Saya Tak Sudi Mudik dengan Kereta Ekonomi Premium, Berasa “Scam” karena Bualan Mirip Eksekutif padahal Menyiksa Diri

Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran

Ilustrasi - Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran (Mojok.co/Ega Fansuri)

Tiga tahun lalu, saya pernah menaiki kereta ekonomi yang konon fasilitasnya sudah diperbaharui menjadi ekonomi premium. Kala itu, saya sudah tidak betah, tapi belum menemukan letak permasalahannya. Karenanya, memutuskan menggunakan kereta ini pada perjalanan mudik kemarin. Namun, saat itulah saya sadar, kereta ekonomi “premium” itu sama sekali tidak mirip dengan eksekutif.

***

Jumat, 13 Maret 2026, kemarin malam, saya menempuh perjalanan yang cukup panjang dari Stasiun Tugu Jogja ke Stasiun Surabaya Gubeng selama 4 jam. Untuk dapat mencapai stasiun tujuan tersebut, saya memilih kereta ekonomi premium yang digadang-gadang sudah cukup naik kelas dari fasilitas ekonomi sebelumnya. 

Seingat saya juga, saya tidak bermasalah saat menaiki kereta ekonomi premium untuk rute perjalanan Stasiun Tugu Jogja ke Stasiun Bandung selama 7 sampai 8 jam. Teman-teman yang sudah berstatus veteran dalam kereta api juga berkata meyakinkan:

“Ekoprem (ekonomi premium) sudah bagus kok.”

“Ekonomi premium juga oke, kalau aku.”

Karena itulah, saya memutuskan untuk mencoba variasi kelas Kereta Api Indonesia (KAI) ini sekali lagi, padahal telah bertahun-tahun menetapkan diri sebagai pengguna setia kereta eksekutif.

Sayangnya, saya menyesali keputusan ini. Gembar-gembor kereta ekonomi premium yang sudah cukup baik ternyata salah. Ia tidak cukup “premium” untuk mendapatkan gelar tersebut.

Kursi kereta ekonomi premium yang jauh dari kata “premium”

Begitu duduk di kursi kereta ekonomi premium Kereta Api (KA) Sancaka, saya merutuki kursi tegak yang tidak manusiawi tersebut. Sungguh jauh dari konsep premium yang dibayangkan.

Kursi seperti ini membuat perjalanan selama 4 jam yang tidak terlalu lama menjadi cukup menyiksa.

Bayangkan saja, selama duduk, saya tidak bisa menekuk tubuh terlalu lama atau akan merasa pegal. Mau bersandar, tubuh saya harus tegak lurus, padahal tubuh manusia itu diciptakan berlekuk. Kombinasi proporsi badan dengan struktur tulang dan otot manusia tidak cocok untuk duduk tegak terlalu lama.

Dilansir dari Alodokter, posisi duduk itu diibaratkan keadaan padam karena hanya sedikit aktivitas otot yang aktif. Akibatnya, duduk dalam waktu yang lama bisa berbahaya bagi kesehatan tubuh, seperti memengaruhi pengaturan gula darah dan tekanan darah, serta memperlambat kerja metabolisme dan penguraian lemak.

Menurut Centers for Disease Control dan Prevention (CDC), dikutip dari Hellosehat, risiko gangguan pembekuan darah juga mengalami peningkatan pada orang-orang yang melakukan perjalanan lebih dari 4 jam dengan kereta api.

Dengan begitu, duduk di kursi kereta ekonomi premium seperti ini kiranya membuat kondisi kesehatan saya menjadi terancam. Lain hal dengan kursi pada kereta eksekutif yang lebih nyaman dan sudah punya kesadaran terhadap urgensi kesehatan. Kursi kereta eksekutif dirancang lebih efisien, tetapi juga luas. Karena itu, melakukan peregangan di kursi ini jelas memungkinkan.

Sisi tersebut gagal diadopsi oleh kereta ekonomi premium. Label transformasi premium dalam bentuk reclining seat yang bisa diatur kemiringannya hanya formalitas. Ketika mencoba memiringkan kursi, saya masih merasa tidak nyaman.

Namun saya menyadari, ada harga ada kualitas. Meski setidaknya saya kira, sebagai seseorang yang awam terhadap perkeretaan, akan ada meja untuk makan—yang fungsinya akan saya alihkan untuk meletakkan laptop. Nyatanya, mau diraba-raba sampai ke sisi bawah kursi pun, tidak ada.

Inilah tambahan poin minus untuk fasilitas kereta ekonomi premium.

Omong kosong premium, tapi belum manusiawi 

Sebagian orang mengatakan, kursi ekonomi premium adalah salah satu fasilitas unggulannya sebagai “premium” yang tidak lagi ekonomi, padahal, sebagai penumpang kereta ini, bukan hanya saya yang tidak setuju terhadap embel-embel premium tersebut.

Pulung (20) adalah pengguna moda transportasi kereta api lain yang mengamini. Menurutnya, titel premium pada kereta ekonomi tidak dapat membeli barang sedikit kenyamanan yang ditawarkan kelas eksekutif.

Bahkan, dia mengaku kereta ekonomi premium tidak termasuk dalam pilihan kelas keretanya. Ia bilang, akan langsung mengeliminasi kelas ekonomi (sekalipun premium) dari daftar pilihannya kalau sudah menyangkut kenyamanan perjalanan. 

“Kalau ada pilihan sih, gue prefer eksekutif ya. Bukan cuma soal lebih nyaman, tapi suasananya juga lebih tenang jadi perjalanan kerasa lebih enak buat istirahat atau mikir,” kata Pulung, Sabtu (14/3/2026).

