Ada satu nasihat yang sering saya dengar dari orang tua saya semasa kecil, yakni jangan “melekan” alias larangan begadang saat malam. Artinya juga, perintah untuk tidur di bawah pukul 21.00 WIB atau jangan keseringan kerja lembur.
***
Ibu saya tak pernah menjelaskan secara spesifik mengapa saya dilarang melekan. Namun, saya sudah mengalami langsung dampaknya saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Ya, melekan bikin saya diserang kantuk hebat pada jam rawan seperti siang hari.
Apalagi, jika kantuk itu menyerang saat mata pelajaran Matematika. Buyar sudah konsentrasi saya, hingga alasan sakit di Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
Alasan saya melekan waktu itu bukan karena tidak bisa tidur, tapi terlalu asyik menggambar sampai adrenalin saya terpacu. Bagaimana tidak, beberapa hari sebelum saya melekan, saya menerima banjir pujian dari teman-teman kelas, karena hasil tugas menggambar saya dari guru mendapat nilai A.
Entah wangsit dari mana, saya pun membuka jasa menggambar bagi teman-teman kelas saya yang ingin membeli karya tersebut. Anehnya lagi, banyak teman saya yang memesan sehingga mengharuskan saya melekan.
Ibu, yang pada waktu itu tak ingin mematahkan semangat saya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat anak bungsunya masih mewarnai di atas kasur, meski jam sudah menunjukkan pukul 01.00 WIB.
Bagi anak SD di masa itu, tidur di atas pukul 21.00 WIB rasanya sudah seperti pelaku kejahatan yang melanggar norma. Namun saya merasa, aturan melekan kini sudah tidak ada lagi batasnya seiring bertambahnya usia.
Perlahan-lahan abaikan nasihat ibu
Para pakar sosiologi menilai fenomena melekan juga terjadi akibat perubahan gaya hidup digital, tekanan sosial, dan tuntutan kerja di era modern. Saat SD, orang tua saya masih mengawasi secara ketat penggunaan teknologi digital seperti HP atau televisi untuk anak-anaknya.
Namun saat SMP, pengawasan ini berangsur-angsur melonggar sehingga memberi banyak peluang saya untuk melekan. Selain itu, di masa remaja saya memang gencar-gencarnya mencari jati diri. Salah satunya dengan mengikuti ekstrakurikuler pencak silat.
Lagi-lagi saya tak tahu dari mana semangat latihan silat itu berasal, hingga saya rela mempersempit jam tidur. Bagaimana tidak, saya harus latihan dari pukul 19.00 WIB hingga 21.00 WIB tiap 3 kali dalam seminggu.
Alhasil, waktu untuk mengerjakan PR atau belajar biasanya saya lanjutkan dari pukul 22.00 WIB ke atas, selain pada sore hari ketika pulang sekolah. Melihat kegiatan saya yang cukup padat, nasihat ibu soal jangan melekan pun perlahan-lahan menghilang.
Saran itu menjelma jadi begini, “Mending tidur sekarang, besok Ibu bangunkan Subuh jadi belajarnya selesai salat,” katanya.
Melekan jadi skill yang relevan saat dewasa
Saran ibu yang menyatakan secara implisit agar saya tidak melekan, nyatanya cukup manjur walaupun saya masih menyempatkan diri untuk tidur di kelas pada jam makan siang sekitar 15 menit sebelum salat zuhur dan makan. Sering kali, nasihat itu juga saya lakukan saat SMA terutama menjelang ujian.
“Sekalian tahajud,” ujarnya.
Namun, nasihat untuk tidak melekan ini semakin sulit saya terapkan saat kuliah. Banyak agenda di luar kampus yang mengharuskan saya melekan, misalnya ketika Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK).
Sebagai mahasiswa baru Jurusan Ilmu Komunikasi, saya sudah dihajar oleh tugas-tugas OSPEK, seperti membuat twibbon, menghafalkan lagu-lagu pergerakan mahasiswa, mahasiswa universitas, himne kampus, yel-yel jurusan, hingga tugas lain yang katanya masuk penilaian kelulusan.
Lambat laun, melekan justru jadi kebiasaan saya saat kuliah. Hari-hari membaca jurnal, diskusi kelompok, menyiapkan presentasi, bahkan ada kelas yang diselenggarakan malam hari ketika hybrid.
Melekan dianggap wajar padahal berisiko untuk kesehatan
Belakangan, saya merasa waktu berjalan lebih cepat ketika dewasa dibandingkan masa anak-anak. Fenomena ini dijelaskan oleh Peneliti dari Duke University, Adrian Bejan, bahwa orang dewasa lebih sedikit memproses pengalaman baru dalam hidupnya, sehingga waktu terasa begitu cepat berlalu.
Alhasil, saya merasa perlu balas dendam dengan melekan. Dalam istilah psikologi, melekan disebut juga revenge bedtime procrastination sebab seseorang merasa kehilangan kendali atas waktu luangnya di siang hari akibat lembur bekerja atau belajar.
Pada akhirnya, nasihat orang tua saya untuk tidak melekan sudah tidak relevan lagi ketika saya tumbuh dewasa, terutama saat saya merantau dan bekerja. Nyatanya, fenomena ini tidak saya rasakan sendirian.
Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2023 dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sekitar seperempat pekerja di Indonesia bekerja lebih dari 49 jam per minggu atau sekitar 9-10 jam per hari.
Padahal, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) telah menetapkan aturan jam kerja formal di Indonesia sekitar 40 jam kerja per minggu. Namun, ada lebih dari 36 juta pekerja yang masih memaklumi melekan atau kerja lembur sebagai cara bertahan di tengah kebutuhan hidup.
Ada juga yang beralasan bahwa dirinya jauh lebih produktif dan bersemangat pada malam hari. Istilah ini biasanya dikenal sebagai night owl, yang pada akhirnya mengakibatkan seseorang terpaksa mengalami social jetlag akibat lembur.
Melansir dari Halodoc, social jetlag terjadi ketika ada perbedaan besar antara waktu tidur di hari kerja dan hari libur. Night owl biasanya “membayar utang tidur” di akhir pekan dengan tidur hingga siang hari, yang sayangnya justru dapat mengacaukan ritme sirkadian lebih jauh lagi.
Akibatnya, risiko gangguan metabolik tubuh dapat terganggu hingga meningkatkan risiko kesehatan baik fisik maupun mental. Karena kebiasaan lembur yang sudah mengakar, sulit rasanya bagi saya untuk mengatur pola tidur kembali.
Dewasa ini pun saya menyadari, betapa bergunanya nasihat ibu soal jangan melekan.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Gen Begadang, Cap Pemalas, dan Omong Kosong Morning Person atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.