Kuliah di Universitas Terbuka (UT) kini menjadi pilihan yang disyukuri oleh para Gen Z. Mereka justru merasa menemukan jawaban konkret atas realitas hidup dari sebuah kampus yang sebelumnya kerap diremehkan.
***
Jauh sebelum hari ini, ketika seseorang mengaku kuliah di Universitas Terbuka (UT), sering kali langsung di-underestimate bahkan diejek:
“Kuliah kok nggak ngampus.”
“Kuliah kok nggak ada kampusnya.”
“Oh kampus yang mahasiswanya tua-tua itu ya?” Karena memang, stereotip yang sempat tersemat pada UT adalah: kampus tempat orang-orang berumur yang kuliah memang untuk kebutuhan administratif, sebagai menunjang posisinya di tempatnya bekerja. Bahkan sampai ada istilah, “Kuliah buat pantes-pantesan aja.”
Kepada Mojok, para Gen Z yang saat ini menjadi mahasiswa aktif UT mencoba memberi sudut pandang lain. Apalagi, data pendaftaran di banyak kampus UT yang tersebar di berbagai daerah menunjukkan: semakin ke sini, 70% peminat “kampus kuning” tersebut mayoritas adalah kalangan muda.
Keputusan kuliah di Universitas Terbuka sempat dipertanyakan ayah berkali-kali
Lulus SMK pada 2023, Fika Nur Sabrina (21) sebenarnya sempat di-make sure berkali-kali oleh sang ayah perihal pilihannya kuliah di Universitas Terbuka kampus Bandung.
Sang ayah masih mengira kalau kampus tersebut adalah “kampus orang-orang berumur” atau “kampus buat kuliah pantes-pantesan”. Sang ayah jelas merekomendasikan kampus lain.
Namun, dari apa yang Fika ketahui, rasa-rasanya UT menjadi pilihan yang lebih realistis untuk dirinya. Sebab, setelah lulus SMK itu, Fika sudah dalam posisi bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan travel di Bandung.
“Tapi setelah berjalan, ternyata ayah malah, oke, sudah benar masuk UT,” ungkap mahasiswa semester 6 program studi Akuntansi tersebut saat berbincang dengan Mojok, Senin (9/2/2026) malam.
Cara hidup Gen Z yang terjawab di Universitas Terbuka
Bagaimana akhirnya sang ayah berbalik dari mempertanyakan menjadi mendukung penuh?
Begini. Bagi Fika, kecenderungan Gen Z seperti dirinya adalah mencoba menjalani aktivitas yang memungkinkan gerak efisien dan fleksibel, tapi tetap efektif. Ia menjatuhkan pilihan ke UT tidak lain karena kampus tersebut memberi beberapa keleluasaan untuknya.
Mahasiswa tidak diharuskan ke kampus karena sistem pembelajaran yang berlangsung secara daring. Itu memungkinkan Fika bisa mengakses materi pembelajaran dan mengerjakan tugas-tugas dari mana saja dan di sela-sela waktu kerjanya. Mekanisme pengumpulan tugas pun bisa disesuaikan dengan jadwal longgar Fika sendiri.
Maka, sebuah kafe, kantin kantor, atau kamar tidurnya pun, bisa menjadi ruang kelas bagi Fika.
“Kalau istirahat kerja biasanya aku pakai buat belajar. Selain itu kalau misalnya pulang kerja nih, aku juga bisa milih. Misalnya hari ini lagi capek aku belum bisa ngerjain tugas, ya sudah ngerjainnya besoknya gitu, misal dari jam 7 malam sampai 9 malam. Atau aku fokusin sekalian di weekend,” beber Fika.
Fika juga punya cara pandang begini: jika dua hal produktif bisa berjalan beriringan, kenapa harus memilih salah satu? Hal ini berangkat dari fakta bahwa banyak kampus yang tidak punya toleransi sama sekali ke pekerja. Sehingga, kalau ada mahasiswa kuliah sambil kerja, pasti salah satunya bakal keteteran.
Kalau toh ada kampus yang menawarkan kelas karyawan, tapi tetap saja mengharuskan mahasiswanya datang ke kampus di hari dan jadwal yang sudah ditentukan. Situasi tersebut, bagi Fika, rasa-rasanya akan sangat melelahkan.
“Agak sayang misalnya kalau demi fokus kuliah akhirnya nggak kerja. Stabilitas pangan mestinya agak terganggu, apalagi buat anak-anak yang dituntut harus bisa mandiri (menghidupi dirinya sendiri). Dan, persaingan kerja kan makin ketat, jadi kalau nggak start kerja dari awal atau nekat melepas pekerjaan, nanti takutnya bakal susah cari kerja,” tutur Fika.
Sedangkan kalau kerja saja tapi tidak bisa kuliah, juga agak sayang bagi Fika. Sebab, akhirnya kurang update sama perkembangan ilmu pengetahuan,” sambung Fika.
Maka, rasanya sudah tidak relevan lagi jika meremehkan Universitas Terbuka—begitu kata Fika. Karena nyatanya bisa membuat hidup Gen Z sepertinya seimbang: bisa mengerjakan banyak hal produktif sekaligus tanpa distraksi satu sama lain.
