Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa

Lulusan farmasi PTS Jogja foto keluarga

Ilustrasi - Foto keluarga (Mojok.co/Ega Fansuri)

Baik bagi mereka yang berkuliah di PTN maupun PTS, wisuda selalu menjadi momen yang dinantikan. Persiapan wisuda mampu menyaingi persiapan untuk kelulusan itu sendiri, tak terkecuali untuk salah seorang wisudawan dari Program Studi Farmasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jogja yang ingin memiliki foto keluarga bersama sang ayah.

Baginya, wisuda menjadi momen istimewa yang memungkinkan hal tersebut. Ia berharap, perayaan kelulusannya dari PTS di Jogja ini juga dapat mengukir momen yang belum pernah dimilikinya sedari kecil.

Namun sayang, harapannya tidak dapat terwujud sepenuhnya. Di hari wisuda yang ditunggunya, sang ayah justru harus segera dirawat ke rumah sakit jiwa (RSJ). Foto keluarga yang tidak pernah dimilikinya sedari kecil pun kembali gagal diwujudkan. 

Berjuang mati-matian untuk lulus dari PTS dalam 4 bulan tanpa figur ayah

Desi (24) namanya. Desi lahir dari keluarga sederhana yang selalu mendukungnya, meskipun sang ayah tidak selalu bisa hadir seperti orang tua umumnya dalam setiap fase kehidupan Desi.

Absennya figur ayah dalam hidup Desi termasuk dalam perjuangannya untuk lulus dari salah satu PTS di Jogja. Ia hanya menerima dukungan dari sosok ibu yang selalu menyemangatinya agar segera meraih gelar sarjana farmasi.

Meski terpisah tempat tinggal, sang ibu tidak jarang menyambangi kos Desi dari Kulon Progo ke Kota Jogja. Sesekali, ibu juga menginap untuk memberikan dukungan. 

“Untuk ibu saya dukungannya cukup mendukung, selalu menyemangati saya kok,” kata Desi kepada Mojok, Rabu (18/3/2026).

Sementara itu, Desi tidak bisa selalu menjenguk ayahnya dalam kondisi mengejar kelulusan. Ia turut absen dari kunjungan rutin ke yayasan rehabilitasi yang merawat ayahnya, mengingat ada konsentrasi yang harus dijaga selama merampungkan tugas akhir di Prodi Farmasi.

“Tapi, kalau ayah saya sih karena tidak tiap bulan saya jenguk ayah, kemarin jadi saya cuma bilang ke ayah saya jarang ke situ karena lagi skripsian aja,” kata dia. 

Bukan sekadar alasan, Desi bercerita bahwa dirinya memperjuangkan untuk menyelesaikan skripsi sesegera mungkin. Lulusan PTS di Jogja ini melakukan seminar proposal pada Juli 2025, kemudian mengikuti sidang tidak lama pada empat bulan setelahnya, pada Oktober 2025.

“Untuk skripsi alhamdulillah cepat sih kebetulan aku ikut proyek dosen,” kata dia.

“Terus lupa berapa bulannya, tapi saya seminar proposal 15 Juli 2025 terus sidangnya 29 Oktober 2025,” kata dia menambahkan.

Terbiasa hidup tanpa ayah yang dirawat di RSJ

Ketidakhadiran ayah bukan sesuatu yang baru dalam kehidupan Desi. Perempuan yang berkuliah di Program Studi Farmasi UAD Jogja ini mengaku, ayah telah menerima diagnosis skizofrenia sebelum dirinya lahir.

“Ayahku didiagnosis skizofrenia dari sebelum aku lahir,” kata dia.

Sedari kecil, Desi sudah familiar dengan RSJ dan yayasan rehabilitasi. Keakrabannya dengan dua tempat yang akan menjadi mengerikan untuk orang lain ini disebabkan sang ayah yang telah menetap di sana sejak enam tahun yang lalu.

Dirinya dan ibu memutuskan untuk menitipkan ayah di RSJ dan yayasan rehabilitasi sebab perilakunya yang berada di luar kendali, bahkan cenderung membahayakan mereka. Dalam satu waktu, Desi bercerita, sang ayah pernah lupa meminum obat sehingga kondisinya semakin parah.

