Sambutan-sambutan menjadi salah satu bagian yang seolah tidak boleh luput dalam susunan sebuah acara. Masalahnya, sambutan yang melibatkan banyak pihak pada akhirnya membuat hadirin merasa lebih baik bagian tersebut dibuang saja karena terlalu membuang-buang waktu.
***
Bukan sekali-dua kali saya mengikuti sebuah acara warga di lingkungan kos, tapi sudah berkali-kali. Bulan Agustus 2026 ini menjadi yang cukup intens, karena setelah acara Agustusan disambung dengan acara peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. Rata-rata berlangsung malam hari.
Di setiap momen menghadiri acara tersebut—karena diundang oleh Karang Taruna—saya kerap mendengar keluh kesah dari beberapa warga. Pertama, jelas karena acara molor jauh dari jadwal yang tertera di dalam undangan. Kedua, rentetan sambutan dari banyak pihak semakin membuang-buang waktu mereka.
Sambutan dalam susunan acara terlalu bertele-tele
Dalam satu acara, sambutan dalam susunan acara bisa dibawakan oleh lima orang. Misalnya yang paling umum: ketua panitia, ketua RT, lurah, pengurus masjid, dan bisa bertambah ke pejabat-pejabat lain seperti camat dan lain-lain. Pokoknya setiap orang “berpangkat” seolah harus diberi ruang untuk bicara.
Sejauh yang saya amati selama mengikuti acara warga belakangan ini, ketika sudah memasuki sambutan ketiga, beberapa hadirin—terutama laki-laki (baik anak muda maupun kalangan orang tua)—sudah menunjukkan reaksi tidak enak. Ada yang berdecak kesal, ada yang menguap yang sengaja tidak ditutupi, hingga berbisik-bisik dengan teman sebelah.
“Duh sambutan terus, ya sampai tengah malem ini.”
“Banyak banget sambutannya.”
“Orang sekecamatan disuruh sambutan semua ini.” Begitu yang terdengar saking kesalnya karena sambutan yang bertele-tele.
Tidak ada yang menyimak, normatif dan diulang-ulang
Itulah kenapa sampai menyeruak bisik-bisik, “Siapa sih yang bikin aturan kalau sambutan harus banyak-banyakan?” Anak-anak muda yang duduk di dekat saya bahkan sampai nyeletuk kalau model sambutan panjang dan bertele-tele dibuang saja dari susunan acara.
Bagi mereka, misalnya yang memberi sambutan adalah lima orang, toh nyaris tidak ada yang membedakan satu sama lain. Materi sambutannya cenderung normatif, template, dan diulang-ulang.
Isinya selalu bisa ditebak. Dimulai dari puji syukur kepada Tuhan, selawat untuk Nabi, daftar ucapan terima kasih, permohonan maaf, lalu harapan kelancaran dan kebermanfaatan acara.
Bagi anak-anak muda, sangat tidak efektif. Sehingga wajar saja kalau menurut mereka lebih baik dibuang saja dari susunan acara demi mempersingkat waktu.
Pasalnya, sambutan acara yang bertele-tele tersebut punya dampak tidak baik. Bukan hanya soal durasi acara, tetapi juga bisa menggerus fokus hadirin terhadap inti acara.
Pesan/nilai penting acara jadi luput, hadirin ingin segera pulang
Dalam kasus acara Maulid Nabi Saw yang saya ikuti tersebut, anak-anak muda sudah tidak peduli lagi dengan mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh salah seorang pemuka agama. Mereka sibuk memiringkan hp (main game), ada yang sibuk menelusuri konten-konten media sosial. Sementara golongan bapak-bapak tampak terduduk tidur.
Padahal inti acara malam itu adalah ceramah dari si pemuka agama. Dan malam itu ia memang mengudar banyak sekali pesan penting perihal keteladanan terhadap Nabi Muhammad Saw.
Sayangnya, karena energi hadirin sudah terkuras habis gara-gara waktu yang terbuang dan mendengar sambutan panjang yang berulang, alhasil pesan-pesan inti tersebut diabaikan begitu saja.
Di kepala anak-anak muda, mereka ingin segera pulang untuk rebahan. Para bapak-bapak maupun ibu-ibu sudah ngantuk dan kelelahan, mereka juga berharap acara lekas selesai agar bisa istirahat di rumah. Ada juga orang-orang yang sedang ditunggu agenda lain, sehingga tidak jenak menyimak.
Sambutan dalam susunan acara (harusnya) cukup diwakili 1 orang saja
Pulang dari acara itu, dalam perjalanan meninggalkan lokasi, saya berbincang dengan anak-anak muda yang sebelumnya duduk bersebelahan dengan saya selama acara. Mereka semakin lhos menumpahkan keluh kesah perihal kenapa dalam setiap acara, sambutannya pasti melibatkan banyak pihak?
Menurut mereka, sambutan dalam susunan acara seharusnya cukup diwakili satu orang saja. Dari ketua panitia saja cukup lah untuk memberi semacam laporan atas terselenggaranya acara tersebut.
Walaupun ada lurah atau camat sekalipun, tidak perlu dimasukkan karena materi sambutannya toh sama saja pada akhirnya. Mereka cukup jadi “tamu kehormatan”, tapi bukan berarti harus betul diminta memberi sambutan.
Sementara jika misalnya lurah atau camat hendak mengumumkan informasi penting, bagi mereka cukup dititipkan ke ketua panitia yang memberi sambutan. Nanti ketua panitia akan membacakan (kira-kira): “Adapun titipan dari Pak Lurah… (dan seterusnya).” Intinya sambutan dari satu orang saja sudah sangat cukup, karena hadirin datang bukan untuk menyimak sambutan belaka.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
