Backpackeran Naik KA Eksekutif Jogja-Jakarta Demi Menyembuhkan Luka, Malah Dibuat Kesal dengan Kelakuan Norak Penumpangnya

KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO

ilustrasi - kereta eksekutif (Ega Fansuri/Mojok.co)

KA Eksekutif memang elite. Harganya yang mahal sebanding dengan fasilitasnya yang mewah. Namun, kelakukan oknum penumpang kereta api mahal ini malah bikin kesal. Norak!

***

Menjelang Lebaran, Stasiun Tugu Jogja selalu punya pemandangan yang sama. Ribuan orang turun dari kereta dengan wajah lelah yang bercampur lega. Mereka adalah para pemudik dari Jakarta dan kota besar lainnya yang akhirnya tiba di kampung halaman. 

Namun, di tengah keramaian arus mudik itu, saya justru bersiap melakukan hal sebaliknya. Saya mencetak tiket, menunggu di peron, dan bersiap naik kereta api menuju Jakarta.

Bagi banyak orang, keputusan saya mungkin terdengar aneh. Saat semua orang berlomba-lomba meninggalkan ibu kota untuk berlebaran bersama keluarga di kampung, saya malah sengaja masuk ke kota yang perlahan mulai kosong tersebut. Rencananya, saya mau menemui seorang kawan lama di sana.

Rela keluar uang 660 ribu untuk tiket kereta api demi healing

Namun, kepergian saya ini bukan sekadar agenda liburan biasa. Beberapa hari sebelum Lebaran, kucing peliharaan kesayangan saya mati. Kematiannya membuat suasana hati mendadak terasa sangat sepi.

Berada di kamar kos seharian hanya membuat saya terus teringat rutinitas memberinya makan, membersihkan pasirnya, atau sekadar melihatnya tidur di sudut kasur. Saya butuh jeda. Saya butuh keluar untuk mengalihkan pikiran, dan Jakarta sepertinya adalah tempat pelarian yang pas.

Keputusan mendadak ini tentu berdampak pada tiket kereta api. Saat saya mengecek aplikasi pemesanan, tiket kelas ekonomi sudah ludes terjual. Tersisa hanya tiket kereta kelas eksekutif. Pilihan saya akhirnya jatuh pada KA Eksekutif Argo Semeru rute Jogja-Jakarta. Harga tiketnya Rp660 ribu.

Sejujurnya, saya adalah penganut gaya jalan-jalan hemat alias backpackeran. Dalam banyak tulisan di Mojok, saya menulis betapa terbiasanya berburu tiket kereta ekonomi yang murah meriah dan paling anti mengeluarkan uang lebih. Apalagi lebih dari setengah juta hanya untuk ongkos kereta sekali jalan. 

Namun, kali ini kondisinya berbeda. Saya sedang membawa misi menyembuhkan luka batin. Kebetulan, uang Tunjangan Hari Raya (THR) dari kantor juga baru saja cair. Saya pun mencoba menghibur diri. 

“Tidak apa-apalah sesekali melanggar prinsip hemat,” begitulah kata saya, mbatin. Anggap saja tiket enam ratus ribuan ini sebagai harga untuk membeli ketenangan, kenyamanan, dan waktu luang enam jam di perjalanan untuk healing.

Fasilitas KA Eksekutif yang nyaman “kebanting” dengan kelakuan norak penumpangnya

Sekitar pukul satu siang, KA Argo Semeru pun tiba. Saya masuk ke dalam gerbong eksekutif, menemukan nomor kursi saya, lalu duduk dengan lega. Sesuai dengan harganya, fasilitas kereta api ini memang sangat nyaman. 

Kursinya empuk, AC-nya sangat dingin, dan ruang untuk kakinya sangat luas. Berbeda dengan kereta ekonomi berkursi tegak yang biasa saya naiki. Saya pun sudah membayangkan bisa tidur nyenyak, atau sekadar melamun di dalam gerbong KA Eksekutif.

Sayangnya, ekspektasi tentang perjalanan yang tenang itu hancur berantakan, bahkan sebelum kereta benar-benar meninggalkan Jogja.

Semuanya bermula ketika sepasang keluarga muda kelas menengah datang ke baris kursi tempat saya duduk. Posisinya tepat di seberang sebelah kanan saya.

Penampilan mereka sangat mentereng. Sang ayah memakai sneakers kekinian bermerek mahal, sang ibu menenteng tas branded, dan mereka membawa koper kabin “estetik” yang harganya saya taksir jutaan. Mereka juga membawa seorang anak yang masih kecil, kira-kira usianya dua tahunan.

Tanpa basa-basi, sang ibu tiba-tiba menepuk pundak penumpang pria yang duduk tepat di sebelah saya.

“Mas, maaf ya. Boleh tukar kursi nggak sama suami saya di baris belakang? Anak saya pengen banget duduk dekat jendela soalnya,” ucap si ibu dengan nada yang sangat santai.

Jelas saja, penumpang di sebelah saya terlihat kebingungan dan serba salah. Di KA Eksekutif yang harganya mahal ini, setiap penumpang berhak duduk di kursi sesuai dengan nomor yang sudah mereka bayar. Kalau mau duduk di dekat jendela, ya, seharusnya mereka memilih kursi itu sejak awal saat memesan tiket di aplikasi. 