Situasi rumah menjadi tidak terkendali, bahkan tidak hanya sekali ayah mencoba untuk membunuh ibu.

“Sejak 2020, kami memutuskan menempatkan ayah di yayasan agar beliau bisa mendapat perawatan yang lebih terkontrol dan aman untuk semua. Karena ketika ayah lupa minum obat, kondisinya bisa kambuh dan situasi di rumah menjadi tidak terkendali,” kata dia.

“Bahkan, ayah beberapa kali ingin membunuh ibu,” tambah dia.

Menyaksikan parahnya kondisi ayah saat sedang tidak stabil, Desi juga semakin akrab dengan perundungan. Ia mengatakan, pernah di-bully karena kondisi ayahnya yang berbeda.

“Waktu kecil, aku juga pernah di-bully karena kondisi ayah. Dibilang punya ‘ayah gila’,” kata dia.

Gagal foto keluarga di wisuda karena kondisi sang ayah

Karena kondisi ayah, Desi bilang, dirinya belum pernah memiliki foto keluarga.

Foto itu menjadi salah satu alasan Desi mempersiapkan wisudanya dari Prodi Farmasi dengan baik. Sedari jauh-jauh hari, Desi telah menghubungi yayasan rehabilitasi untuk meminta izin agar ayah dapat menghadiri wisudanya.

Ia juga telah membelikan baju untuk ayah, senada dengan dirinya dan ibu, serta sepatu.

Tak hanya itu, Desi telah memesan make up artist dan dua fotografer untuk memastikan dirinya mendapatkan foto keluarga yang proper bersama sang ayah. Ia juga memikirkan dengan matang bahwa tidak memungkinkan untuk ayahnya hadir pada hari wisuda, yang dilaksanakan pagi hari. Dengan begitu, Desi mempersiapkan fotografer kedua untuk foto keluarga pada sehari setelah wisuda.

“Jadi nggak ada yang jemput ayah kalau pagi-pagi pas hari H wisuda, makanya kami memutuskan untuk foto keluarga H+1 wisuda,” kata dia.

Namun lagi, rencananya tidak berjalan mulus. Ayah harus segera kembali ke RSJ karena meminta diizinkan cuti dari rehabilitasi selama beberapa hari. Kondisi ini, kata dia, berpotensi menimbulkan kegaduhan karena kondisinya bisa jadi akan tidak stabil.

“Tapi, pas di sana malah ayah saya malah bilang ke aku dan ibu saya mau minta cuti gitu beberapa minggu. Nah, saya takut kalau cuti nanti dibawa ke sananya susah,” kata dia.

“Karena dulu, awalnya dibawa ke sana juga susah karena pasti ayah saya nggak mau dibawa ke RSJ atau yayasan. Kan ayah saya udah sering banget bolak-balik RSJ ya, bahkan dari saya kecil itu bawanya harus datangin ambulans dan minimal dua perawat soalnya kalau dibawa ke RSJ pasti berontak,” tambahnya.

***

Kejadian tersebut membuat Desi gagal memiliki foto keluarga yang dicita-citakannya. Padahal, perempuan ini mengaku hanya ingin mendapatkan foto keluarga bersama ibu dan ayahnya lengkap, serta menggunakan setelan keluarga yang juga dipersiapkannya—sebagaimana keluarga lainnya.

Menurutnya, momen wisuda menjadi momen yang dinantikan untuk mewujudkan mimpi foto keluarga ini. Kesempatan Desi ada melalui wisuda ini, kalau saja segala sesuatunya berjalan sesuai rencana.

“Penting banget sih, saya nggak punya foto keluarga dari kecil. Punya baju seragam sekeluarga aja nggak punya saya,” kata dia.

“Jadi, menurutku momen wisuda tuh momen untuk punya foto keluarga,” kata dia menambahkan.

Desi bilang, dirinya kerap merasa iri melihat orang lain memiliki foto keluarga yang harmonis. Mereka juga mengunggahnya di media sosial. Sementara itu, Desi harus menelan pil pahit bahwa selama 24 tahun hidupnya, ia masih belum memiliki potret yang mengabadikan keluarganya.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version