Kemarin (28/3/2026) siang, panggilan video yang masuk dari ibu berbeda. Tidak ada wajah ibu, bapak, adik, atau kucing yang memenuhi layar, melainkan adik sepupu, yang merupakan anak adiknya ibu, yang menangis sambil berjalan gelisah ke sana ke mari. Ternyata, ada kabar buruk mengenai kehamilan yang dinanti-nantikan.
“Adik bayinya nggak ada,” katanya tidak terlalu jelas.
Umurnya lima, kalau tidak salah. Wajar saja, sudah mulai mengerti.
“Adiknya nggak ada, Kak, keguguran,” kata ibu memberi rangkuman kejadian sebelum memberikan ponselnya kepada adik sepupu, sekira berharap saya bisa menghiburnya.
Sebagai anak yang pernah menyaksikan ibu berjuang mati-matian selama bertahun-tahun untuk memiliki anak lagi, saya merasakan kesedihannya. Namun bukan berarti, saya bisa mengatakan apa pun untuk membuatnya merasa lebih baik.
Sebab, tidak ada yang bisa membuat seseorang merasa sedikit saja lebih baik saat mengalami kehilangan. Tidak bisa juga dibayangkan perasaan ibu—yang pernah mengalami seluruh kejadian ini persis sebelumnya—dan ibunya saat ini.
Sedih, bukan lagi kata yang cukup untuk mendeskripsikannya.
Perjuangan menjadi seorang ibu lagi
Sekitar tujuh belas tahun yang lalu, ibu mulai merencanakan untuk memberikan saya adik. Umur saya sudah tujuh tahun saat itu.
Namun pengetahuan saya yang masih kecil bilang, ibu tidak mudah punya anak. Konon, untuk memiliki saya saja, ia harus berjuang satu sampai dua tahun setelah menikah. Setahun sebelum saya, ada kemungkinan bayi yang dilahirkan, tapi lebih dulu ditakdirkan untuk bertemu Sang Pencipta.
Maka, untuk dapat memberikan saya seorang adik, seperti cita-citanya, pertarungan itu harus kembali dijalani.
Setiap minggunya, kami sekeluarga akan pulang-pergi ke Ibu Kota untuk pemeriksaan. Entah berapa lama kami menjalaninya, tapi seingat saya, perjuangan itu berbuah manis berupa kehamilan.
Kehamilan setelah kegagalan—cara saya menyebut keguguran dalam istilah lain—sebanyak setidaknya tiga kali.
Sayangnya tidak lama kebahagiaan itu tinggal bersama kami. Persis lima bulan setelah mengandung, ibu menghampiri saya untuk memberi tahu, “Adiknya sudah nggak ada.”
Artinya, keguguran lagi.
Hari itu, kami menjadi yang paling mengerti arti kehilangan. Ibu dan bapak yang terpukul, serta saya yang meminta mereka untuk tidak perlu bersusah-payah mengusahakan adik lagi.
Ikrar dari anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar hari itu kira-kira berbunyi, “Nggak mau punya adik, nanti keguguran lagi.”
Keajaiban anak kedua yang datang tanpa direncanakan
Sejak saat itu juga, tidak ada lagi kunjungan rutin setiap minggu ke dokter obgyn atau entah siapa praktik kesehatan yang berada di luar kota. Keluarga kami mencoba hidup cukup dengan hanya tiga anggota.
Saya, ibu, dan bapak. Rasanya sudah lebih dari cukup daripada menanggung kehilangan kembali.
Sebab, bagian terberatnya bukan hanya usaha untuk bisa mengandung, tetapi kehilangan setelah perjuangan yang dicurahkan.
Bagi saya sebagai anak, meski masih berusia tujuh atau delapan tahun saat itu, melihat ibu dan bapak menghadapi kejadian itu lebih menyakitkan. Toh, saya pikir, menjadi anak tunggal tidak terlalu buruk—meski, saudara sepupu yang lain terlihat menyenangkan bersama adik mereka.
Tidak ada yang menyangka, tidak lama kemudian ibu diberikan kehamilan lainnya. Tanpa direncanakan, kehamilan itulah yang membawa penambahan anggota keluarga kami menjadi empat.
Sembilan tahun setelah kelahiran anak pertama, anak kedua lahir. Terdengar bukan masalah besar, tapi menyaksikan konsultasi kehamilan ibu, jumlah anak yang seharusnya dirinya bisa lahirkan hari ini bisa jadi membentuk kesebelasan pemain sepak bola.
“Anak mama kalau lahir semua bisa buat pemain sepak bola. Kalau main futsal, malah bisa jadi dua tim,” saya ingat sering mengatakan itu dulu.
Bagaimanapun, kami mensyukuri kehadiran adik sebagai pelengkap anggota keluarga. Sebab, perjuangan untuk kehamilan yang berhasil hingga menuju persalinan telah diusahakan habis-habisan sejauh ini.
Hamil, tidak menjamin bertemu sang bayi
Inilah bagian menyedihkannya. Mengingat perjuangan ibu, saya dan dia berbicara setelah adik sepupu yang belum sempat dilahirkan itu dimakamkan.
“Kata dokter kan kelahirannya mundur dua minggu lagi,” kata ibu saya melalui telepon, Minggu (29/3/2026) sore.
“Tapi…” dan berbagai asumsi disebutkan dalam daftar panjang.
Menanggapinya, saya hanya mengatakan, “Mungkin sudah takdir. Kalau mau disalahkan, semua bisa jadi salah,” kata saya.
Saya pikir, bukan hanya satu pihak yang bersalah. Tidak juga bisa memberatkan satu pihak atas yang paling bersalah. Tidak ada yang salah maupun benar dalam skenario ini.
Masalah kehamilan sudah menjadi sesuatu yang pasti, bahkan terkadang di luar kendali. Survei kehamilan di Indonesia saja masih menunjukkan bahwa ibu hamil di Indonesia sering mengeluhkan nyeri atau pegal pada beberapa bagian tubuh, serta merasa lelah.
Hasil survei Hellosehat, juga menunjukkan, sebanyak 56 ibu hamil mengaku baru mengalami hipertensi saat hamil. Survei lain menunjukkan 692 ibu hamil berada di rentang usia 18–50 tahun, dengan mayoritas usia kehamilan 25–40 tahun. Padahal, kesuburan mulai menurun saat menginjak usia 35 tahun dan risiko kehamilan meningkat.
Maka, sudah jatuh masih ditimpa tangga menjadi pepatah yang tepat dalam menggambarkan kondisi kehamilan. Sudah berjuang untuk mengandung, bertemu bayi secara langsung masih harus menempuh perjalanan panjang.
“Itu persis kayak waktu kamu dulu. Kondisinya sama, mama sering berdarah,” kata ibu mulai menjelaskan hal-hal mengenai kehamilan yang tidak terlalu saya mengerti.
Namun, ada satu yang saya tahu pasti. Melihat dirinya dan ibu lain yang rela memberikan semuanya hanya demi merasakan kembali perasaan menjadi “ibu” baik untuk pertama atau kesekian kalinya, mereka merasa bahwa diberikan kehamilan saja sudah anugerah.
Tidak peduli beban dan kemungkinan kehilangan yang begitu berat di kemudian hari. Padahal sebagai seseorang yang hanya mengamati, saya kira perlu menambahkan alasan generasi muda seperti gen Z dan milenial menunda memiliki anak. Alasannya, takut mengalami duka kehilangan, sebab kehilangan kucing saja sudah terlampau menyedihkan.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
