Turun dari Stasiun Tugu Jogja, kesabaran saya langsung diuji. Awalnya lega karena bisa naik kereta eksekutif sekaligus menghindari kereta kelas ekonomi yang bikin “boyoken” dan selalu turun di Stasiun Lempuyangan, jadi menyesal karena Stasiun Tugu justru bikin saya geleng-geleng kepala.
***
Untuk berangkat dari Jogja ke Surabaya, saya sering mengandalkan kereta api (KA) Sri Tanjung karena harganya murah yakni Rp88 ribu. Saya rela menempuh perjalanan selama 5 jam lebih, duduk di kursi tegak, dan bersinggungan dari dengkul (lutut) ke dengkul dengan penumpang di depan saya demi budget yang murah.
Oleh karena itu, saya lebih sering turun di Stasiun Lempuyangan. Sementara Stasiun Yogyakarta (Tugu) lebih menawarkan kereta api kelas eksekutif dengan waktu tempuh sekitar 4 jam. Meski begitu, ada pula kereta api kelas ekonomi yang harganya di atas Rp200 ribu seperti Sancaka, Wijayakusuma, Ranggajati, hingga Mutiara Selatan.
Sialnya, Lebaran kali ini saya kehabisan tiket KA Sri Tanjung sehingga harus naik sekaligus turun–untuk tiket pulang di Stasiun Tugu Jogja. Awalnya, saya merasa tak ada masalah saat naik dari Stasiun Tugu Jogja untuk pulang ke Surabaya. Namun, tragedi kebingungan saya dimulai saat pulang dari Surabaya ke Stasiun Tugu Jogja.
Pintu timur dan selatan bikin orang awam bingung
Saya akhirnya membeli KA Sancaka untuk pulang dari Stasiun Gubeng Surabaya ke Stasiun Tugu Jogja. Selama perjalanan saya merasa puas, karena tak ada lagi kursi tegak dan hanya perlu duduk selama 4 jam.
Namun, waktu tempuh 4 jam itu terasa sia-sia karena saya harus menunggu lama di Stasiun Tugu Jogja untuk memesan layanan ojek online (ojol). Awalnya, saya ingin berangkat dengan sepeda motor pribadi ke Stasiun Tugu Jogja, tapi saya pernah menyesal menginapkan motor di stasiun yang tarifnya mahal.
Belum lagi, saya pernah kebingungan saat memarkirkan motor di Stasiun Tugu Jogja untuk menjemput teman. Stasiun Tugu Jogja sendiri memiliki dua pintu, yakni pintu timur dan selatan. Bagi orang awam, pintu timur dan pintu selatan cukup membingungkan.
Pintu timur adalah akses utama untuk penumpang kereta jarak jauh dengan fasilitas lengkap. Di bulan puasa tahun ini, pintu ini dihias oleh ornamen kubah dan pilar yang megah atau sering disebut mirip Masjid Nabawi. Tak pelak, keestetikannya sering dijadikan spot foto.
Sedangkan pintu selatan sebetulnya lebih dekat dari area parkir, hanya saja saya ragu masuk karena jalannya menanjak dan cukup panjang sebelum mencapai area parkir, serta suasananya sepi. Akhirnya saya pilih jasa ojol daripada salah jalan.
Harga ojol di Stasiun Tugu lebih mahal
Baca Halaman Selanjutnya
Harga ojol di Stasiun Tugu Jogja lebih mahal
Biasanya, tarif kepulangan saya pakai ojol dari kos di Kaliurang menuju Stasiun Lempuyangan adalah Rp51 ribu. Saya pun sudah tahu harus menunggu ojol di mana, kalau tidak di area bawah jembatan layang (flyover) ya di sekitar pertigaan dekat patung musik.
Sementara, tarif ojol saya dari Stasiun Tugu Jogja adalah Rp71 ribu. Seketika saya mbatin (mengeluh dalam hati), karena saya pikir tarifnya tidak jauh berbeda dengan pesan ojol di Stasiun Lempuyangan. Setidaknya, rentang harganya antara Rp5 ribu hingga Rp10 ribu. Tidak sampai Rp20 ribu.
Toh, jarak Stasiun Tugu Jogja dan Stasiun Lempuyangan hanya 3 kilometer tapi tentu saja ada banyak faktor selain jarak. Bisa jadi karena saya pesan saat malam hari sekitar pukul 20.30 WIB—waktu tiba KA Sancaka di Stasiun Tugu Jogja. Atau karena memang musim Lebaran.
Belajar dari pengalaman saya pesan ojol di Stasiun Lempuyangan, saya memutuskan berjalan agak jauh dari Stasiun Tugu Jogja. Alih-alih belok kanan dari pintu keluar—tempat penjemputan instan, saya justru belok kiri ke arah food court.
Saya berniat membeli jajan sekalian menunggu pesanan saya diterima ojol. Namun makin saya berjalan menjauh, suasana makin ramai. Saya baru sadar, kalau berjalan lurus, saya bakal tiba di Jalan Malioboro. Sebelum berada di tengah keramaian, saya pindah ke sebuah warung dalam gang dekat Hotel Mulia Kencana dan memesan ojol di sana.
Harus menunggu hampir 1 jam di Stasiun Tugu Jogja
Jika melihat lewat aplikasi, saya seharusnya menunggu selama 8 menit sampai bapak ojol yang saya pesan tiba. Namun, setelah lama saya menunggu, bapak ojol akhirnya mengirim pesan suara.
“Kak boleh tunggu di Arte Hotel saja nggak? Karena jalannya macet,” ujarnya.
“Arte Hotel ya Pak? Baik saya tunggu di sana,” ucap saya.
Saya yang awalnya kesal karena harus kembali melewati Stasiun Tugu Jogja sambil menenteng tas berat, tak sampai hati protes ke tukang ojol mengingat kondisi jalanan yang sangat ramai.
Sampai akhirnya 40 menit kemudian, kami bertemu. Ia pun meminta maaf karena membiarkan saya menunggu terlalu lama dan mengubah titik jemput sehingga saya harus berjalan sekitar 400 meter.
Alih-alih protes, saya merasa perlu mengeluarkan skill kesabaran saya yang sudah saya latih selama puasa kemarin. Di Stasiun Tugu Jogja saya menghadapi ujian nyata untuk belajar empati terhadap kondisi orang lain. Lebih dari itu, saya juga belajar soal esensi bulan Ramadan yang paling mendasar yakni saling memaafkan.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Stasiun Tugu: Saksi Ratapan Warga Kecil di Gemerlap Ulang Tahun Jogja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
