamen ini adalah diplomasi budaya. Anak-anak dari berbagai negara datang untuk bertanding, tapi mereka juga pulang membawa pengalaman tentang Indonesia. Bahkan sampai pada misalnya makanannya, keramahannya, dan cara kita menyambut tamu,” ujar Yoppy saat ditemui di Super Soccer Arena, Kudus, Sabtu (7/11/2026).
Meskipun, diplomasi budaya terkadang lahir dari hal-hal yang tak terduga. Dari pengalaman Weronika hingga dan Nazri, misalnya, pertukaran budaya itu justru terjadi secara alami di sela-sela pertandingan. Pada sorak-sorai penonton yang tak terduga, hingga pada segelas wedang jahe yang ditawarkan.
Ke depannya, penyelenggara sangat berharap ruang pertukaran budaya ini bisa menjadi makin luas. Mereka merencanakan untuk memperluas partisipasi partisipan dari negara-negara Eropa pada edisi tahun depan.
Artinya, kelak akan ada lebih banyak atlet muda yang datang ke Indonesia tanpa tahu kejutan magis apa yang sedang menunggu mereka di tribun GOR Djarum.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Otak dan Otot Kerja Tanpa Henti, Sistem 3×15 MilkLife Superliga Junior 2026 Jadi Ujian Mental Sesungguhnya Para Atlet Muda atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan