UTBK SNBT Modal Nekat dan Keberuntungan demi Undip: Tak Bawa Uang, Numpang Tidur di Masjid-Bergantung Makan dari Warga saat Kelaparan

Perjuangan UTBK SNBT demi lolos universitas terbaik di Semarang (Universitas Diponegoro alias Undip). Numpang di masjid hingga andalkan makan dari warga saat kelaparan MOJOK.CO

Ilustrasi - Perjuangan UTBK SNBT demi lolos universitas terbaik di Semarang (Universitas Diponegoro alias Undip). Numpang di masjid hingga andalkan makan dari warga saat kelaparan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Setiap pemberitaan media massa dan media sosial mulai ramai tentang UTBK SNBT, ingatan Hafid (26) selalu melesat ke masa beberapa tahun silam, saat ia masih menjadi pejuang untuk menjadi mahasiswa di salah satu universitas terbaik di Semarang: Universitas Diponegoro (Undip). Sebab, ujian seleksi masuk perguruan tinggi negeri itu memberi kesan perjuangan tidak terlupakan bagi pemuda asal Sarang, Jawa Tengah tersebut. 

Motoran dari Sarang demi UTBK SNBT ke universitas terbaik di Semarang (Undip), nyawa jadi taruhan

Setelah gagal SNBP (dulu SNMPTN), karena masih bertekad masuk salah universitas terbaik di Semarang yakni Universitas Diponegoro (Undip), Hafid tidak mau lekas berputus asa. Ia pun mengikuti UTBK SNBT (dulu SBMPTN) pada awal 2017-an. 

Dari Sarang, Rembang, ia motoran menuju Semarang. Sebenarnya perjalanan Rembang-Semarang tidak terlalu lama untuk ukurannya. Hanya 3 jaman. 

Namun, jalan Pantura adalah gelanggang mengerikan bagi pengendara motor. Apalagi jika melakukan perjalanan malam. Saat itu ia berangkat selepas Isya. 

“Sebenarnya feeling nggak enak sudah sejak di Batangan. Karena selain ramai truk dan bus malam yang ugal-ugalan, jalanannya kan nggak rata, bergelombang. Jadi agak montang-manting waktu bawa motor,” cerita Hafid, Minggu (29/3/2026). 

Nyawa Hafid benar-benar nyaris melayang ketika memasuki Demak. Dari arah berlawanan tiba-tiba ada truk menyalip dan memakan jalan Hafid dalam kecepatan tinggi. Hafid yang kaget sontak banting setir ke pinggir jalan berupa jalan setapak kecil, berlumpur, dan berbatu. 

Motor Hafid oleng kanan-kiri. Dengan kakinya, Hafid bertahan sebisa mungkin agar tidak motornya tidak terjatuh. Dan untung memang tidak terjatuh. Tapi jantungnya langsung berdegup kencang. Kematian berada persis di depan matanya, dalam momen motoran jauh pertamanya demi UTBK SNBT dan lolos universitas terbaik impiannya (Undip) tersebut. 

Numpang di masjid karena cuma bawa uang Rp200 ribu

Hafid berangkat ke Semarang dengan uang pas-pasan. Kira-kira hanya cukup untuk bensin. Maka tidak mungkin kalau ia menyewa kos harian. 

Namun, untungnya, di Semarang ada kakak tingkatnya semasa nyantri di Sarang yang menjadi marbot di sebuah masjid. Di sanalah ia menginap. 

“Sebagai santri, tidur di masjid kan biasa. Jadi waktu itu aku ya tidur di emperan masjid. Cuma pakai alas sajadah, dingin ya dingin,” kata Hafid. 

“Tapi ya bagaimana lagi. Waktu itu kan memang aku nggak minta saku orang tua. Cuma minta saku buat bensin sama uang buat daftar UTBK SNBT. Aku ke Semarang cuma bawa uang Rp200 ribu buat tiga haran,” sambungnya. 

Karena UTBK SNBT masih lusa hari dari hari tibanya Hafid di Semarang, maka ia pun turut membantu kakak tingkatnya dalam mengerjakan pekerjaan marbot: membersihkan masjid. Jadi tidak ada waktu belajar atau persiapan ujian. 

Perjuangan UTBK SNBT demi universitas terbaik Semarang (Undip), kelaparan sampai bergantung makan dari warga

Sejak awal menghubungi kakak tingkatnya, Hafid memang sudah memperhitungkan: bahkan tanpa uang pun ia akan tetap bisa hidup (hehehe). 