Menurutnya, salah satu kenyamanan ini ditawarkan melalui fasilitas kursi eksekutif yang lebih lega. Baik dari sisi sebagai penumpang yang menikmati fasilitas ini, maupun penumpang lain di sekitar. 

“Lebih nyaman tuh kayak kursinya lebih lega, bisa selonjoran dikit, terus biasanya gak terlalu padat [penumpang] juga,” ujar dia.

Laki-laki asal Jogja ini menjelaskan, kursi ekonomi adalah sebaliknya. Mulai dari suasana sekitar kursi, kata dia, sudah terasa ramai. Akibatnya, kursi yang diduduki seorang diri juga terasa lebih padat, didukung ruang bagian bawa kursi yang lebih terbatas. 

“Kursi ekonomi sih menurut gue lebih ramai aja. Kursinya juga lebih padat jadi kerasa lebih sempit,” tambah dia. 

@didikajisaputro Kursi kereta ekonomi premium #keretaapikita #kai121_ #railfansindonesia #xyzabc #fypage #fypシ゚viral ♬ suara asli – Mekanik Kereta

Selain Pulung, ada Rosa (23) sebagai sobat kereta api yang secara rutin selama setidaknya satu minggu dua kali akan pulang-pergi menggunakan KAI. Meski sudah terlalu sering menggunakan moda transportasi ini, Rosa mengaku kurang nyaman menaiki kelas ekonomi premium karena fasilitasnya yang tak jauh-jauh dari yang ditawarkan kelas ekonomi.

Termasuk, untuk perjalanan mudik Lebaran. Rosa bilang, kursi sebagai fasilitas paling penting bagi penumpang gagal memberikan kenyamanan di kelas kereta ekonomi premium. Padahal, fasilitas inilah yang menjadi tolok ukur dalam memilih kereta.

“Kursi itu ngaruh banget,” kata Rosa, Sabtu (14/3/2026).

Dibandingkan dengan kursi kereta eksekutif, Rosa mengatakan, kursi kereta ekonomi premium masih terasa sempit. “Senyaman-nyamannya ekoprem, tetap kursi eksekutif sih,” kata dia menambahkan.

Suasana mudik Lebaran di kelas ekonomi “tidak berkelas”

Bukan hanya fasilitas yang tidak memadai, kereta ekonomi premium juga dinilai tidak nyaman dalam memfasilitasi penumpang mudik Lebaran. Sebab, suasana dalam gerbong kereta terkesan berisik dan tidak kondusif.

Akibatnya, sebagian penumpang yang mudah merasa terganggu, akan merasa tidak nyaman dengan suasana “hidup” dalam perjalanan mudik Lebaran menggunakan kereta ekonomi premium.

Menurut Rosa, fenomena ini sering terjadi. Bukan sekali dua kali, ia menemukannya. Hal ini berbanding terbalik dengan penumpang kelas eksekutif yang lebih tenang. Oleh karena itu juga, Rosa menyebut pemilihan kereta ini sebagai “membeli kelas”.

“Karena kalau di ekonomi kadang berisik. Di eksekutif orang-orangnya lebih tenang,” akunya.

“Tapi, ini cuma perkara beli kelas sih, walaupun sama-sama gambling,” tambah dia.

Rosa menyebutkan, suasana kereta ekonomi premium tidak selalu ramai. Begitu juga suasana kereta eksekutif yang tidak selalu tenang. Akan tetapi, suasana kereta tersebut cenderung sama, antara ramai atau sepi di salah satunya.

Ibaratnya, ia menemukan gambaran “kelas” kereta yang dibeli melalui harga yang lebih mahal.

Karena itu, Rosa lebih memilih bermain aman dalam perjalanannya. Mudik Lebaran kali ini, Rosa barang tentu memilih kereta eksekutif. Dalam beberapa kesempatan lainnya juga, Rosa mengatakan dirinya rela membayar mahal tiket kereta eksekutif untuk perjalanan singkat Purworejo ke Jogja selama 40 menit karena alasan sederhana, seperti kursi di dekat jendela yang sudah tidak tersedia.

Menurutnya, kursi tersebut adalah satu-satunya spot nyaman di kereta ekonomi premium. Ia tidak menyukai melihat tingkah penumpang lain, maupun penumpang yang lalu-lalang di hadapannya. Dia menilai, lebih baik membayar mahal untuk menaikkan kelasnya ke kereta eksekutif.

“Aku kalau ekoprem dari Kutoarjo tinggal sisa aisle, aku akan pilih eksekutif biar gak ada jejernya,” ujarnya.

Tak hanya itu, apabila masih bisa berupaya menahan diri untuk ekonomi premium untuk kereta jarak dekat selama beberapa kali, Rosa mengatakan tidak akam berpikir panjang untuk memilih kereta eksekutif untuk perjalanan jarak jauh.

“Ekoprem cukup Kutoarjo-Tugu Jogja aja. Kalau lebih dari itu mending eksekutif,” ujar dia.

Sebab, baginya, kenyamanan adalah yang utama. Toh, fakta bahwa dirinya bekerja dan menghasilkan uang adalah untuk bisa menyenangkan diri sendiri, termasuk dalam memberikan kenyamanan dalam transportasi. 

Soal tiket kereta eksekutif yang bisa mencapai dua kali dari tiket kereta ekonomi, harga tidak lagi menjadi masalah.

“Kalau ada duitnya, ngapain nyiksa diri sendiri?” tukasnya.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Niat Ingin Lebih Cepat Naik Travel Malah Bikin Trauma, Sopir Tak Tahu Aturan dan Penumpang Tidak Tahu Diri dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version