Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi

Kereta eksekutif murah selamatkan saya dari neraka kereta ekonomi. MOJOK.CO

Penyesalan User Kereta Eksekutif yang Keseringan Pakai Ekonomi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Sebagai orang yang sudah lebih dari 4 tahun kuliah di Jogja, Nisa (24) sering bolak-balik ke Surabaya menggunakan kereta api (KA) eksekutif alih-alih pakai kereta ekonomi. Menjelang Lebaran 2026 kemarin, ia menyarankan saya untuk naik kereta yang “agak mahalan” agar tidak lelah di jalan. Sebab sejatinya, saya adalah kaum “mendang-mending” yang langganan KA Sri Tanjung.

Tak bisa dimungkiri, KA Sri Tanjung adalah kereta ekonomi yang menolong banyak “wong kalahan” apalagi untuk karyawan bergaji imut (karjimut)—kalau saya alhamdulillah sudah lebih dari UMK Jogja (Rp2,8 juta). 

Namun, KA Sri Tanjung tetap menggiurkan di tengah kondisi ekonomi seperti sekarang. Harga tiketnya sebesar Rp88 ribu, sementara harga tiket eksekutif bisa dua kali lipat dari harga tiket kereta ekonomi, tapi ya begitu, harga yang harus dibayar adalah kenyamanan.

Banyak orang yang rela duduk di kursi tegak selama lebih dari 5 jam. Belum lagi, duduk berhadap-hadapan dengan orang yang tidak dikenal. Kadang-kadang, ada saja penumpang yang ramai seperti mengobrol dengan suara keras.

Walaupun tidak betah, saya lebih baik menahan asal duit aman–tidak terkuras terlalu banyak apalagi di momen Lebaran. Bisa dialihfungsikan untuk kebutuhan lainnya. Hanya saja, untuk mendapatkan tiket KA Sri Tanjung tidaklah mudah karena terkadang harus ‘war’ dengan penumpang lain.

Benar saja, saya sudah kehabisan tiket seminggu sebelum memutuskan pulang ke Surabaya. Terpaksa, saya harus memilih kereta eksekutif yang harga rata-ratanya sekitar Rp200 ribu ke atas.

Terpaksa beli tiket kereta eksekutif

“Coba pakai KA Argo Semeru, Mutiara Selatan, Wijayakusuma, atau Sancaka. Harganya nggak beda jauh dengan kereta ekonomi asal belinya nggak mepet,” kata Nisa memberi saran, Kamis (9/3/2026).

Saya pun mencoba mengikuti saran Nisa. Namun, saat saya mencari di aplikasi KAI, nama-nama kereta eksekutif yang ia sebutkan tadi tidak ketemu. Yang ada malah KA Jayakarta, Logawa, Pasundan baik kelas ekonomi maupun eksekutif.

Rupanya, saya harus mengubah titik stasiun keberangkatan yang tadinya dari Stasiun Lempuyangan ke Stasiun Yogyakarta (Tugu). Maklum, sejak merantau di Jogja dari tahun 2024, saya terbiasa naik maupun turun dari Stasiun Lempuyangan karena beberapa alasan yang akan saya ceritakan di akhir nanti.

Setelah mengubah titik keberangkatan, barulah pilihan kereta eksekutif di aplikasi saya muncul lebih banyak, seperti usulan Nisa. Dan benar saja, harga kereta eksekutif tidak jauh berbeda dengan harga KA Logawa maupun Pasundan.

“Lebih murah dari ekspektasiku ternyata, dapat diskon pula dari KAI,” kata saya mengirim pesan pada Nisa.

Aku lak wes tahu ngomong se Ndeng, Gendeng! (Aku kan sudah pernah bilang sih anak gila),kata anak Surabaya itu yang gemas kepada saya karena tidak mengikuti sarannya dari dulu.

“Mending pilih kereta eksekutif ben kon nggak boyoken. Opo mane Lebaran iki kon nggak bakal nang omah, unjung-unjung. (Mending pilih kereta eksekutif biar kamu nggak sakit pinggang. Apalagi Lebaran kali ini kamu nggak bakal berdiam diri di rumah tapi keliling),” lanjutnya.