Benar saja. Selain numpang gratis di masjid—meski Hafid bayar dengan bantu-bantu jadi marbot—Hafid juga tidak khawatir soal makan. Karena untungnya warga sekitar masjid tersebut dermawan-dermawan. 

“Aku tiba di masjid malam itu ya kelaparan. Karena kan cuma modal makan dari rumah. Setelah itu ya kelaparan di jalan. Di masjid itu sampai pagi juga tidur dalam kondisi lapar, cuma kuganjal pakai air putih,” kata Hafid. “Kakak tingkatku kan sama nggak punya uangnya, ya nggak mungkin dia nraktir aku makan. Malah seharusnya kan aku yang nraktir dia makan.”

Namun, warga sekitar masjid memang punya kebiasaan suka berbagi makanan. Hanya saja, berbaginya di jam-jam selepas asar dan jam-jam selepas Isya. 

Dengan kata lain, kalau mau makan gratis, selama ini kakak tingkat Hafid biasanya memang harus menahan lapar dari pagi sampai sore. Kalau sore dan malam hari, kata kakak tingkat Hafid, sering kali warga ngasih makanan lebih dari rumahnya. Maklum, namanya juga warga di perumahan semi elite. Jadi kalau ada makanan sisa pasti disetor ke masjid. 

“Kata kakak tingkatku, kadang juga ngasih bahan mentah, seperti telur, sayur, beras. Terus kakak tingkatku masak sendiri. Hanya sesekali kalau lapar banget dia beli makan di warung. Tapi karena pas aku ke sana bahan pokok lagi kosong di kamar marbot, jadinya kami bergantung pada pemberian warga. Dan memang riil. Sore ada makanan, malam juga dikirim makanan sama warga,” kata Hafid. 

Karena sama-sama “senasib-sependeritaan”, Hafid dan kakak tingkatnya saling mengerti satu sama lain. Malah saling menertawakan kenekatan masing-masing. 

Kelaparan hingga pusing-pusing saat ujian sampai tepar

Karena kondisi tersebut, tidak heran jika situasi tidak mengenakkan menyerang Hafid saat menjalani ujian UTBK SNBT. Ia mendapat jadwal ujian di pagi-siang hari. Jam-jam yang tentu saja belum ada makanan masuk ke masjid. 

Tidak ada sarapan hari itu. Hafid pun tidak membeli sarapan di warung dengan asumsi: sudah biasa lapar dan makan dirapel di sore-malam hari. InsyaAllah aman lah. 

Ternyata, mikir keras menghadapi soal-soal dalam kondisi lapar amat menyiksa Hafid. Tubuhnya lemas, kepalanya pusing hingga kunang-kunang. 

“Pas nyantri dulu kan lapar di kelas tinggal tidur, beres. Kalau UTBK SNBT, taruhannya kan tembus Undip atau nggak. Jadi benar-benar kulawan rasa lapar dan kliyengan itu. Setelah ujian, balik ke masjid, langsung tepar aku,” ungkap Hafid. 

Singkat cerita, hasil UTBK SNBT memang tidak berpihak pada Hafid. Ia dinyatakan tidak lolos ke salah satu universitas terbaik di Semarang impiannya: Universitas Diponegoro (Undip). 

Ya Hafid menyadari, ia memang tidak layak masuk salah satu universitas terbaik di Semarang tersebut, karena lebih banyak nekat dan mengandalkan keberuntungan

“Akhirnya ikut ujian UIN di Kudus. Waktu itu masih STAIN menuju IAIN. Keterima lah di situ. Sudah aku syukuri. Di Kudus pun sama ceritanya: aku numpang di masjid, juga dari teman nyantri yang sudah lebih dulu jadi marbot di sana,” kata Hafid.

“Bedanya, di situ, walaupun modal keberuntungan, tapi lolos, hahaha,” pungkasnya. Hingga kini, setiap momen UTBK SNBT tiba, ingatan itu selalu muncul di kepala Hafid. Ia menertawakan kenekatannya: berani-beraninya modal nekat untuk masuk Undip yang dikenal sebagai salah satu universitas terbaik di Semarang. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Bimbel UTBK SNBT adalah “Penipuan”: Rela Bayar Mahal demi Rasa Aman dan Jaminan Semu, padahal Tak Pasti Lolos dan Kuliah di PTN atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version