Kisah Pemuda Asal Tulungagung Kuliah di Portugal: Lolos Beasiswa Erasmus karena “Motivation Letter” yang Menggugah

Perjuangan dapat beasiswa Erasmus hingga kuliah di Portugal karena motivation letter yang menggugah. MOJOK.CO

Marco Trisna Omar Farrasy, mahasiswa UMM yang dapat beasiswa Erasmus. (Sumber: UMM)

Perjuangan Marco Trisna Omar Farrasy, pemuda asal Tulungagung yang kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) penuh tantangan. Sampai ia berhasil lolos program beasiswa Erasmus Mundus Uni Eropa di University of Minho, Portugal.

***

Salah satu alasan Marco memilih Jurusan Ilmu Komunikasi di UMM, karena ia menaruh minat besar pada aktivitas berskala internasional. Meskipun tidak berasal dari Jurusan Hubungan Internasional, Marco mengaku memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti konferensi internasional hingga terlibat dalam kegiatan organisasi akademik dengan relasi internasional.

Menurutnya, interaksi lintas budaya menjadi bekal penting untuk membentuk karakter, wawasan, serta daya saing di tingkat global. Oleh karena itu, Marco berharap bisa mencicipi pendidikan di luar negeri. 

Marco pun mempersiapkan diri untuk mencari beasiswa. Alih-alih mendaftar LPDP, Marco memilih beasiswa Erasmus Mundus yang menurutnya punya peluang masuk lebih besar ketimbang LPDP yang pendaftarnya mencapai rekor tertinggi, yakni 79.126 orang, sementara hanya 4.295 orang (sekitar 5,43 persen) yang lolos.

Berasal dari Tulungagung tak bikin Marco minder

Walaupun tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Timur, Marco tak pernah malu untuk ikut kegiatan berskala internasional. Ia kerap mempresentasikan hasil penelitiannya dalam forum diskusi akademik lintas kampus. 

Tak hanya itu, Marco juga berhasil menembus publikasi internasional melalui Springer Book Chapter. Sebuah bab buku yang diterbitkan oleh penerbit internasional terkemuka. 

Melalui penelitian bibliometrik dan bibliografi analisis berbasis data Scopus, Marco memetakan tren penelitian sebelumnya untuk membantu para peneliti menemukan referensi yang relevan. Karyanya menjadi kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan penguatan budaya riset di kalangan mahasiswa.

Berdasarkan pengalamannya tersebut, Marco berhasil membangun portofolio akademik dan non-akademik miliknya untuk dipakai saat pendaftaran beasiswa Erasmus Mundus. Ia juga melengkapi curriculum vitae (CV)-nya dengan kegiatan organisasi, praktikum, hingga  forum ilmiah internasional.

Motivation letter untuk daftar Erasmus tak bisa dibuat asal 

Selain memenuhi persyaratan dari UMM, ia juga harus mengikuti prosedur dari pihak universitas mitra. Tahapan yang dilalui meliputi pengajuan dokumen secara daring, seleksi wawancara, penyusunan learning agreement bersama program studi, hingga pembuatan motivation letter untuk beasisiswa Erasmus.

Syarat terakhir itu, kata Marco, adalah salah satu aspek paling krusial dalam proses seleksi. Karena tanpa motivation letter yang matang, bisa-bisa tulisannya tidak dilirik oleh penilai. Oleh karena itu, ia menyusun surat tersebut dengan gaya naratif yang menggugah emosi.

“Saya ingin menunjukkan bahwa meskipun berasal dari daerah kecil, saya punya semangat besar untuk berkembang dan memberi dampak,” ujar Marco yang menceritakan latar belakangnya sebagai mahasiswa dari kota kecil di Jawa Timur, dikutip dari laman resmi UMM, Senin (2/3/2026).

Pelajari minat sebelum daftar beasiswa Erasmus

Selain menyusun dokumen, Marco juga menerapkan strategi dengan mengenali karakter kampus tujuan. Salah satu target kampus yang ia minati adalah University of Minho, Portugal di bidang komunitas riset.

Menurutnya, kampus tersebut sesuai dengan minat dan pengalamannya yang juga ia tuangkan dalam motivation letter. Berdasarkan Times Higher Education (THE) 2026, subjek pendidikan di University of Minho menempati peringkat 176-200 di dunia.

Artinya, program pendidikan di sana terbilang unggul dengan proses mengajar dan riset yang bagus. Hal itu sesuai dengan minat Marco untuk mempelajari riset di bidang Ilmu Komunikasi.

Selama menempuh pendidikan di Portugal, ia mengambil sejumlah mata kuliah yang relevan dengan bidang Public Relations, seperti media literacy, marketing, dan specialized practice in public relations

Sistem pembelajaran yang diterapkan relatif serupa dengan UMM, yakni mengombinasikan teori dan praktik berbasis studi kasus. Hanya saja, kata Marco, perbedaannya terletak pada sistem evaluasi yang hanya diujikan pada Ujian Akhir Semester tanpa adanya Ujian Tengah Semester.

Jalani perkuliahan di Portugal meski terkendala bahasa

Berhasil lolos beasiswa Erasmus Mundus, bukan berarti Marco terhindar dari masalah pelik yakni bahasa. Meski bisa berbahasa Inggris, perkuliahan di University of Minho, Portugal lebih banyak pakai bahasa Portugis, yang mana pengucapannya lebih cepat.

Untungnya, dosen pengajar Marco sangat terbuka dan selalu memberi kesempatan untuk Marco jika ingin diskusi lebih lanjut. Tak hanya itu, Marco juga bersyukur karena mendapat bantuan dari teman-temannya yang tergabung dalam Erasmus Volunteer untuk memahami materi perkuliahan.

Bagi Marco, kesempatan belajar di luar negeri merupakan batu loncatan penting dalam membangun masa depan akademik dan profesional. Ia berharap pengalaman ini dapat membuka peluang karier sekaligus menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berani mencoba hal baru. 

“Saya ingin pengalaman ini menjadi stepping stone yang kuat untuk masa depan, sekaligus memotivasi teman-teman agar tidak takut mencari peluang internasional,” ujar mahasiswa penerima beasiswa Erasmus itu.

Menutup kisahnya, Marco berpesan kepada mahasiswa dan anak muda agar tidak minder dengan keterbatasan yang dimiliki. Ia mengajak generasi muda untuk mengenali potensi diri, memaksimalkan kemampuan, serta selalu menjadi versi terbaik dengan tidak membandingkan diri dengan orang lain

Kisah Marco sebagaimana dimuat dalam laman resmi UMM.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Rela Melepas Status WNI karena “Technical Stuff” di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version