Menjelang umur 25 menjadi momen pertama kali saya akhirnya bisa ngobrol agak dalam (deep talk) dengan bapak. Momen itu membuat kami akhirnya saling memahami alam pikir satu sama lain. Dalam konteks saya ke dia, saya akhirnya memahami betapa selama ini bapak amat kesepian, di saat saya mendefinisikan kondisi saya sebagai bagian dari fatherless.
***
Jika meminjam definisi yang belakangan jamak dipakai, mungkin saja saya termasuk kategori fatherless—mengalami kekosongan peran bapak.
Bagaimana tidak. Saya berjarak tidak hanya secara fisik, tapi juga secara emosional dengannya bertahun-tahun nyaris tanpa jeda.
Jauh sebelum menikah, bapak sudah menjadi TKI di Malaysia. Sampai sekarang pun dia masih menjadi TKI. Seringnya tiga tahun sekali dia baru pulang. Tapi durasinya di rumah tidak pernah lama: hanya tiga-enam bulan.
Hubungan kami dingin belaka. Kalau tersambung lewat telepon, isinya hanya basa-basi. Sementara kalau bapak di rumah, kami malah jarang bicara karena bapak lebih banyak diam.
Dia memang ada dalam keluarga kami. Tidak melepas tanggung jawab memberi nafkah. Tapi rasanya dia tidak benar-benar hadir untuk kami (keluarganya). Kurang fatherless apa coba.
Deep talk dengan bapak menjelang menikah
Saking dinginnya hubungan kami, saya bahkan tidak mengabari bapak perihal rencana pernikahan saya sejak jauh-jauh hari.
Toh memang saya tidak hendak merepotkan siapapun dalam pernikahan saya. Terutama dari aspek biaya: sudah sejak lama saya bertekad menanggungnya sendiri.
Toh saat saya menggelar lamaran pada pertengahan 2024 pun bapak tidak pulang dari Malaysia. Tanpa saya sadari, saya sudah sangat terbiasa dengan situasi fatherless.
Pernikahan saya akan berlangsung pada awal 2025, saat usia saya persis di angka 25. Baru pada penghujung 2024 lah saya mengabari bapak. Itu pun hanya sekadar memberi informasi.
Saya tidak bermaksud memaksanya pulang. Karena belajar dari sebelum-sebelumnya, “permintaan pulang” kepada bapak seringkali berakhir menjadi pertengkaran di keluarga kami. Saya tidak mau itu terjadi.
“Kalau bisa, ya pulanglah. Kalau tidak, ya nggak masalah,” kata saya pada bapak melalui telepon.
Tapi bapak ternyata pulang. Tidak banyak yang berubah. Dia tidak pernah bisa memulai percakapan dengan anaknya. Dan karena saya tidak mau hal itu terus-menerus terjadi, saya pun mencoba mengajaknya bercerita. Tidak sekadar cerita, tapi deep talk.
Deep talk mengurai lingkaran kusut fatherless
Hari-hari menjelma pernikahan saya, kami kerap duduk berdua di teras rumah setiap menjelang Magrib. Berdua mengisap rokok untuk kemudian deep talk atas banyak hal.
Ada momen ketika saya mengungkapkan perasaan mengganjal di batin saya: bahwa jika meminjam definisi orang sekarang, saya merasa fatherless. Punya bapak, tapi rasanya tidak hadir.
Bapak susah payah menjelaskan. Tapi kira-kira begini: bapak lahir tanpa sosok bapak—karena meninggal saat bapak masih di dalam perut. Dia tidak pernah punya sosok bapak, tidak pernah tahu atau mencontoh dari mana perihal menjadi seorang bapak. Dengan kata lain, dia sebenarnya juga merasa fatherless.
Kondisi fatherless membuat bapak kerap menyalurkan emosinya dalam konteks yang tidak tepat. Kalau dia gembira, dia hanya bisa diam. Kalau dia merasa bersalah, justru marah.
