Nongkrong di usia 30 terasa sudah tidak sama lagi. Teman makin jompo, obrolan pun makin membosankan. Tapi saya bisa memaklumi.
***
Pada Minggu (19/4/2026) lalu, saya menonton special show Stand Up Comedy dari Priska Baru Segu yang berjudul “Pertigapuluhan”. Sesuai judulnya, materi komedi tunggal ini membahas masalah-masalah yang sering dialami orang ketika mulai masuk ke usia 30 tahun.
Mulai dari urusan jodoh, pola pikir yang berubah, kebiasaan baru yang muncul, hingga kecenderungan malas keluar rumah untuk sekadar nongkrong bersama teman.
Saya sendiri tahun ini genap berusia 28 tahun. Masih ada sisa waktu dua tahun sebelum saya resmi menginjak usia kepala tiga.
Saat menonton pertunjukan itu, jujur saja ada beberapa hal yang sudah terasa sangat cocok atau relate dengan hidup saya, meski sebagian besarnya belum saya rasakan langsung. Namun, materi Priska tersebut benar-benar menjadi potret nyata dari teman-teman saya yang sudah berusia 30-an. Mereka berubah 180 derajat.
Kami memiliki sebuah grup Whatsapp yang isinya “info nongkrong”. Grup yang dulunya sangat berisik dan selalu siap diajak kumpul kapan saja, kini berubah sepi. Sebagian besar merespons dengan wacana dan penolakan halus.
30 tahun, bukan lagi usia buat nongkrong
Saya ingat, balasan dari salah satu kawan, Regina (31). Ia adalah seorang teman perempuan yang kini bekerja di industri kreatif di Jogja.
Zaman kuliah dulu, Regina adalah “ratu nongkrong”. Dia pantang pulang sebelum jam tiga pagi dan selalu tahu kafe mana yang sedang tren. Kini, ia seolah ogah-ogahan keluar malam.
“Muka udah nempel skincare, males keluar,” kata dia, suatu waktu.
Regina tidak sedang bersikap antisosial. Dia hanya sedang memasuki fase joy of missing out alias JOMO. Kalau dulu kita merasa takut tertinggal tren atau FOMO, di usia 30-an, batal nongkrong justru menjadi momen yang disyukuri.
Bagi beberapa orang, membaca pesan bahwa rencana kumpul dibatalkan adalah sebuah kabar baik karena mereka bisa rebahan dan menonton drama Korea kesukaan.
Lagi pula, kalau kata Gina, fisik di usia kepala tiga memang sudah tidak bisa diajak kompromi. Kalaupun memaksakan diri ikut nongkrong, syarat tempatnya sangat banyak.
Misalnya, ia akan menolak keras diajak ke kafe yang memutar live music terlalu kencang karena membuat obrolan harus dilakukan dengan teriak-teriak. Ia juga akan mencoret kafe kekinian yang menggunakan kursi besi atau bangku kayu estetik tanpa sandaran.
“Wajib kursi empuk biar nggak sakit pinggang,” kata Gina.
Di usia 30, rebahan lebih nikmat daripada nongkrong
Hal yang dirasakan Gina juga terjadi pada beberapa netizen di Threads. Banyak yang mengaku bahwa 30 tahun memang bukanlah usia yang ideal buat nongkrong.
Ada yang bilang secara fisik sudah tak memungkinkan, karena orang usia 30 tahun biasanya lebih rentang masuk angin. Makanya, kalaupun dipaksa nongkrong, bisa-bisa berangkat masih wangi parfum tapi pulang-pulang aroma freshcare.
Secara topik pun kadang juga sudah tak nyambung. Apalagi kalau ada gap usia, misalnya, orang tiga puluhan tahun nongkrong sama anak muda.
Oleh karena itu, banyak orang-orang yang berusia 30 tahun lebih suka rebahan di kamar kos daripada nongkrong. Meskipun kadang cuma scroll-scroll saja, alias membosankan.
Nongkrong di usia 30 tahun, topik obrolan soal kegelisahan hidup
Saya juga teringat, dari beberapa anggota di grup tongkrongan di WhatsApp, ada satu kawan yang sampai sekarang masih setia diajak nongkrong. Namanya Josa (31). Meski demikian, topik obrolan kami sudah jauh berbeda dengan nongkrong dua atau tiga tahun lalu..
Kalau dulu meja tongkrongan kami dipenuhi obrolan soal ambisi anak muda, fafifuwasweswos politik, hingga “cerita nabi-nabi”, kini suasananya berubah total. Biasanya, isinya seputar keluhan Josa sebagai tulang punggung keluarga atau generasi sandwich.
Ia baru menikah dua tahun lalu. Saat ini, Josa tidak hanya harus mengatur keuangan dapur bersama istrinya. Sejak ayahnya meninggal dan ibunya hanya bekerja serabutan, Josa harus menanggung uang saku adiknya yang masih SMA.
Belum lagi, ia sedang pusing memikirkan biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) adiknya yang tahun depan bersiap masuk perguruan tinggi.
Lebih “bodo amat” demi hidup yang waras
Belum lagi kalau saat nongkrong Josa sudah membahas soal kemuakannya terhadap masyarakat. Ia pernah bercerita, di tengah beban seberat itu, Josa tetap tidak luput dari pertanyaan template masyarakat.
Misalnya, saat ada acara kumpul keluarga besar, selalu ada saja yang bertanya, “Sudah dua tahun nikah, kok belum ada tanda-tanda punya anak?”
Menghadapi pertanyaan itu, Josa tidak lagi marah. Ia menanggapinya dengan sikap “bodo amat”.
Jujur saja, saya tak terlalu relate dengan yang ia hadapi. Namun, mendengar Josa menghitung pengeluaran bulanannya, saya langsung paham mengapa ia begitu cemas dan memilih bodo amat saat ditanya soal “kapan punya anak?”.
Bekerja di Sleman dengan UMK tahun 2024 yang berkisar di angka Rp2,3 juta itu begitu berat. Mengandalkan gaji segitu untuk menghidupi istri, menyekolahkan adik, dan membantu ibu adalah “keajaiban”.
Bagi Josa, menunda memiliki anak bukanlah sebuah keputusan yang egois. Memiliki anak berarti harus siap dengan biaya popok, susu, biaya kesehatan, hingga pendidikan yang biayanya terus naik setiap tahun.
Baginya, keputusan ini adalah sebuah insting bertahan hidup yang sangat rasional dan bertanggung jawab. Ia sadar betul kemampuannya, dan ia menolak keras untuk mewariskan kemiskinan serta penderitaan finansial kepada generasi selanjutnya.
Makin kesini, meskipun topik obrolan makin membosankan, saya menjadi paham. Pertemanan di usia dewasa tidak lagi diukur dari seberapa sering kita menghabiskan waktu kumpul-kumpul di kafe sampai pagi buta.
Pertemanan di usia ini adalah tentang seberapa ikhlas kita memaklumi absennya seseorang di meja tongkrongan, dan seberapa dalam kita memahami beban hidup yang sedang mereka pikul sendirian setiap hari.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Soft Living, Gaya Hidup Gen Z yang Memilih Menyerah tapi Tenang ketimbang Mengejar Mimpi “Besar” Tak Pasti atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