Dari jualan pigura dan lukisan hingga tertuntun kuliah di UT
Pengakuan serupa dituturkan oleh Riyandi Regia (27), mahasiswa semester 6 program studi Sains Data di Universitas Terbuka kampus Bandung. Ada alasan serius kenapa ia akhirnya memilih kuliah di UT, bukan sekadar “buat nambah-nambah gelar”.
Kilas balik ke belakang, sudah sejak SMP Riyandi tertarik pada dunia “seni kreatif”. Semasa SMP ia berjualan pigura dan lukisan di Pasar Minggu Cimahi (Brigif). Saat masuk SMK, ia kemudian mengambil jurusan animasi.
Riyandi lulus SMK pada 2016. Setelahnya, Riyandi sudah malang-melintang di dunia industri kreatif sebagai seorang animator di sebuah perusahaan pengembang animasi. Kliennya bahkan kebanyakan datang dari luar negeri.
“Aku juga sering mengisi pelatihan. Di sekolah-sekolah atau bahkan di kampus-kampus negeri. Ada satu momen yang membuat aku merasa harus kuliah. Pas ngisi kelas di sebuah kampus ternama di Bandung, aku dapat pertanyaan yang aku nggak bisa jawab. Ada hubungannya sama AI,” beber Riyandi bercerita pada Mojok, Minggu (8/2/2026) malam.
Dari situ Riyandi terpantik untuk kuliah. Ia kemudian tertuntut untuk mengambil Sains Data di Universitas Terbuka.
“Pertama, aku jelas melihat sisi fleksibilitasnya. Perkuliahan full online. Aku bisa nentuin sendiri jadwalku. Itu membantuku sih buat ngimbangin kesibukan kuliah, kerja, dan ngurus keluarga karena aku sudah punya istri dan anak,” ucap Riyandi.
Kuliah daring tapi sama industri tetep bisa relevan
Perkuliahan di UT memang berlangsung secara daring: mahasiswa dituntut banyak eksplorasi sendiri atas materi-materi pembelajaran yang diberikan. Meski begitu, Riyandi merasa sistem itu sama sekali tidak mengurangi kualitas pembelajaran.
Sebab, sebagaimana disinggung juga oleh Fika, mahasiswa UT itu bukan kuliah hanya untuk pantes-pantesan. Tapi memang benar-benar serius untuk menambah pengetahuan dan keterampilan.
“Materi dan tugas yang diberikan itu relevan dengan konteks zaman dan industri. Misalnya, aku ambil Sains Data, dari situ aku bisa dapat insight baru soal analisis dalam dunia teknologi dan informasi digital yang sedang berkembang, ambil contoh AI,” jelas Riyandi.
“Selama ini mungkin aku cuma paham cara bikin animasi, tapi pembelajaran di Sains Data UT bikin aku bisa mengerti lebih jauh, soal industrinya bagaimana, potensi inovasinya kayak gimana, dan macem-macem,” imbuhnya.
Kuliah 8 semester di UT dengan biaya murah bahkan gratisan
Tak kalah penting, dengan segala kemudahan dan relevansi yang ditawarkan Universitas Terbuka, Riyandi dan Fika mengaku amat diuntungkan dengan biaya kuliah yang masih sangat ramah kantong, di tengah banyak kampus negeri yang mematok UKT terendahnya saja sudah di angka Rp3 juta-Rp5 jutaan ke atas.
Riyandi mendapat UKT Rp1,9 juta per semester. Angka yang masih sangat bisa dijangkau dari gajinya yang juga dibagi untuk kebutuhan rumah tangga. Sementara Fika malah kuliah “gratisan” karena menerima beasiswa penuh berupa Beasiswa Prestasi dari UT.
“Di UT itu kalau sering ikut lomba dan berprestasi, dapat beasiswa. Misal kita menang lomba dan juara minimal tuh juara 3 nasional, itu kita dapat beasiswa satu semester. Nah karena saya tier lombanya internasional, jadi dapat beasiswa sampai lulus,” ungkap Fika.
Memang ada beberapa lomba tingkat internasional yang pernah Fika ikuti. Rata-rata berhubungan dengan public speaking, antara lain: lomba economic speech international, lomba presenting, story telling, dan lain sebagainya.
Tidak ada hubungannya dengan program studi yang Fika ambil. Tapi ternyata UT tetap memberi penghargaan berupa beasiswa tersebut. Selain juga ada beasiswa-beasiswa lain seperti KIP Kuliah dan program beasiswa dari CSR kolaborator UT.
“Sudah nggak bayar, aku malah dapat benefit banyak. Aku pernah diberangkatkan ke Kuala Lumpur, Hungaria, jadi delegasi Indonesia untuk ikut konferensi internasional,” papar Fika. “Nanti juga bakal ditugaskan ke event yang berlangsung di Bali.”
Benefit yang Fika dapat selama kuliah di UT sampai membuat sang ayah “geleng-geleng”: kok bisa gitu ya? Sang ayah pun semakin menyadari, stereotip soal UT sebagai “kampus pantes-pantesan” itu sudah usang. Sudah tidak relevan lagi.***(Adv)
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Alasan Saya Mengabaikan Pengumuman Lolos di UGM, Lebih Pilih Kuliah di Universitas Terbuka Malang untuk Bertahan Hidup atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
