Hati saya selalu teriris setiap melihat video siswa berseragam tengah menerima bullying (perundungan) dari teman-temannya. Dipukul berkali-kali, ditendang sekeras-kerasnya, bahkan dibanting. Adegan biadab yang selalu berhasil membuat saya refleks mengumpat dan berharap agar si pembully diazab seketika itu juga.
Lebih memuakkan lagi, sering kali kasus semacam itu berakhir dengan pihak pelaku meminta damai setelah wajahnya viral di mana-mana.
Kemuakan dan kemarahan saya dengan pembully menjadi sangat nyata—tidak hanya memendam sendiri usai melihat potongan video—manakala adik saya sendiri menjadi korban perundungan oleh teman-temannya. Masalahnya, pihak guru terlalu mengentengkan kasus tersebut dengan dalih kenakalan remaja yang wajar dan biasa-biasa saja: namanya juga ABG.
Adik jadi korban bullying di sekolah hingga cedera, ibu enggan lapor karena takut sikap guru berubah
Sejak SMP, adik saya mengalami beberapa kali bullying. Hanya saja ia memang memilih menyembunyikan. Takut dianggap sebagai anak yang suka mengadu.
Saya sebenarnya sudah curiga sejak lama karena melihat adik saya yang terkesan ogah-ogahan masuk sekolah. Ia bahkan lebih sering bolos—dengan alasan yang kerap dibuat-buat.
Apalagi jika momen class meeting, ia bisa sama sekali tidak masuk sekolah. Memilih berdiam diri di rumah. Alasannya, ia tidak pernah dilibatkan.
Sampai akhirnya, suatu ketika, ia pulang dengan keluhan sakit di tulang rusuk bagian kanan. Awalnya ia mengaku terpeleset di sekolah. Namun, saat saya cecar, ia mengaku habis dikerjai teman-temannya: dijegal saat berlari hingga jatuh tersungkur. Tulang rusuk kanannya cedera hingga harus menjalani beberapa hari terapi.
Di momen itu pula ia akhirnya cerita kalau sudah sejak lama ia jadi korban bullying. Dari bullying verbal hingga fisik. Alasannya sangat konyol: hanya gara-gara ia berkacamata (karena minus).
Beberapa teman laki-laki sekelasnya (remaja kabupaten sok gagah) punya anggapan konyol: bahwa orang berkacamata itu culun. Dan berdasarkan referensi mereka dari melihat film atau sinetron, orang culun memang sering kali jadi sasaran bullying. Padahal tidak ada hubungannya antara kacamata dan stereotip culun. Murni karena remaja-remaja pubertas itu bodoh saja.
Saat itu saya berniat hendak mendatangi sekolah untuk melabrak siswa sekaligus seorang guru yang menjadi wali kelasnya. Kalau perlu sekalian ke guru BK. Tapi ibu saya benar-benar melarang. Ia takut, jika saya bertindak demikian, imbasnya nanti akan panjang.
Terutama yang ibu khawatirkan adalah: nanti adik saya semakin tidak punya teman karena dicap pengadu, ibu juga takut sikap si guru bakal berubah menjadi tidak ramah dengan ibu maupun adik.
Karena sering kali yang terjadi memang seperti itu. Di SMP tersebut, jika ada siswa yang mengadukan hal-hal mengganggu, maka ia tidak hanya akan dijauhi oleh teman-temannya, tapi pihak guru pun akan berbuat serupa.
Penyelesaian perundungan di ruang BK yang tidak bisa dipercaya
Kemarahan saya sempat leram. Bukan karena memaafkan, tapi karena saya tidak kuasa membantah kata ibu.
Akan tetapi, perundungan yang adik saya alami di sekolah masih berulang. Suatu ketika adik saya pulang dengan takut karena frame kacamatanya patah. Ia takut akan dimarahi ibu.
Saat itu adik menelpon saya untuk mencari solusi. Saya yang sedang bekerja di Surabaya langsung mencecarnya dengan sejumlah pertanyaan. Lantas terjawablah kenapa frame kacamatanya patah: saat diletakkan di dalam tas karena ditinggal salat, seorang teman kelas menggunakan tas adik saya untuk mainan.
