“Seandaianya motormu itu bisa bersuara, pasti sudah misuh-misuh (mengumpat). Bertahun-tahun kamu “hajar” di jalanan.” Begitu kata teman rumah saya tiap kali mendapati saya pulang ke Rembang motoran dengan motor Honda Vario 150 2016.
Sejak terbeli pada 2016, motor matic berwarna hitam polos dengan tulisan “Vario 150” timbul itu memang menemani banyak perjalanan saya. Lintas kota, lintas tujuan.
Sudah tak terhitung berapa kali saya jatuh-bangun dengan motor tersebut. Tapi motor itu masih tetap tangguh. Masih tetap menjadi tunggangan saya hari demi hari. Benar-benar tahan banting hingga 10 tahun kemudian.
Fisiknya memang sudah lecet, penyok, bahkan pecah sana-sini. Namun, mesinnya masih gahar. Masih sangat kuat dipacu menempuh perjalanan jauh.
Motor Honda Vario 150 2016 hadiah bapak dan ibu, pilihan asal yang tak bikin menyesal
Motor pertama di keluarga kami adalah Yamaha Jupiter MX 155. Namun, ketika menginjak SMA, motor itu dijual. Bapak memilih membelikan motor matic Honda BeAT untuk memudahkan mobilitas ibu.
Saat itu saya sendiri amat jarang menggunakan motor. Hanya sesekali saja ketika pulang pesantren.
Hingga suatu ketika, menjelang kelulusan SMA pada 2016–sebagai persiapan kuliah–tiba-tiba saja ibu dan bapak mengajak saya ke salah satu dealer di Rembang. Saya bingung saat ditawari mau membeli motor apa. Saya buta merek.
Lebih dari itu, ada rasa haru, karena selama ini ibu dan bapak saya menabung untuk membelikan saya motor yang bisa saya gunakan untuk kuliah.
Daripada pusing, saya akhirnya menjatuhkan pilihan ke Honda Vario 150. Ngasal saja. Waktu itu saya sering melihat iklan-iklan motor tersebut di reklame-reklame besar di sudut-sudut Rembang.
Terlihat gagah dan penuh wibawa. Hanya itu pertimbangan saya memilih motor itu. Pilihan asal yang ternyata tidak pernah membuat saya menyesal.
Kecelakaan pertama dan kedua yang langsung mengerikan
Tarikan motor Honda Vario 150 2016 itu benar-benar enteng dan halus. Itu membuat saya suka agak ngebut saat memacunya di jalan raya Pantura Rembang. Namun, jalan raya Pantura selalu tidak segan menunjukkan kengerian.
Padahal nomor platnya belum dikeluarkan Kepolisian, tapi saya dan motor tersebut sudah mengalami kecelakaan pertama.
Pada suatu siang yang terik, saya yang tengah ngebut ke arah timur (arah Sarang) tersandung bongkahan batu-batu segenggam tangan orang dewasa dari sebuah truk yang melaju di depan saya. Saya langsung oleng hebat, terpental, dan berguling-guling di aspal. Sementara Honda Vario 150 2016 saya terpelanting hingga menabrak pembatas laut.
Tentu saja kami babak belur. Sekujur tubuh saya–tangan, punggung, pantat, hingga kaki–penuh luka gores. Sedangkan motor saya setirnya bengkok, rangka mengelupas, hingga penyok di beberapa sisi.
Motor itu akhirnya memang kembali mulus setelah saya bawa ke bengkel. Namun, jalan raya Pantura memang bukan untuk pemotor pemula. Sebab, tidak lama setelah kejadian itu, saya menalami kecelakaan kedua.
Suatu malam, ketika pulang dari bazar buku di pusat kota Rembang, saya sebenarnya melaju dengan hati-hati. Bagaimanapun, kecelakaan pertama menyisakan sedikit trauma berkendara di jalan raya.
Hanya saja, di Pantura, kita boleh saja hati-hati. Pengendara lain belum tentu.
Di sebuah tikungan, tiba-tiba dua truk besar dari arah berlawanan menyalip dan memakan jalan dari arah saya. Saya refleks membanting setir ke kiri, terpeleset, dan berguling-guling di tepian jalan penuh kerikil. Masih untung tidak tertabrak.
“Ya Allah, Mas, saya pikir Jenengan sudah meninggal.” Pengendara-pengendara motor lain yang menolong sampai bilang begitu. Karena tahunya dua truk tadi menabrak saya. Dengan kecepatan yang ugal-ugalan, rasa-rasanya tipis kemungkinannya untuk selamat.
