Pengalaman nyasar di Jogja City Mall (JCM), Sleman bikin saya bertanya-tanya, kenapa belum ada sistem yang bagus untuk mengintegrasikan denah bangunan mal di era teknologi yang semakin canggih? Dengan begitu, pengunjung bisa lebih nyaman datang ke tempat baru.
***
Jalan-jalan di mal memang menyenangkan bahkan ada yang rela menghabiskan waktunya selama berjam-jam untuk jalan kaki sambil melihat-lihat produk tanpa membeli. Julukan bagi mereka yang melihat tanpa membeli biasanya disebut sebagai “rojali” alias rombongan jarang beli. Tapi bagi saya, rojali masih wajar. Yang lebih mengesalkan adalah rombongan hanya tanya atau rohana.
Barangkali saya tidak tergolong tipe keduanya, karena saya tidak terlalu suka jalan-jalan di mal. Selain pegal dan tidak suka keramaian, saya juga “buta arah”. Apalagi jika mal itu baru saya kunjungi pertama kali. Dan benar saja, saya pernah kesasar saat di Jogja City Mall (JCM) untuk meliput suatu acara.
Filosofi bangunan yang tak mempan bagi saya
Sebetulnya, Jogja City Mall di Sleman lebih sempit dari Pakuwon Mall–satu-satunya mal terluas di Jogja saat ini dan merupakan mal terbesar ketujuh di Indonesia. Denahnya pun lebih mudah dihafalkan karena modelnya yang melingkar dengan atap terbuka, sehingga kita bisa melihat berbagai produk di satu tempat atau satu atap. Konsep ini biasa disebut one stop shopping.
Bangunan Jogja City Mall juga memiliki arsitektur yang unik karena menonjolkan gaya Romawi yang dipadukan dengan interior Jawa khas Yogyakarta. Tak heran, sebab pendirian gedung ini harus mendapat izin dari Sultan Hamengkubuwono X dan Bupati Sleman Sri Purnomo pada tahun 2015 silam.
Jogja City Mall, Sleman juga memiliki 17 pilar tinggi yang berada di sayap kiri dan 9 pilar di sayap kanan. Angka 17 dipercaya sebagai simbol keberuntungan, sedangkan 9 dipercaya sebagai kesempurnaan. Sayangnya, filosofi angka pilar tersebut sepertinya tak berlaku bagi saya.
Sebab, meski dibangun dengan konsep one stop shopping untuk mempermudah pengunjung, saya masih juga nyasar. Terutama saat akan menuju ke parkiran motor. Karena kelelahan setelah seharian pergi ke berbagai tempat, saya jadi linglung dan hampir tak menemukan motor saya.
Karcis parkiran JCM tiada fungsi
Jam sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB saat saya hendak pulang dari Jogja City Mall, Sleman. Dengan perasaan riang usai mendapat sehelai bulu merak dari sebuah acara yang saya kunjungi, saya kemudian memencet tombol “P1” di dalam lift untuk menuju parkiran.
Setelah tiba di lantai P1, saya pun berjalan tegap penuh percaya diri ke sisi seberang dekat pintu keluar parkiran. Saya tidak terlalu ingat kode-kode tulisan di tiang, tempat saya menaruh motor. Karena buru-buru masuk ke mal, saya hanya mengingat rambu bertuliskan “keluar” dekat loket. Dengan begitu, saya tidak terlalu jauh jalan kaki nantinya.
Nahas, setelah mengitari lantai P1 parkiran sekali, saya tak kunjung menemukan sepeda motor pelat L milik saya. Sekali lagi saya mencari dan berkeliling ke berbagai sisi. Mulai dari sisi kanan arah pintu masuk mal, lalu ke sisi tengah, hingga ke sisi kiri tapi tak juga ketemu.
Saya mulai panik tapi memutuskan duduk sebentar dan mendinginkan kepala. Saya pun mengirim pesan kepada teman saya yang ahli teknologi dan menjelaskan situasi konyol tersebut. Tak lupa juga mengirim foto berupa tiket parkir motor dan bertanya sesuatu yang menurut dia aneh.
“Dengan kode-kode yang tertulis di tiket parkir motor tersebut, apakah kamu bisa menemukan posisi motorku?” tanya saya, entah dapat ide dari mana.
“Nggak iso lah! Kan iku gur karcis gawe nge-scan (Nggak bisa lah. Kan itu hanya karcis untuk scan keluar),” balasnya, “Coba langsung tanya satpam terus bilang ‘Pak, saya sudah muter-muter tapi nggak menemukan motor saya,” lanjutnya buru-buru memperbaiki kalimat lebih tenang usai kaget dengan pertanyaan saya di awal.
Namun, saya urung karena bisa jadi saya yang salah. Akhirnya saya memutuskan masuk lagi ke Jogja City Mall untuk istirahat sebentar. Hitung-hitung mengisi amunisi sebelum mencari motor di tempat parkiran berbeda yakni P2.
Tolong perbarui sistem lebih canggih
Setelah istirahat sebentar dan naik lift lagi, barulah saya sadar ada tempat parkiran lain yang tampaknya lebih meyakinkan kalau saya parkir di sana ketimbang P2. Lantai itu bernama LG. Sebelumnya, saya tidak mengira ada tempat parkiran di sana sebab saya kira lower ground (LG) di Jogja City Mall hanya berisi Hypermart dan gerai-gerai lain.
Sebelumnya, saat mengitari lantai tersebut, saya hanya melihat Bakso Kota Cak Man, Richeese Factory hingga toko optik. Setelah saya pikir-pikir lagi, saya memang masuk dari jalur pintu LG. Saat melihat loket pintu keluar parkiran, saya semakin saya kalau motor saya ada di sana. Dan benar saja, firasat saya terbukti.
Sejak saat itu saya punya prinsip, selalu mencatat kode-kode di tiang parkiran dekat motor saya diletakkan. Tak mengandalkan rambu-rambu “keluar” semata. Walaupun saya masih berharap ada teknologi canggih yang bisa menunjukkan lokasi parkir motor pengunjung, entah lewat karcis parkiran atau langsung dari sistem.
Saya masih beruntung, sebab pengalaman nyasar ini baru saya alami di JCM, Sleman. Bayangkan apa jadinya kalau saya nyasar di Pakuwon Mall Jogja atau Tunjungan Plaza Surabaya. Kini, saya pun paham kenapa orang bisa nyasar di mal bahkan tidak bisa keluar.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Jogja City Mall Bikin Orang yang Biasanya Cuma Ngemal di Royal Plaza Surabaya Mumet dan Terlihat Kampungan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
