ADVERTISEMENT

Punya Rumah Dekat Pantai bikin Teman Iri, Dikira Enak bisa Healing Terus padahal Tak Sesuai Ekspektasi

Punya rumah di dekat pantai membuat teman iri. Dikira bisa healing sewaktu-waktu padahal tidak mesti begitu MOJOK.CO

Semasa kuliah dulu, alasan beberapa teman ingin liburan semester ke rumah saya di Rembang, Jawa Tengah, di antaranya adalah karena ingin merasakan sensasi healing di pantai utara. Mereka tertarik berlibur ke Rembang karena ketika saya sedang di rumah, kerap kali saya mengunggah suasana rumah yang tidak jauh dari pantai. Mereka “tergiur” laut biru dan semburat jingga yang tampak puitis di sore hari. 

Begitu juga dengan keluarga istri saya (asal Jombang, Jawa Timur). Dulu sebelum saya dan istri menikah, keluarga dari Jombang selalu antusias untuk bertandang ke Rembang. “Enak ya punya rumah dekat pantai, bisa healing sewaktu-waktu.” 

Rumah dekat pantai bagi teman-teman saya terbilang ideal. Karena tidak berada persis di bibir pantai—seperti kampung nelayan—maka masih cenderung aman dari ancaman abrasi dan air sumur yang asin. Tidak berdekatan pula dengan bau amis khas kampung nelayan. 

Cukup dekat dari pantai saja. Artinya, kalau sedang butuh healing, tinggal turun, menyeberang jalan, lalu bisa menikmati debur ombak dan pasir di sana. 

Pantai utara tidak sesuai ekspektasi

Perlu saya garis bawahi dulu bahwa rumah saya ada di pesisir pantai utara. Kondisi pantainya jauh berbeda dengan pantai-pantai di kawasan Selatan (seperti Gunungkidul, Pacitan, Tulungagung, Blitar, atau Malang). 

Pantai utara tidak menawarkan lanskap indah air laut berwarna biru. Tapi air keruh-kecokelatan. Pasir putih di pesisirnya pun tidak selembut pantai-pantai selatan. Yang ada justru kerap kali menyuguhkan sampah-sampah berserakan. 

Ketika beberapa teman kuliah akhirnya liburan ke Rembang, tidak pelak mereka langsung menyatakan bahwa bayangan mereka soal pantai utara ternyata jauh dari ekspektasi. 

Mereka mengakui, senjanya memang eksotis. Namun, perkara keindahan lautnya, bagi mereka ternyata tidak Instagramable untuk diabadikan dan diunggah di media sosial. Tidak jenak pula untuk healing karena duduk atau berjalan-jalan di pasirnya justru sering menginjak sampah dan sesekali berpapasan dengan kotoran manusia. 

Punya rumah di dekat pantai: bisa tidak tahan dengan udaranya

Bagi teman yang terbiasa tinggal di dataran tinggi seperti Pacet Mojokerto atau Dieng Wonosobo, sontak tidak akan kuat dengan kondisi udara di rumah dekat pantai. Tidak hanya teman kuliah saya, istri saya yang kemudian sesekali saya ajak pulang ke Rembang juga merasa demikian. 

Pada siang hari, matahari di daerah pesisir seolah di-setting menjadi lebih terik. Sinarnya terasa sakit menyengat. 

Ditambah lagi, udara yang berembus kencang justru menambah sensasi gerah alih-alih sejuk. Padahal sudah berada di luar rumah. Apalagi jika berada di dalam kamar, dua kipas angin menyala pun tidak cukup mempan untuk mengusir gerahnya. 

Kalau kata istri saya, udara di rumah saya yang dekat pantai juga terasa agak lengket, sehingga membuat tubuh terasa lengket dan tidak nyaman. Untuk orang yang tidak biasa dengan kondisi semacam itu, akhirnya harus mandi berkali-kali. 

Masalahnya, baru selesai mandi, tidak butuh waktu lama untuk berkeringat dan merasa lengket lagi. Padahal tidak sedang ke luar rumah, hanya berdiam di rumah saja. 

Istri teman saya yang berasal dari Banjarnegara juga begitu. Setiap teman saya mengajak istrinya pulang kampung ke Rembang, pasti tidak berlangsung lama. Terbiasa di dataran tinggi nan sejuk membuat dia kesulitan adaptasi dengan panas dan gerah neyelekit yang harus ia rasakan selama ada di rumah sang suami yang juga tidak terlalu jauh dari pantai.

Punya rumah dekat pantai bikin kehilangan minat healing berbau laut

Sejak SMA hingga sekarang berumah tangga di Jogja, saya selalu tidak antusias jika ada yang mengajak healing ke pantai. 

Saat SMA, saya memilih absen saat sekolah mengadakan liburan ke Bali. Saat kuliah, saya juga ogah-ogahan kalau teman mengajak healing ke pantai (entah di Malang atau Blitar). Meski teman-teman dan istri selalu bilang mereka bisa menemukan kedamaian dari mendengar debur ombak atau pasir yang menyelinap di sela-sela jemari kaki. 

Maksud saya, karena sedari kecil tinggal di rumah dekat pantai, pada akhirnya saya kehilangan minat dengan pantai. Melihat pantai rasanya biasa saja. 

Gairah saya untuk healing hanya akan memuncak kalau berurusan dengan pegunungan atau daerah-daerah sejuk—karena kulit saya butuh kesejukan setelah lebih sering tersengat panas terik matahari di pantai udara dan udara gerah-lengket yang membuat keringat bercucuran meski tanpa melakukan aktivitas apapun. 

Maka, kepada beberapa teman saya yang mengaku ingin punya rumah di dekat pantai (tentu pantai yang lebih bagus dari pantai utara Rembang) untuk alasan slow living dan healing, lebih balik mengurungkan niat. 

Kalau masih suka pantai, justru akan lebih baik mengambil jarak darinya. Sebab, jika punya rumah dekat pantai, itu artinya akan setiap saat bersinggungan dengan pantai. Akan ada masanya kedekatan itu justru membuat kehilangan minat karena saking biasanya. Sudah cukup bosan. Di samping persoalan udara yang harus menjadi pertimbangan. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Orang Kota Ngebet Punya Rumah di Desa padahal Tak Cocok, Tampak Asri tapi di Baliknya Bikin Risi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 15 September 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Exit mobile version