Caruban—sebagai ibu kota dari Madiun—barangkali terkesan tidak bagus-bagus amat. Kalau ngomongin wisata, daerah ini memang tidak begitu menonjol jika dibandingkan dengan tetangganya (Magetan) yang punya Telaga Sarangan. Namun, beberapa orang justru mengaku jatuh hati dengan daerah ini.
Caruban: seperti rumah kedua, tempat menepi sejenak yang menenangkan
Terhadap Caruban, Madiun, saya memang punya ikatan yang sangat personal. Sejak pakde saya—kakak ibu saya—menikah dan memilih berdomisili di Caruban, sejak SMP saya memang sudah akrab dengan daerah tersebut. Beberapa kali ibu saya mengajak mengunjungi Pakde.
Ketika akhirnya kuliah hingga kerja di Surabaya, saya malah punya keleluasaan untuk sering-sering main ke Caruban. Karena menjangkaunya jauh lebih mudah lantaran dilintasi oleh kereta api, ketimbang dari Rembang yang harus beberapa kali oper bus.
Caruban ibarat rumah kedua bagi saya. Memang, tiap kali ke Caruban, beberapa orang yang saya temui selalu bingung tiap saya tanya perihal rekomendasi wisata. Kebanyakan pasti mengarahkan saya ke Telaga Sarangan yang hanya berjarak 1 jam-an dengan motor.
Tapi saya tidak sedang fokus mencari wisata. Caruban adalah tempat menepi sejenak, terutama ketika saya sedang sumpek-sumpeknya karena overthinking terhadap hidup.
Apalagi rumah Pakde saya berada di sebuah desa yang hijau nan sepi. Saya bisa menemukan sensasi pagi dan malam yang tenang untuk menyegarkan pikiran. Dan saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendengar nasihat-nasihat kehidupan dari Pakde. Recharge energi.
Pakde memang dikenal sebagai orang dengan cara pandang bijak di keluarga kami. Pendengar yang baik, penyabar, dan orang yang sangat tulus terhadap siapapun. Mendengar nasihat kehidupan dari Pakde membuat saya kembali lagi ke perantauan dengan kondisi batin yang lebih tenang dan pikiran yang lebih segar. Itulah kenapa Caruban selalu membawa saya kembali.
Merayakan hal-hal sederhana di Caruban
Kesan perihal ketenangan Caruban, Madiun, juga diungkapkan oleh Selvi (26), perempuan asal Gresik, Jawa Timur, yang punya kerabat di Caruban.
Saat ini—dengan statusnya sebagai pusat pemerintahan Madiun—Caruban bukannya tidak mempercantik diri. Sejumlah kedai kopi modern sudah lebih mudah ditemui, menjadi salah satu opsi ketika Selvi berkunjung ke sana.
Sepintas, bagi anak muda seperti Selvi, kedai kopi modern barangkali menjadi satu-satunya hal yang relate bagi segmen seusianya dan di bawahnya.
“Karena memang ya, kalau kerabatku ngajak keluar malam, mentok-mentok paling ke alun-alun,” ungkap Selvi bercerita, Minggu (12/7/2026).
Sepintas pula, tidak ada yang istimewa-istimewa banget dari Alun-Alun Caruban. Biasa saja, selayaknya alun-alun di kabupaten-kabupaten kecil lain.
Namun, saat duduk-duduk di tepian alun-alun, Selvi melihat betapa alun-alun tersebut menjadi ruang pertukaran energi yang sangat positif. Semua orang yang ia lihat—dewasa maupun anak-anak—tampak gembira.
“Dari kerabatku aku dapat penjelasan, Alun-Alun Caruban memang nggak bagus-bagus banget. Tapi hidup di Caruban itu membuat orang-orangnya belajar merayakan hal-hal sederhana,” kata Selvi.
“Istimewa bukan soal tempatnya. Karena di sana juga nggak ada tempat wisata yang recommended. Tapi kebersamaan, itu nilai yang jauh lebih penting,” sambungnya.
Dari kerabatnya itu pula Selvi belajar bagaimana sebuah keluarga kecil, dengan kehidupan yang sederhana, tapi punya keterhubungan yang kuat satu sama lain.
Keramahan yang hangatkan hati tapi tak campuri urusan orang
Beberapa kali pula Selvi menginap di rumah kerabatnya di Caruban, Madiun. Kehangatan tidak hanya ia rasakan di rumah sederhana kerabatnya, tapi juga dari lingkungan sekitar.
Saat ia berjalan atau sedang duduk-duduk di teras rumah, ia mengaku selalu disapa hangat oleh orang-orang yang melintas. Tapi keramahan tidak sekadar berhenti di situ.
“Aku diajak ngobrol. Terus tetangga kerabatku bisa cerita dengan begitu cair,” katanya.
“Beberapa orang mungkin merasa itu mengganggu privasi. Tapi nggak kok, karena si tetangga itu memang benar-benar pengin silaturahmi lah, nggak sakadar basa-basi,” lanjutnya.
Dan lebih penting dari itu, berdasarkan cerita yang ia dapat dari si kerabat, keramahan tersebut tidak lantas diikuti oleh “ikut campur” lebih dalam urusan orang lain, sebagaimana yang belakangan kerap diresahkan oleh anak muda yang tinggal di desa.
Pecel malam: tidak sekadar mengisi perut lapar
Jika menyebut nama Madiun, salah satu yang pertama-tama kerap muncul di benak orang adalah: pecel. Pecel madiun—setidaknya menurut saya pribadi—memang the best.
Porsinya melimpah tapi dengan harga relatif murah. Bumbu kacangnya kental dan khas. Isiannya, selain lauk utama yang dipilih sendiri oleh pembeli, dilengkapi dengan kangkung, irisan mentimun, kemangi, beberapa juga pakai bunga turi putih, sepotong tempe, dan sepotong dadar jagung.
Sebagai sentra pecel, ada banyak warung pecel yang buka hingga tengah malam di Madiun. Termasuk juga di Caruban. Begitu keterangan dari Haban (28), laki-laki asli Caruban yang merantau di Surabaya.
“Di Surabaya sebenarnya nggak susah nemu penjual pecel madiun. Tapi seringnya buat sarapan. Tapi kalau di Caruban, hampir tengah malam itu ada yang buka,” jelasnya.
Bagi Haban, kulineran pecel madiun di menuju tengah malam tidak sekadar menjadi momen mengisi perut keroncongan. Fungsinya justru mirip warung kopi: tempat nongkrong.
Sebab, jika sedang pulang ke Caruban, Haban dan beberapa temannya sering malam-malam melipir ke warung pecel. Kodenya: “ayok mecel”.
“Sambil menyantap pecel, sambil cerita-cerita lah soal kehidupan. Bagi perokok sepertiku, sensasi habis makan pecel dengan bumbu kental dan pedes, terus ngudud, wah nikmat sekali,” beber Haban.
“Ya kami sering juga kalau ngobrol-ngobrol itu di angkringan atau warkop. Malah jarang di kafe gitu. Tapi kadang di tengah-tengah obrolan, keluar lah celetukan: ‘Untuk menghadapi kenyataan hidup yang seringkali melelahkan juga butuh energi. Mecel jadi solusi’,” pungkasnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Madiun, Kota dengan Ruang Publik yang Berlimpah Lebih Memesona ketimbang Jogja yang Katanya Kota Pendidikan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
