ADVERTISEMENT

Saya dengan Sadar Memilih Kopi Kenangan 24 Jam Ketimbang Coffee Shop Kalcer Lain di Solo: Lebih Ramah, Tak Ada Kaum “Lu-Ghuwa” yang Mengganggu

Kopi Kenangan.MOJOK.CO

Di beberapa kalangan, Kopi Kenangan kena stigma alay dan norak, apalagi kalau dibandingkan coffee shop indi nan kalcer. Namun, bagi pelancong di Solo, ia penyelamat.

*** 

Malam itu, pertengahan November tahun 2025 lalu, saya harus menemani dua kawan asal Malang yang hendak pulang ke kotanya setelah menonton konser musik besar di Solo. 

Jadwal kereta mereka sebenarnya masih lumayan lama, sekitar pukul setengah empat pagi. Masalahnya, mereka sudah terlanjur check out dari penginapan sejak siang hari.

Apalagi, kondisi kami saat itu juga lumayan berantakan. Baju kami basah kuyup karena ikut moshing dan hujan-hujanan selama konser berlangsung. Sepatu juga penuh lumpur.

Alhasil, di tengah malam yang dingin itu, dengan badan lengket dan lelah, kami harus mencari tempat ngopi terdekat yang buka sampai pagi untuk membersihkan diri serta menunggu waktu keberangkatan kereta mereka.

Banyak rekomendasi yang bikin malas

Kami sempat bertanya ke beberapa kenalan soal tempat nongkrong yang buka 24 jam. 

Di sekitar Jalan Slamet Riyadi, terdekat dari sana, sebenarnya ada banyak pilihan coffee shop kalcer yang direkomendasikan. Namun, mereka punya peringatan:tempat-tempat itu biasanya dipenuhi oleh “Agata” alias Anak Gaul Surakarta.

Menurut mereka, anak-anak ini punya ciri khas yang cukup “mengganggu”. Mereka sering ngobrol menggunakan bahasa Jakarta “lu-gue”, tapi dengan logat Jawa yang masih kental. Terdengarnya malah seperti “lu-ghuwa”. 

Tingkah mereka di tempat nongkrong juga sering kali berisik dan menyebalkan. Apalagi dengan kondisi kami yang seperti gembel, yang ada malah jadi bahan tertawaan.

Saya pribadi sebenarnya tidak terlalu peduli mau menunggu di mana. Namun, kawan saya yang dari Malang merasa sangat malas. Di kotanya, kelakuan orang Jawa yang memaksakan diri pakai “lu-gue” itu dianggap sangat mengganggu telinga. 

Apalagi, tempat nongkrong yang direkomendasikan tadi juga sepertinya “terlalu hidden gem” dan agak sempit. Kurang nyaman buat bersantai.

Akhirnya, banyak daftar coffee shop kekinian itu kami coret. Sampai akhirnya muncul satu ide, pergi ke Kopi Kenangan 24 jam yang bisa kami jangkau dengan jalan kaki 15 menit. Lokasinya di sekitaran Keprabon, Banjarsari.

Stigma alay Kopi Kenangan

Ide untuk pergi ke Kopi Kenangan awalnya jadi bahan tertawaan di antara kami. Kawan saya sempat meledek dan merasa gengsi. 

“Masa anak metal yang baru saja moshing di konser malah nongkrongnya di Kopi Kenangan,” kira-kira begitu kelakar mereka. 

Kawan saya ini juga merasa aneh kalau anak laki-laki nongkrong di tempat yang sering dicap sebagai “kopi alay”.

Menurut teman saya, di kota asal dia, Malang, franchise kopi ini memang punya stigma sebagai tempat nongkrong anak-anak alay. 

Saya sebenarnya kurang paham apalagi sepakat dengan stigma tersebut. Namun, kalau melihat obrolan orang-orang di media sosial, anggapan itu memang diamini oleh banyak pihak.

Meski awalnya banyak gengsi dan ledekan, kami sadar tidak punya banyak pilihan. Waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam, badan semakin dingin, dan kami butuh tempat untuk duduk dan bebersih. 

Ya sudah, kami akhirnya meluncur ke Kopi Kenangan.

Nyatanya malah jadi penyelamat

Sampai di lokasi, ekspektasi buruk kami langsung patah. Tempatnya ternyata sangat enak dan nyaman. 

Bangunannya berupa joglo dengan dua area utama, ruang dalam ber-AC dan area semi-outdoor yang cukup lega. Suasananya juga tidak terlalu ramai karena saat itu sudah sekitar pukul satu dini hari.

Karena badan masih basah dan bau setelah konser, kami akhirnya nekat menumpang mandi dan mengganti baju di toilet sana. 

Saat sedang bergantian masuk toilet, kami sempat ketahuan oleh salah satu petugas. Namun, alih-alih ditegur, petugas itu malah tersenyum ramah. Ia membiarkan kami dan bilang, “Silakan saja, Kak.” 

Sepertinya ia paham betul melihat kondisi kami yang berantakan.

Setelah badan bersih, kami bisa duduk santai. Tempat ini ternyata sangat tenang. Pengunjung yang ada di sana kebanyakan hanya mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas atau berdiskusi dengan suara pelan. 

Meja dan lantainya juga bersih.

Pengalaman ini sangat berbanding terbalik dengan kedai kopi kalcer yang pernah saya datangi hari-hari sebelumnya. Di tempat kalcer itu, ruangannya sering kali sempit dan penuh sesak. 

Saya bahkan pernah terpaksa nongkrong di trotoar pinggir jalan karena kehabisan kursi. Suara kendaraan yang lewat membuat kami harus berteriak hanya untuk mengobrol.

Malam itu, Kopi Kenangan membuktikan sebaliknya. Bagi saya pribadi, tempat ini sangat layak dan nyaman. Sementara bagi dua teman saya yang kedinginan tadi, tempat yang sering dicap alay ini nyatanya menjadi penyelamat yang sesungguhnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Family Mart Penyelamat Pekerja Jakarta, tapi Saya Sendiri Kadang Merasa Kasihan dengan Pegawainya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 6 Oktober 2026 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.