Diseruduk kambing dan insiden-insiden yang bikin putus asa
Sejak kuliah di Surabaya pada 2017, motor Honda Vario 150 2016 itu masih terus mengalami banyak insiden. Lebih-lebih motor hitam tersebut saya hajar melintas ke berbagai kota di Jawa Timur-Jawa Tengah.
Riwa-riwi Rembang-Surabaya sudah pasti. Surabaya ke Madiun, Pasuruan, Malang, Blitar, dan Banyuwangi. Bolak-balik ke Semarang dan Jogja juga teramat sering (apalagi sejak 2024 lalu saya pindah kerja di Jogja).
Dalam perjalanan-perjalanan itu, di antara yang saya ingat, adalah pernah diseruduk gerombolan domba yang tiba-tiba menyeberang di jalan raya Tuban.
Saya tengah melaju dengan kecepatan 80 km/jam di jalanan Tuban, Jawa Timur. Lalu tiba-tiba, gerombolan domba yang lepas pengawasan berlarian menyeberangi jalan raya. Saya tidak bisa menghindar. Alhasil, dua kambing menyeruduk saya, saya pun terjatuh. Bagian depan motor saya sampai pecah.
Saat itu saya sebenarnya sudah siap-siap ganti rugi. Sebab, satu di antara kambing yang menyeruduk saya mati. Untungnya, warga sekitar yang melihat kejadian malah meminta saya lekas pergi. Mereka yang akan urus dengan si pemilik. Kata mereka, matinya si domba tersebut bukan sepenuhnya salah saya. Karena memang domba-domba itu lepas dari pengawasan si pemilik.
Sementara yang paling sering adalah velg penyok. Jalan raya Pantura–khususnya di lintas Semarang-Surabaya–itu tidak rata. Sudah banyak tambalan, banyak juga yang berlubang menganga.
Tak pelak jika velg saya berkali-kali penyok. Sekali penyok, diperbaiki, eh di perjalanan berikutnya penyok lagi. Begitu terus sampai saya putus asa untuk memperbaikinya lagi.
Saya memang sempat sangat putus asa dengan motor tersebut. Saya bahkan sempat menyebutnya “Motor pembawa sial”. Karena terlalu putus asa, bagian depan yang pecah akibat serudukan domba dan penyokan terakhir tidak saya betulkan hingga sekarang.
Perasaan sentimentil saat hendak menjual motor Honda Vario 150 2016
Setelah menikah pada awal 2025 lalu, orang tua saya menyarankan saya untuk menjual motor Honda vario 150 2016 itu. Kata mereka sudah terlalu bobrok. Toh saya juga punya tabungan, bahkan mereka pun siap membantu memberi tambahan.
“Punya istri, mbok pakai motor yang lebih layak,” kata ibu saya.
Saya sempat sangat mantap menjualnya, saat kemudian punya beberapa list pilihan motor keluaran terbaru yang bisa saya beli.
Akan tetapi, tiap kali duduk di kursi besi Indomaret sembari memandangi motor tua yang fisiknya sudah bobrok itu, tiba-tiba muncul perasaan sentimentil. Motor itu adalah hadiah dari orang tua yang kemudian menjadi saksi jatuh-bangun saya. Baik dalam arti sebenarnya maupun jatuh-bangun dalam kehidupan. Dari pekerja bergaji Rp500 ribu perbulan, Rp1 juta perbulan, hingga sampai di titik yang lebih baik dari waktu ke waktu.
Motor itu juga yang menjadi saksi ketika pertama kali saya–seorang diri–nekat ke rumah pacar saya di Jombang, “mengetuk pintu” untuk melamar pacar di hadapan keluarganya. Seorang pemuda miskin yang datang dengan hanya menjanjikan “Bakal bekerja keras dan bertanggung jawab untuk memberi kehidupan yang membahagiakan.”
Pada akhirnya motor itu tidak jadi saya jual. Masih menemani saya dari satu perjalanan ke lain perjalanan. Fisiknya memang sudah bobrok. Tapi tenaganya masih sangat prima (tentu saja karena sering saya servis). Sampai ada teman yang menawar ingin membelinya, karena kepincut dengan ketahanan banting si anak Honda itu.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Pemuja Hujan di Bulan Desember Penuh Omong Kosong, Mereka Musuh Utama Pengguna Beat dan Honda Vario atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