Bisa naik kereta mahal karena promo KAI

Akhirnya, saya membeli kereta eksekutif Sancaka. Pikir saya itu harganya tak jauh beda dengan harga tiket ekonomi premium karena promo Lebaran dari KAI. Di mana, kereta eksekutif Sancaka seharga Rp231 ribu, sedangkan kereta ekonomi premium seharga Rp203 ribu.

Sudah harganya murah, saya bisa pakai fasilitas yang mewah walaupun tidak semewah kereta api kelas luxury. Paling tidak, saya terbebas dari kursi tegak dan bisa nyambi kerja di kursi Mild Steel warna biru terang alias kereta eksekutif generasi pertama. 

Menurut KAI, kereta eksekutif Sancaka memiliki formasi tempat duduk 2-2 yang bisa diputar untuk saling berhadapan. Posisi kursi pun searah dengan laju perjalanan, sehingga penumpang tidak pusing. 

Namun, satu yang bikin saya menyesal adalah tidak mengatur tempat duduk di sebelah perempuan. Awalnya, saya pilih tempat duduk yang kosong dengan harapan tidak ada yang mengisi, tapi pilihan ini juga penuh risiko karena pada akhirnya saya duduk di sebelah laki-laki.

Sebagai penumpang kereta eksekutif baru, saya sempat panik karena lengan kami sempat bergesekkan secara tak sengaja saat saya sibuk mengeluarkan buku dari tas di bawah kursi, sementara dia tertidur. Saya pun celingukan mencari sandaran tangan sebagai pembatas, tapi karena panik saya menduga gagang kursi itu tak ada.

Padahal, kursi-kursi lain tersedia. Alih-alih bertanya ke petugas atau mengganggu penumpang sebelah saya yang melanjutkan tidurnya, saya pun mengirim kepada Nisa. Mendengar cerita saya, Nisa ikut gelagapan dan menyuruh saya mencari lebih teliti.

“Pasti ada wah, nggak mungkin nggak ada. Coba cari di sela-sela kursimu!” perintahnya.

Dan benar saja, gagang kursi itu ada. Terselip di antara kursi, tapi gagangnya memang cukup untuk satu lengan tangan.

Rela bayar mahal agar bisa kerja di dalam kereta eksekutif

Agar tidak plonga-plongo lagi naik kereta eksekutif, saya mulai mencari informasi di internet terutama soal ornamen kursi yang memudahkan saya. Salah satunya, tatakan kaki yang pada akhirnya tidak saya pakai, karena kaki saya yang pendek ini justru merasa kram saat menggunakannya berlama-lama.

Satu yang bikin saya tidak menyesal pakai kereta eksekutif adalah meja makan lipat yang bisa dialihfungsikan untuk membuka laptop. Berdasarkan tutorial Youtube yang saya tonton, meja ini berada tersembunyi di salah satu gagang kursi bagian dalam. 

Kalau kamu duduk di dekat jendela, kamu bisa membuka penutup sandaran tangan sisi tersebut tanpa memencet tombol macam-macam. Lalu, tinggal tarik lubang cantolan berwarna silver ke arah atas sampai seluruh bagian meja keluar. 

Jujur, awalnya saya takut dimarahi petugas KAI karena membuka laptop di atas meja yang fungsi utamanya untuk makan. Apalagi, ukuran laptop Lenovo saya terbilang lebih besar dari meja tersebut. Namun saya lega, karena petugas hanya berlalu-lalang tanpa menegur.

Pengalaman ini bikin saya sadar, kenapa nggak dari dulu saja saya pakai kereta eksekutif? Meski mahal, setidaknya saya bisa mengetik dengan nyaman. Sebab jujur saja, buka laptop di kursi tegak ekonomi terasa menyiksa.

Mata harus melihat ke bawah di situasi kereta bergerak, paha panas karena mesin laptop yang terus bekerja, tatapan sinis penumpang dari berbagai sisi yakni samping kanan-kiri maupun depan. Belum lagi kalau bertemu penumpang banyak tingkah yang duduk membelakangi kita sehingga bangku terasa “jedag-jedug”.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Penyesalan Penumpang Kereta Eksekutif: Bayar Mahal untuk Layanan Mewah, Malah Lebih Nyaman Pakai Kereta Gaya Lama dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version