3 Cara Menghadapi TKA Tanpa Banyak Drama, Orang Tua Wajib Tahu Biar Anak Nggak Stres

Ilustrasi - beban pikiran membuat stres dan kecemasan (Mojok.co/Ega Fansuri)

Berikut ini adalah tiga cara menghadapi TKA tanpa perlu banyak drama. Orang tua bisa menyiapkan anak dengan cara yang santai tapi tetap efektif.

***

Grup WhatsApp wali murid belakangan ini mendadak lebih ramai dari biasanya. Topik utamanya tentu soal Tes Kompetensi Akademik atau TKA. Memasuki awal tahun 2026, bayangan tentang ujian yang akan dihadapi anak-anak kelas 6 SD dan 9 SMP membuat banyak orang tua mulai panik.

Insting pertama kita sebagai orang tua biasanya seragam. Kita buru-buru mencari tempat les tambahan, membelikan tumpukan buku latihan soal, dan mulai cerewet mengingatkan anak untuk terus belajar. 

Kita takut anak kita tertinggal. Kita cemas mereka tidak bisa masuk SMP atau SMA negeri favorit. Namun, sadarkah kita bahwa kepanikan ini justru membawa masalah baru yang jauh lebih mengkhawatirkan?

Gara-gara persiapan TKA, anak-anak jadi stres

Kecemasan orang tua ternyata langsung menular pada anak. Baru-baru ini, Komisi X DPR RI menyoroti sebuah fenomena yang menyedihkan di lapangan. Akibat tekanan persiapan TKA, banyak anak justru mengalami cognitive fatigue atau kelelahan kognitif.

Anak-anak dipaksa ikut les sana-sini setelah jam sekolah usai. Alih-alih fokus dan siap menghadapi ujian, mereka malah kelelahan

Lebih parah lagi, muncul masalah kesehatan mental seperti kecemasan berlebih (anxiety). Bahkan, ada siswa yang sampai merasa putus asa dan kehilangan harapan untuk bisa masuk ke sekolah impiannya karena merasa tekanan yang diberikan terlalu berat.

“Karena tidak wajib seperti UN, tapi harus dilakukan oleh semua anak kelas 6, kelas 9, dan kelas 12. Sehingga muncullah anak-anak ini masalah mental health, masalah kecemasan, masalah anxiety, masalah cognitive fatigue atau kelelahan secara kognitif, yang timbul sekarang,” ujar Anggota Komisi X DPR Adde Rosi Khoerunnisa.

Kondisi juga ini mendapat perhatian serius dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Sekjen PGRI, Dudung Abdul Qadir, mengingatkan para orang tua agar jangan sampai abai. Menurutnya, orang tua saat ini terlalu sibuk mengurus persiapan akademik anak, tapi lupa menyiapkan mental mereka. Padahal, kesiapan psikologis sama pentingnya dengan kemampuan menjawab soal. 

Jika mental anak sudah “patah” duluan sebelum ujian karena terus-terusan ditekan, hasil tesnya pun tidak akan maksimal.

Mengapa TKA terasa menakutkan?

Sebenarnya, apa yang membuat TKA ini terasa begitu berat? Pihak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) punya penjelasannya. Soal-soal TKA didesain untuk mengukur kemampuan nalar tingkat tinggi atau High Order Thinking Skills (HOTS).

Artinya, anak tidak lagi diuji seberapa banyak rumus matematika yang bisa mereka hafal. Mereka diuji untuk memahami cerita, menganalisis masalah, dan mencari jalan keluar secara logis. 

Kemendikdasmen mengakui bahwa anak-anak Indonesia itu cerdas, tapi absennya ujian berskala nasional selama beberapa tahun terakhir membuat mereka belum terbiasa menghadapi tekanan dan memecahkan soal berbasis nalar seperti ini.

Jika pertanyaannya butuh penalaran kritis, wajar saja kalau sistem belajar dengan cara dijejali latihan soal berjam-jam setiap hari malah membuat otak anak jadi buntu.

3 cara menghadapi TKA yang wajib diketahui orang tua

Di tengah situasi yang serba tegang ini, pemaparan dari Galih Sulistyaningra, pengajar sekaligus CEO Smartick Indonesia (aplikasi belajar matematika untuk anak usia 4-14 tahun), bisa menjadi semacam angin segar bagi kita para orang tua.