Bahkan setelah bertahun-tahun, setelah saya tumbuh dewasa, juga setelah dia punya anak kedua (adik saya), bapak masih saja bingung bagaimana semestinya menjadi bapak.
Dia hanya tahu satu hal: tugas bapak adalah mencari uang. Tapi dalam proses mencari uang itu dia sungguh merasa kesepian karena tidak merasa dekat secara fisik dan emosional dengan istri dan anak-anaknya.
Melihat dari sudut pandang bapak: ia tidak pernah benar-benar marah kepada kami, tapi kepada diri sendiri
Seperti saya singgung sebelumnya: bapak punya masalah tidak bisa menyalurkan ekspresi dengan tepat. Misalnya begini: ketika ibu mengabari bapak perihal kebutuhan rumah tangga yang membengkak (kebutuhan sekolah saya dan adik, uang untuk nyumbang hajatan saudara, dan lain-lain), reaksi bapak langsung marah.
Saya pun sempat heran kenapa mesti marah. Seolah bapak tidak ikhlas memberi kami sesuatu. Saya ingat, marah paling besar bapak ke saya salah satunya adalah ketika menjelang lulus SMA saya meminta dibelikan hp baru.
Ada banyak momen serupa. Tiap saya, adik, atau ibu meminta sesuatu, respons pertama bapak pasti marah. “Kerja belum dapat uang, sudah diminta lagi buat beli ini, beli itu!” Begitu yang sering bapak ucapkan.
Tidak pelak itu membuat kami kerap memendam banyak keinginan. Ibu pun mengajari–dan amat serius mendidik—kami soal menabung. Kalau mau beli sesuatu, ya kumpulkan uang sendiri dari menyisihkan uang hari ke hari.
Momen deep talk akhirnya membuka tabir, bapak sebenarnya tidak pernah bermaksud marah atas permintaan kami. Dia justru sangat marah dengan dirinya sendiri.
Marah karena sudah bekerja keras tapi uang tidak kunjung terkumpul. Marah karena sebagai kepala rumah tangga, dia tidak bisa langsung membelikan sesuatu yang keluarganya butuh/mau. Dia merasa bersalah dan tidak berguna, dan itu membuatnya marah.
Kesepian tapi selalu takut pulang
Lewat deep talk itu bapak juga bercerita, dia bukannya betah di negara orang. Bertahun-tahun dia menjalani hari demi hari dengan siksaan kesepian.
Dia bangun tidur dengan perasaan kosong. Tidak ada istri yang bisa dia lihat sedang sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Tidak ada anak-anak yang anteng di depan televisi sebelum berangkat sekolah.
Di jam-jam istirahat kerja, dia hanya bisa menikmati kopi dan makan siang dengan hambar. Lalu malam hari, dia harus terus bersusah payah tidur. Karena dengan tidur lah dia tidak akan merasa kesepian. Dengan tidur lah dia tidak akan larut dalam lamunan yang membuat air matanya tiba-tiba menetes karena kangen rumah.
Bapak selalu kangen rumah. Dia pun selalu ingin sering-sering pulang, sekali pulang juga dengan durasi lebih panjang di rumah. Namun, dia kepalang takut. Dalam benaknya, jika dia pulang, dia akan kesulitan mencari pekerjaan dengan upah layak sebagaimana yang dia dapat di Malaysia.
Di Malaysia, bapak memang hanya seorang kuli proyek. Tapi upahnya jelas lebih baik dari kuli proyek di Indonesia. Jika dia pulang ke Indonesia, kerja dengan upah rendah, dia takut tidak bisa memberi hidup lebih baik kepada keluarganya.
Betahun-tahun beban itu dia simpan sendiri. Dia tidak pernah merasa “layak” bercerita. Sejak kecil dia sudah terbiasa memikul bebannya sendiri.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Sesal Dulu Sering Kasar dan Hina Bapak, Kini Sadar Cari Duit di Perantauan dan Berkorban untuk Keluarga Tak Gampang! atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