Namun, karena dihadapkan pada alasan “demi anak kecil”, penumpang pria itu akhirnya mengalah. Ia membereskan barangnya dan pindah ke baris belakang.

Suami si ibu itu pun maju dan duduk tepat di sebelah saya sambil memangku anaknya. Sejak detik itu, saya tahu kedamaian saya sudah tamat. Dan benar saja, kelakuan menukar kursi orang lain secara sepihak itu baru permulaan.

Membiarkan penumpang lain terganggu dengan suara berisik

Baru lima belas menit KA Eksekutif ini berjalan, si anak balita mulai rewel dan menangis. Alih-alih dibikin tenang, misalnya, diajak jalan-jalan ke gerbong restorasi, atau ditenangkan dengan cara lain, si ayah malah langsung mengambil jalan pintas: menjejalkan iPad ke tangan anaknya.

Video kartun bernyanyi pun diputar dengan volume yang sengaja dibesarkan. Mereka sama sekali tidak memakaikan headphone ke anaknya. Suara lagu anak-anak berbahasa Inggris itu pun bergema tajam di gerbong ber-AC yang kedap suara itu.

Hal yang paling membuat saya kesal adalah kelakuan kedua orang tuanya. Sementara saya dan penumpang di sekitarnya harus menahan sabar mendengar suara bising dari iPad tersebut, si ayah dan ibu muda ini dengan santainya mengeluarkan earbuds noise-cancelling mahal mereka. 

Ya, mereka menyumbat telinga mereka sendiri dan tidur dengan enaknya. Padahal mereka baru saja melempar tanggung jawab kebisingan anak mereka ke seluruh gerbong.

Bikin konten di dalam KA Eksekutif sampai ganggu penumpang lain

Di tengah polusi suara itu, si ibu ternyata punya “agenda” sendiri. Ia terbangun, lalu mengeluarkan ponsel pintar dan tripod mini. Ia menaruh alat itu di pinggir meja lipat keretanya dan sibuk merekam video. Rupanya, ia sedang membuat konten perjalanan kereta apiyang estetik untuk media sosialnya.

Ia berkali-kali menyuruh suaminya bergeser dan mengubah posisi duduk agar terekam bagus di kamera. Aksinya ini, tak cuma bikin saya risih, tapi juga membuat lorong kereta api jadi terhalang. 

Saking sibuknya membuat konten, seorang pramugari KA Eksekutif yang sedang mendorong troli makanan bahkan harus berhenti dan menunggu lebih dari semenit penuh karena si ibu belum selesai merekam videonya.

Puncak dari semua kelakuan norak ini terjadi saat jam makan. Keluarga ini membuka bekal dari tas mereka. Saat makan, si anak menjatuhkan banyak sekali remahan roti ke lantai, bahkan sampai berceceran ke dekat sepatu saya. Ada juga sedikit tumpahan minuman.

Melihat kotoran itu, si ayah sama sekali tidak berniat membersihkannya. Ia juga tidak meminta maaf kepada saya karena remahannya mengotori area kaki saya. Dengan wajah tanpa dosa, ia malah menyeletuk ke istrinya dengan suara yang cukup keras.

“Biarin aja berantakan di situ, nanti juga ada petugas cleaning service yang nyapu.”

Mendengar kalimat itu, saya hanya bisa menghela napas panjang. Saya menatap ke luar jendela dengan perasaan campur aduk. 

Saya baru saja kehilangan hewan peliharaan yang tidak bisa bicara, tapi kehadirannya tidak pernah merepotkan saya. Kini, di kereta seharga Rp660 ribu ini, saya malah harus duduk bersebelahan dengan manusia dewasa yang berpendidikan, banyak uang, tapi tidak punya empati dan tata krama dasar di ruang publik.

Uang tak bisa membeli etika

Dari kejadian ini, saya kembali disadarkan pada satu realitas sosial. Uang memang bisa membeli barang mewah dan tiket kelas eksekutif. Namun, uang sebanyak apa pun tidak bisa menyogok untuk mendapatkan etika. 

Harga tiket kereta ratusan ribu rupiah ternyata cuma mampu memilah status finansial penumpangnya, tapi gagal total menyaring kepedulian mereka terhadap orang lain.

Menegur mereka mungkin hanya akan membuat keributan panjang. Mengingat saya sedang dalam masa berduka, saya benar-benar tidak punya tenaga ekstra untuk meladeni perdebatan dengan orang yang merasa punya dunia.

Pada akhirnya, saya memilih untuk merawat kewarasan saya sendiri. Saya mengambil earphone dari dalam tas, memasangnya kuat-kuat ke telinga, dan memutar volume musik sekencang mungkin untuk menenggelamkan suara kartun di sebelah saya.

Niat healing dengan tenang di kereta mahal ini memang gagal total. Tapi ya sudahlah, setidaknya kursi kelas eksekutif ini cukup empuk untuk mengistirahatkan punggung dan pikiran saya yang sedang lelah.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Saya Kapok Naik Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version