Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah

Ilustrasi - Vera Nur Fadiya, kuliah di jurusan sepi peminat (Matematika) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, jadi jalan wakili mimpi orang tua. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Kuliah di jurusan sepi peminat di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto justru menjadi jalan seorang mahasiswi untuk mewakili mimpi orang tua. 

Vera Nur Fadiya tumbuh di tengah keluarga dengan latar ekonomi-sosial sederhana. Juga bukan dengan latar belakang pendidikan kuat. 

“Aku anak bungsu dari dua bersaudara. Di keluarga aku rata-rata pendidikannya sampai SMP,” ujar Vera berbagi cerita untuk Unsoed Purwokerto.

Bapak Vera bekerja sebagai wiraswasta yang mengurus peternakan sapi di kampung halaman—memberi pakan, membersihkan kandang, hingga merawat ternak setiap hari. Sementara ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. 

Kuliah di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto dengan upaya sendiri

Di tengah kesederhanaan, dalam diri Vera justru tumbuh keyakinan bahwa pendidikan bisa mengubah jalan hidup seseorang. Oleh karena itu, ia memiliki tekad besar untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. 

“Waktu masuk pendidikan tinggi, aku benar-benar belajar banyak  hal sendiri,” kata perempuan asal Kabupaten Kuningan, Jawa Barat itu. 

Dari sebelum kuliah hingga akhirnya memilih kuliah di Unsoed Purwokerto, Vera mau tidak mau memang harus meraba-raba sendiri. 

Vera Nur Fadiya, kuliah di jurusan sepi peminat (Matematika) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, jadi jalan wakili mimpi orang tua MOJOK.CO
Vera Nur Fadiya, kuliah di jurusan sepi peminat (Matematika) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, jadi jalan wakili mimpi orang tua. (Unsoed)

Tidak ada kakak yang bisa ditanya bagaimana mengisi Kartu Rencana Studi. Tidak ada orang tua yang bisa menjelaskan bagaimana menyusun proposal skripsi. Dunia kampus benar-benar menjadi wilayah baru yang harus ia petakan sendiri. 

Vera memang mengambil jurusan yang terhitung sepi peminat di Unsoed: Jurusan Matematika. Namun, dari jurusan tersebut ia memanfaatkan banyak kesempatan untuk mengembangkan diri. 

Tak mau sekadar kuliah

Meski Matematika di Unsoed Purwokerto masuk kategori jurusan sepi peminat, tapi Matematika dikenal sebagai jurusan yang menantang. Meski begitu, Vera tidak mau sekadar sibuk dalam urusan akademik. 

Ia terlibat aktif di Himpunan Mahasiswa Matematika (Himatika). Bahkan dipercaya memegang amanah sebagai Kepala Departemen Pendidikan.

Di sana, ia tidak hanya menjadi peserta kegiatan, tetapi juga menjadi penggerak. Ia mengoordinasikan kelompok belajar, merancang workshop akademik, hingga memfasilitasi berbagai program yang membantu mahasiswa lain menghadapi tantangan perkuliahan.

Belajar banyak dari organisasi

Tidak berhenti di situ, Vera juga menjadi bagian dari Generasi Baru Indonesia (GenBI) setelah terpilih sebagai penerima Beasiswa Bank Indonesia pada tahun 2024 dan 2025. 

Di organisasi tersebut, ia kembali dipercaya sebagai Kepala Departemen Pendidikan—peran yang menuntutnya merancang program pengembangan anggota, mengoordinasikan kegiatan sosial, serta menyiapkan anggota GenBI untuk menjadi representasi Bank Indonesia dalam berbagai kegiatan institusi.

Bagi Vera, organisasi bukan sekadar tempat berkumpul atau menambah kesibukan. Ia melihatnya sebagai ruang belajar yang berbeda dari ruang kelas.

“Di organisasi aku belajar banyak hal, terutama manajemen waktu. Kita tetap harus menempatkan kuliah sebagai prioritas, tapi juga bisa mengembangkan diri lewat kegiatan organisasi,” ungkap Vera.

Di sanalah ia belajar memimpin, mengatur waktu, dan memahami bahwa pengetahuan tidak selalu datang dari buku.

Menjajal banyak pengalaman jika ingin mengubah nasib

Seperti disinggung sebelumnya, Vera percaya bahwa pendidikan bisa mengubah nasib seseorang. Namun, pendidikan bukan hanya di dalam kelas. Maka, sebagai bekal hidup kelak, Vera menyadari kalau ia harus menjajal banyak pengalaman. 

Pada tahun 2024, ia berhasil menjadi finalis Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Marscion Universitas Padjadjaran. Di tahun yang sama, ia juga memperoleh pendanaan Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) FMIPA Unsoed serta masuk dalam Top 5 Mahasiswa Berprestasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jenderal Soedirman 2024.

Keseriusannya dalam bidang akademik juga membawanya mengikuti kegiatan 3 Day School on Harmonic and Functional Analysis di Institut Teknologi Bandung pada Desember 2025. Melalui forum tersebut, Vera berkesempatan berdiskusi langsung dengan para akademisi mengenai kajian analisis matematika tingkat lanjut.

Vera juga tidak mau ketinggalan untuk menapaki pengalaman profesional. Ia pernah menjalani magang sebagai Data Analyst Intern di Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kuningan. Di sana ia terlibat dalam pengolahan serta visualisasi data statistik untuk mendukung publikasi informasi kepada masyarakat.

Saat ini, Vera juga aktif sebagai tutor privat Matematika di Purwokerto, mengajar siswa dari tingkat sekolah hingga mahasiswa. Pengalamannya semakin diperkuat melalui berbagai sertifikasi profesional, di antaranya sertifikasi Microsoft Office dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) tahun 2025 serta sertifikasi Content Creator BNSP tahun 2024.

Bagi Vera, seluruh pengalaman itu menjadi bekal untuk melangkah ke masa depan—terutama dalam bidang analisis data, sebuah bidang yang semakin dibutuhkan di tengah dunia yang semakin bergantung pada informasi dan teknologi.

Lulus dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, wakili mimpi orang tua

Dari jurusan sepi peminat yang penuh tantangan, ditambah kesibukan menjajal banyak pengalaman, Vera akhirnya lulus dari Universitas Jenderal Soedirman sebagai lulusan terbaik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00.

Saat namanya disebut sebagai “lulusan terbaik” dalam momen wisuda di Graha Widyatama Universitas Jenderal Soedirman, orang tua Vera yang duduk di barisan kursi belakang tampak haru dan bahagia. Mereka tidak pernah kuliah, tapi bisa menyaksikan nama anak bungsu mereka disebut dengan penuh kebanggaan sebagai lulusan terbaik. 

“Aku merasa kalau bisa menempuh pendidikan tinggi, itu seperti mewakili mimpi orang tua juga. Mereka mungkin tidak sempat merasakan kuliah, tapi lewat aku mereka bisa merasakan kebahagiaan itu,” tutur Vera. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

Sumber: Universitas Jenderal Soedirman

BACA JUGA: Antropologi Unair Diremehkan dan Dianggap “Gampangan”, padahal Kuliahnya Nggak Main-main dan Prospek Kerjanya Luas atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version