ADVERTISEMENT

Orang Miskin dan Sulit Ekonomi di Desa Justru Paling Tulus Peduli, Tapi Tak Dihargai karena Tak Bisa Bantu Materi

Orang dengan kesulitan ekonomi (kurang mampu atau miskin) di desa, justru paling tulus dalam kehidupan sehari-hari MOJOK.CO

Dalam kesederhanaan memberi kehangatan hubungan

Saya begitu bersyukur. Kendati saya tidak cocok dengan sistem sosial yang transaksional di desa saya, tapi saya masih dikelilingi oleh orang-orang yang, kendati dalam kesederhanaan, justru memberi hubungan penuh kehangatan. 

Ada banyak cerita. Tapi saya mau ceritakan satu bagian lagi: seorang teman semasa nyantri. Orang-orang memanggilnya Arok (26), Konon karena dulu ia pernah kesurupan khodam Warok. Entahlah. 

Ada banyak kebaikannya sejak nyantri yang sulit saya lupakan. Kebaikan yang masih terus ia berikan sampai sekarang.

Sehari-hari ia dagang sayur di tetangga kecamatan saya. Tiap pulang ke Rembang, saya mesti menghampirinya: dan kami bisa kuat ngobrol seharian penuh dengan secangkir kopi lelet. 

Saya sering absen dalam beberapa momen penting hidupnya. Salah satunya saat ia menikah. Tapi ia nyaris tidak pernah absen dalam momen-momen penting hidup saya. 

Saat saya menikah, ia jadi salah satu teman yang melek sampai subuh di rumah saya. Saat detik-detik penuh pertaruhan kelahiran anak saya, ia jadi teman pertama yang langsung datang ke rumah sakit untuk menemani. 

Beberapa kali pula, tiap saya mampir ke warung sayurnya, ia memberi saya bingkisan berisi berenteng-renteng bumbu instan, kopi sachet, hingga bumbu dapur seperti cabai dan bawang. Dan ia selalu menolak dibayar. 

Sesuatu yang, kalau pakai sistem sosial yang sudah terlanjur berlaku, rasa-rasanya tidak akan terjadi. Saya absen dalam pernikahannya, seharusnya Arok juga absen di pernikahan saya. Saya tidak pernah memberinya sesuatu, mestinya ia juga bisa memilih tidak sering-sering memberi saya bingkisan. Tapi ia tidak hidup dalam sistem sosial yang membusuk seperti itu. 

Kebaikan tetangga miskin di desa yang tidak ada habisnya

Ternyata cukup banyak cerita-cerita serupa di sekitar saya: perihal betapa orang dalam kesulitan ekonomi (kurang mampu atau miskin) di desa, justru memberi kebaikan tanpa ada habisnya

Misalnya yang diceritakan Gandika (24), juga pemuda asal Rembang (kepada Mojok ia sudah cukup sering berbagi cerita). 

Ia masih ingat, dulu ketika kakinya patah akibat bermain bola dan harus menjalani pijat setiap hari, tetangga laki-lakinya lah yang setiap hari membopongnya. Karena di rumah ia hanya ada ibu, bapaknya saat itu masih merantau di Malaysia. 

“Ketika simbahku meninggal, dia orang yang paling repot membantu memulasara,” ungkap Gandika.

Keluarga tetangga Gandika itu masuk dalam kategori kurang mampu. Tapi, sekecil apapun sesuatu yang mereka punya, pasti tidak akan luput berbagi, karena ia hidup berpatok pada kerukunan. Misalnya, mereka punya bubur jagung, akan dibagikan ke tetangga yang lain. 

“Mirisnya, meski tulus, tidak pernah dihargai. Aku menyaksikan sendiri, ia kerap jadi rasan-rasan: ‘Bubur jagung aja dibagi-bagikan.’ ‘Modal awak thok ora menehi apa-apa (modal badan (tenaga) aja nggak ngasih apa-apa.’ Hanya karena ia cuma bisa ngasih bantuan tenaga, bukan barang yang dalam standar banyak orang dihitung berharga,” beber Gandika. Ketulusan saja ternyata tidak cukup untuk hidup di desa.  

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 12 Februari 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Exit mobile version