Dalam sesi live Instagram di akun @smartickindonesia, Galih menekankan bahwa menghadapi TKA tidak perlu penuh drama. Orang tua bisa menyiapkan anak dengan cara yang santai tapi tetap efektif. Ada tiga langkah praktis yang bisa langsung diterapkan di rumah tanpa harus membuat anak stres:

#1 berhenti “menjadi diktator”, mulailah mengobrol 

Fakta penting yang sering dilupakan banyak orang tua: TKA itu sifatnya opsional, alias tidak wajib. Jadi, langsung mendaftarkan anak dan memaksa mereka belajar mati-matian hanya akan membuat kita terlihat seperti penguasa otoriter di rumah.

Anak usia kelas 6 SD atau 9 SMP sudah bisa diajak berpikir logis. Alih-alih menyuruh, cobalah ajak mereka duduk santai. Jelaskan apa itu TKA dengan bahasa sederhana. Beri tahu mereka keuntungannya, misalnya, nilai yang bagus bisa dipakai untuk jalur prestasi saat mendaftar sekolah nanti. 

Setelah itu, tanyakan pendapat mereka. Jika mereka dilibatkan dalam mengambil keputusan dan menyusun target belajar, mereka tidak akan merasa sedang dihukum atau dipaksa. Ujian akan terasa seperti pilihan mereka sendiri.

#2 Buang jauh-jauh sistem kebut semalam (SKS), cukup 15 menit sehari! 

Karena soal TKA berbasis penalaran, Sistem Kebut Semalam (SKS) sudah pasti tidak akan mempan. Belajar bernalar tidak bisa dilakukan mendadak.

Galih menawarkan solusi yang jauh lebih masuk akal dan tidak menyiksa: rutinitas 15 menit sehari. Daripada memaksa anak belajar berjam-jam sampai mereka muak melihat buku, lebih baik biasakan mereka melatih otak secara konsisten setiap hari dalam waktu singkat.

TKA, Tes Kompetensi Akademik.MOJOK.CO
Cara Menghadapi TKA Tanpa Perlu Banyak Drama. Orang tua bisa menyiapkan anak dengan cara yang santai tapi tetap efektif. (Diolah dari pemaparan Galih Sulistyaningra, pengajar sekaligus CEO Smartick Indonesia. Di-generate menggunakan NotebookLM)

Sama seperti orang yang sedang membentuk otot di tempat gym, latihan yang rutin tapi terukur jauh lebih bagus dampaknya. Aplikasi seperti Smartick membuktikan bahwa 15 menit sehari sudah cukup untuk membangun stamina otak anak, asalkan dilakukan terus-menerus. 

Dengan begitu, anak tetap punya waktu untuk bermain, beristirahat, dan menjaga kewarasannya.

#3 Ingat, TKA bukan vonis masa depan. Apresiasi kegigihan anak apapun hasilnya! 

Poin ini mungkin yang paling penting untuk orang tua. Jangan pernah jadikan nilai TKA sebagai ajang untuk menghakimi anak. Jangan pernah keluar kalimat ancaman seperti, “Awas ya kalau nilainya jelek, kamu nggak masuk sekolah negeri!” Ancaman seperti itulah yang membuat anak stres dan hopeless seperti temuan DPR di atas. 

Ubah pola pikir kita. TKA adalah alat untuk memetakan kemampuan anak. Lewat tes ini, kita jadi tahu di mata pelajaran apa anak kita kuat, dan di bagian mana mereka butuh bantuan. Apapun hasilnya nanti, hargai proses belajarnya. 

Apresiasi kegigihan mereka. Jadikan hasil TKA sebagai bahan obrolan untuk memperbaiki cara belajar ke depannya, bukan sebagai alasan untuk memarahi mereka.

Pada akhirnya, TKA hanyalah satu dari sekian banyak tantangan yang akan dihadapi anak-anak kita. Ini bukan tentang siapa yang paling pintar menghafal, tapi bagaimana kita sebagai orang tua bisa mendampingi mereka saat menghadapi tekanan.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Tips Belajar IELTS dari Tukang Sayur Bergelar Master dari UIN Sunan Kalijaga yang Sudah Menjalani 6 Kali Ujian dan Tetap Gagal atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version