Bangkit usai “Kehilangan” Kaki dan Nyaris Gagal Jadi Sarjana, Akhirnya Lolos LPDP ke AS agar Jadi Ahli IT Pustakawan di Indonesia

ilustrasi - seorang penyandang disabilitas, penerima LPDP di AS yang ingin balik ke Indonesia sebagai pustakawan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Kehidupan Mohamad Afrillian Ramadhan seketika berubah setelah dokter memvonisnya mengidap penyakit langka di akhir masa kuliah sarjana. Namun siapa sangka, pilihannya untuk tidak menyerah justru membawanya ke pendidikan lebih tinggi (S2) di Amerika Serikat (AS) berkat beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Sebelum mendapat beasiswa LPDP, Mohamad Afrillian Ramadhan atau yang akrab dipanggil Afri adalah mahasiswa S1 semester akhir Jurusan Sistem Komputer di Universitas Sriwijaya. Ia menjalani rutinitas kuliahnya seperti biasa, mulai dari mengerjakan skripsi, mengikuti bimbingan, dan mengerjakan revisi dari dosennya. 

Jika suntuk, Afri memilih berkumpul dengan teman-temannya. Sesekali ia melakukan hobinya seperti badminton dan berenang. Tanpa menyadari bahwa kegiatan itu adalah kenikmatan yang bakal ia syukuri sebelum kehilangan fungsi kedua kaki.

Terbangun di pagi hari tanpa bisa menggerakkan kaki

Pagi itu, 1 Maret 2013, Afri tiba-tiba tak bisa menggerakkan kedua kakinya. Ia terbangun dengan kebingungan yang luar biasa. Afri pun langsung dibawa ke rumah sakit dan harus menjalani perawatan sekitar satu bulan.

“Setelah pengecekan berbagai macam, dokter belum bisa menyimpulkan penyakit saya ini,” ucap Afri dikutip dari laman resmi LPDP, Minggu (22/2/2026). Atas saran dari saudaranya, Afri dipindah ke salah satu rumah sakit di Bogor untuk mendapat perawatan yang lebih baik.

Di sanalah Afri mendapat diagnosis bahwa dia mengidap penyakit langka, Mielitis Transversa. Dokter menjelaskan penyakit itu menyerang sistem saraf sehingga membuat tubuh bagian bawah penderitanya mati rasa akibat autoimun.

Mendengar vonis dari dokter, Afri sempat terpukul. Siapa pula yang mau menerima kondisi pahit tersebut. Tanpa aba-aba untuk mencegah atau melawan penyakitnya, Afri seolah tak diberi pilihan selain menerima.

Ia pun harus menjalani perawatan berbulan-bulan, hingga proses pengerjaan skripsinya ikut tertunda. Beruntung, Afri tak memilih menyerah pada saat itu dan berhasil memperoleh gelar Sarjana Sistem Komputer di Universitas Sriwijaya, tepat pada tahun ketujuh.

Lanjut S2 dengan LPDP untuk berkontribusi di Indonesia

Selepas sarjana, Afri tak langsung lanjut S2. Boro-boro mau melanjutkan S2 dengan beasiswa LDPD, di antara teman-temannya yang sudah lulus pada saat itu, Afri masih berjuang untuk menerima kondisinya, karena harus bergerak dengan bantuan kursi roda.

“Semenjak saya nggak bisa jalan, jujur ada rasa minder untuk ketemu orang,” ucapnya.

Alih-alih mendaftar S2 dengan LPDP, Afri lebih memilih membangun bisnisnya sendiri di bidang industri kreatif. Lewat bekal ilmunya tentang dasar artificial intelligence (AI) dan robotik selama masa perkuliahan, Afri mengaplikasikannya dalam mesin 3D printer.

Setelah satu setengah tahun menekuninya, Afri disarankan keluarga untuk ikut seleksi CPNS di Kementerian Pertanian. Hasilnya, ia lolos dan bertugas memperkuat tim IT di Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian atau Pustaka Kementerian Pertanian.

Mohamad Afrillian Ramadhan. MOJOK.CO
Mohamad Afrillian Ramadhan sedang menjalani kuliah S2 di AS dengan beasiswa LPDP. (Sumber: LPDP)

Ia pun tak menyangka bisa bekerja di sebuah perpustakaan pertanian tertua dan terbesar se-Indonesia, yang menjadi “rumah” dari pengetahuan agraris bangsa kita sejak zaman kolonial hingga detik ini. 

Lebih dari itu, Pustaka Kementerian Pertanian, tak sekadar menjadi tempat Afri meniti karier, tapi juga ruang baginya untuk belajar menerima diri. Dukungan dari atasannya perlahan membangkitkan kembali kepercayaan dirinya yang sempat runtuh, bahkan memotivasinya untuk melanjutkan studi S2 dengan LPDP di AS.

Beasiswa LPDP sebagai pintu masuk untuk mendapat peluang yang setara

Awalnya, Afri memiliki keresahan pribadi saat bekerja di Pustaka Kementerian Pertanian. Ribuan koleksi buku dan referensi pengetahuan yang dimiliki Pustaka Kementerian Pertanian bikin proses pencarian informasinya jadi lebih rumit. 

Afri yang melihat peluang itu, ingin menggabungkan data science dan AI guna mempercepat proses pencarian dan diseminasi informasi pertanian. Namun, karena merasa ilmunya belum cukup, ia ingin melanjutkan studi S2 dengan beasiswa LPDP di AS.

Tanpa ba-bi-bu lagi, atasannya langsung menyambut baik keinginan Afri tersebut. Berkat dukungan dari orang-orang di sekitarnya, Afri lolos beasiswa LPDP. Ia pun memilih studi S2 di bidang Information Management, University of Illinois Urbana-Champaign (UIUC)

Berdasarkan U.S. News & World Report, UIUC merupakan kampus terbaik untuk program pascasarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Hampir 30 tahun terakhir, UIUC konsisten menduduki peringkat pertama di Amerika Serikat.

“Dia menyediakan jurusan yang multidisiplin antara ilmu data dan ilmu perpustakaan, dan University of Illinois Urbana-Champaign itu memiliki salah satu disability service yang terbaik di Amerika menurut yang saya baca, karena itu saya mantap untuk meneruskan kuliah di sana,” jelas Afri yang resmi berangkat ke AS pada Agustus 2025 kemarin, setelah menerima beasiswa LPDP.

Lewat beasiswa inklusif seperti LPDP, Afri bersyukur bisa menyalakan harapannya kembali. Ia sadar bahwa disabilitas bukan halangan bagi dirinya untuk berkarya, belajar, dan bahkan memberikan kontribusi lebih untuk negaranya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Lulus SMA Cuma Diterima Kerja Jadi Babu dan Dihina karena Fisik, Kini Malah Jadi Asesor Sertifikasi dengan Gelar S1 UT dan artikel Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version