Seketika itu juga saya menelpon seorang guru perempuan yang menjadi wali kelas adik saya. Pertama, jawabannya, si guru tidak tahu menahu kejadian itu karena adik saya tidak melapor. Kedua, ia menjanjikan akan segera mengurus si pelaku melalui guru BK.
“Yang jelas saya tidak menuntut ganti rugi. Saya hanya menuntut, tolong kasus semacam ini ditangani,” ujar saya waktu itu.
Sehari berselang, saat saya memastikan lagi perkembangan si pelaku, guru wali kelas adik saya dengan enteng menjawab: belum sempat memanggil si siswa terduga pelaku. Saya naik pitam karena terkesan ada penyepelean kasus bullying. Maka hari itu juga saya putuskan pulang dari Surabaya menuju Rembang, naik bus.
Labrak guru malah direspons: cuma main biasa, jangan dibesar-besarkan
Malam tiba di rumah. Besok paginya saya langsung berangkat ke sekolah adik saya untuk melabrak si guru. Saat itu ibu sudah tidak bisa lagi menahan-nahan karena saya sudah sangat emosi.
Kepada si guru, saya beberkan beberapa kasus bullying yang sudah adik saya alami, termasuk dampaknya bagi kondisi mental dan fisik adik saya.
“Mas tenangkan diri dulu. Namanya kan remaja ya, hanya main-main. Ya kita cari solusinya, tapi nggak perlu dibesar-besarkan,” jawaban si guru wali kelas dan guru BK yang saya temui pagi itu alih-alih menenangkan malah justru membuat saya makin emosi.
Kepada keduanya saya tegaskan bahwa bullying bukan tindakan yang sepatutnya dinormalisasi dengan dalih klise “namanya juga anak-anak” atau sejenisnya. Apalagi dengan embel-embel “jangan dibesar-besarkan.”
“Gimana nggak dibesar-besarkan, adik saya pernah cedera dan nggak berani cerita. Terus malas sekolah karena kena jadi korban bullying, jangan dibesar-besarkan gimana?” Sanggah saya waktu itu.
Sulitnya berhadapan dengan orang tua pelaku perundungan yang denial
Singkat cerita, akhirnya pihak guru akhirnya meminta maaf dan menjamin akan mengambil tindakan tegas kepada si pelaku.
Di sela-sela itu mereka bercerita, memang harus agak hati-hati dalam menangani kasus semacam ini. Sebab, sering kali pihak sekolah harus berhadapan dengan orang tua siswa yang denial: menolak menerima fakta bahwa anaknya salah dan akhirnya berujung panjang. Di sisi guru pun mengaku kesulitan untuk memberi pengertian kepada orang tua model seperti ini.
Dari situ saya akhirnya memahami kenapa rantai bullying di sekolah terkesan amat sulit diputus. Ada guru yang kerap menganggapnya sebagai hal sepele, ada orang tua pelaku yang sering kali denial. Di posisi seperti ini, korban bullying pun hanya bisa memendam sendiri luka-luka fisik dan mentalnya.
Namun, di hari itu, saya meminta agar pihak guru langsung menelpon orang tua terduga pelaku sekaligus memanggil si siswa terduga pelaku ke ruang BK.
Saya memang tidak menghadapi orang tua yang denial. Namun, pihak orang tua meminta agar tidak dibesar-besarkan. Minta damai saja. Saya enggan menerima begitu saja. Saya minta sebuah sanksi sosial di lingkungan sekolah yang benar-benar memberikan efek jera: agar setiap siswa bengal berpikir sekian kali kalau mau membully siswa lain.
Bukannya saya tidak pernah menjadi siswa bengal di masa sekolah dulu. Tapi sebengal-bengalnya, membully orang lain yang tidak berdaya adalah tindakan bobrok yang harus diputus rantainya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Anak Saya Direndahkan, Dibilang Anak Setan; Ucap Orang Tua Korban Bully di Jakarta atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
