Merenungi Tragedi KRL Cikarang usai Peristiwa Daycare Jogja, Potret Nyata Perempuan yang Tetap Berjuang di Tengah Stigma

Pesan untuk Perempuan usai Tragedi KRL dan Daycare Jogja. MOJOK.CO

ilustrasi - tantangan perempuan di tengah stigma. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Kasus kekerasan anak di daycare Jogja dan kecelakaan yang menyebabkan ringseknya gerbong khusus wanita (KKW) pada commuterline (KRL) Cikarang Line, bikin saya merenung seharian ini. Serangkaian berita duka yang sekilas tak ada hubungannya ini, sebenarnya punya benang merah yang jelas. Korban adalah kelompok rentan yang melibatkan perempuan. 

Sayangnya, di tengah chaos tersebut, berbagai komentar negatif terhadap perempuan terus muncul bertebaran. Dalam konteks daycare di Jogja, ibu sekaligus perempuan yang harus bekerja dan menitipkan anaknya malah disalahkan. Mereka disangka tak becus memberikan pola asuh kepada anak bahkan lepas tanggung jawab. 

Padahal, banyak ibu pekerja yang sejatinya tak tega meninggalkan anak-anak mereka di penitipan. Namun, kondisi ekonomi menuntutnya untuk tetap bekerja sambil mengurus rumah. Ibarat pepatah sudah jatuh tertimpa tangga, menjadi ibu di era modern ini makin sulit karena harus lelah secara fisik dan mental.

Perempuan yang harus bekerja dan mengurus rumah

“Dulu sebelum resign, aku memang memutuskan kerja di Jogja karena faktor ekonomi. Jadi setelah baru melahirkan selama 18 bulan, aku harus bantu suami karena kondisi lagi Covid juga,” kata Intan (36).

Karena Intan dan sang suami bekerja, mereka pun menitipkan anaknya ke sebuah daycare. Waktu itu, ia meyakini bahwa daycare yang baik akan membantu stimulasi dan cara bersosialisasi anak dibandingkan menyewa pengasuh yang hanya tinggal berdua dengan bayinya.

“Kebetulan dulu anakku juga speech delay, jadi sama dokter disarankan agar anakku masuk daycare saja agar membantu tumbuh kembangnya,” jelas Intan. 

Alih-alih mengetahui perjuangan ibu pekerja yang harus menitipkan anaknya, beberapa komentar negatif justru muncul setelah kasus kekerasan anak di daycare Jogja terjadi.

“Saya rela nggak punya pekerjaan, nggak punya gaji, makan seadanya, hidup seadanya asal anak tenang, senang, dan terurus. Kudampingi anakku dari bangun tidur sampai tidur lagi daripada dititipin orang lain,” kata salah satu akun @has91156 di Threads.

“Kalau bisa jangan egois Bu, jualan di rumah kek walau untung nggak seberapa atau cukup untuk makan sehari-hari. Tunggu anak besaran,” kata @awan_biru22222.

“Lagian kenapa sih harus dititipin ke orang lain kalau masih bayi? Salah keduanya sih, orang tua dan daycare-nya,” kata @nonaname077.

Namun, setelah mendengar dan melihat kejadian kecelakaan KRL Cikarang Line yang videonya mudah dilihat di mana-mana, masihkah ada yang tega untuk menuding sang ibu, menjadikannya ‘samsak’ bahwa segala pilihan yang perempuan buat adalah keputusan yang salah. 

Korban kecelakaan KRL Cikarang Line seluruhnya perempuan

Menjawab nyinyiran tadi, tragedi KRL Cikarang Line yang terjadi pada Senin malam (27/04/2026) seharusnya menjadi tamparan keras untuk kita. Alih-alih menuding siapa, bukankah alangkah baiknya jika pertanyaan pertama yang diganti adalah bagaimana?

Dalam kecelakaan KRL yang menewaskan 15 orang itu (update: Selasa (28/4/2026 pukul 14.00), ada keluarga yang sedang menunggu anggotanya pulang ke rumah dengan selamat senantiasa memanjatkan doa yang tak pernah putus—semoga aman, semoga mereka baik-baik saja di sana. Ada pula seorang ibu pekerja yang berharap pulang sebelum anaknya terlelap.

Melansir dari Pikiran Rakyat, salah satu perempuan yang tewas dalam tragedi tersebut adalah Nurlaela (37), seorang guru PNS yang kini telah meninggalkan anak semata wayangnya yang masih duduk di bangku kelas 6 SD untuk selama-lamanya. 

Saban hari, Nurlaela memang menggunakan KRL sebagai transportasi utama untuk berangkat dari rumahnya di Kabupaten Bekasi dan mengajar di salah satu SD wilayah Jakarta Timur. 

Untuk perempuan, jangan pernah kehilangan empati di tengah tragedi

Oleh karena itu, wajar jika para perempuan kini ikut menyerukan bentuk bela sungkawa mereka, alih-alih memberikan komentar negatif atau menghakimi perempuan di situasi duka seperti sekarang. Entah hanya dalam bentuk kiriman doa maupun empati yang ditujukan kepada korban. 

Safira Firdaus misalnya, seorang ibu pekerja ini berharap kasus daycare di Jogja dan kecelakaan KRL membuka mata semua orang tentang perjuangan berat seorang perempuan.

“Bukan cuma karena tanggung jawabnya, tapi karena dunia seolah punya stok ‘penghakiman’ tanpa batas untuk setiap pilihan yang kita buat. Saat musibah terjadi–entah itu di daycare atau kecelakaan KRL, pertanyaan pertama yang muncul seringkali begini, siapa penjahatnya? Bukan bagaimana kondisinya?”

“Padahal, Ibu yang bekerja itu pejuang, ibu rumah tangga itu pejuang, ibu yang menitipkan anak karena tuntutan ekonomi itu pejuang. Jadi stop nirempati,” tegas Safira. 

Badan Pusat Statistika (BPS) bahkan mencatat sebanyak 14,37 persen pekerja di Indonesia merupakan female breadwinners, yakni perempuan yang bekerja dan memiliki penghasilan paling dominan di antara anggota keluarga. Menariknya, 40,77 persen berstatus sebagai istri. 

Women support women yang diperlukan saat ini

Istilah female breadwinners sendiri muncul karena fenomena perempuan yang bertanggungjawab atas kesejahteraan finansial keluarga di tengah kesibukannya menjalankan tanggung jawab domestik di rumah.

“Dulu waktu aku kerja kantoran selama 5 tahun, rasanya capek banget. Berangkat pagi, terus pulangnya sore langsung masakin anak dan beres-beres rumah. Makanya aku sedih banget pas dengar berita duka yang bertubi-tubi ini,” kata Intan.

“Nggak kebayang ada ibu yang pulang kerja di dalam gerbong itu dan jadi korban. Sedih banget,” lanjutnya. 

Oleh karena itu, tragedi kecelakaan KRL maupun kasus daycare ini seharusnya menjadi potret nyata dari cerita hidup, perjuangan, dan kenangan baik korban untuk keluarga yang ditinggalkan. Mari berdoa untuk korban yang meninggal supaya mereka mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan.

Juga keluarga yang ditinggalkan agar diberi kekuatan dan penghiburan. Serta korban yang luka segera diberi kesembuhan sehingga bisa beraktivitas lagi. Peluk erat untuk ibu dan perempuan yang sedang berjuang. 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Perempuan Surabaya Beramai-ramai Ceraikan Suami, karena Cinta Tak Lagi Cukup Membayar Tagihan Hidup atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version