Bagi banyak anak muda desa, bisa makan Mie Gacoan adalah kemewahan. Mereka bahkan rela motoran dua jam, berpanas-panasan, bertarung melawan kemacetan, demi mencicipi sensasi mie pedas tersebut.
***
Malam itu, saya dan teman-teman kos sedang asyik menonton pertandingan Piala Dunia 2026. Di tengah serunya tontonan, perut mulai keroncongan. Seperti biasa, kami pun membuka aplikasi pesan antar makanan di handphone dan mulai berdebat mau makan apa.
“Pesan Mie Gacoan aja, gimana?” usul saya santai.
Dengan kompak, teman-teman saya menjawab: “Bosan!”
Saya cuma bisa tersenyum tipis mendengar jawaban mereka. Wajar saja, buat anak kos yang hidup di kota besar, kedai mi pedas itu memang ada di mana-mana. Tinggal pencet layar HP, tunggu dua puluh menit, abang ojol sudah sampai di depan kos membawa pesanan.
Namun, bagi saya, kata itu langsung mengingatkan pada kampung halaman, sebuah desa terpencil di kawasan paling tenggara Kabupaten Wonogiri.
Di sana, boro-boro bosan. Untuk sekadar makan seporsi Mie Gacoan saja, orang harus rela naik motor berjam-jam menyeberang ke Kota Jogja.
Anak desa kebelet nyicip kuliner viral
Penolakan dari teman-teman kos tadi melempar ingatan saya ke momen mudik Lebaran beberapa bulan yang lalu. Waktu itu, suasana siang hari di sekitar rumah saya terasa agak aneh.
Lingkungan sangat sepi. Tumben-tumbenan tidak ada gerombolan anak muda belasan tahun yang biasanya nongkrong di pinggir jalan, atau sekadar wara-wiri pakai motor saat hari libur.
“Pada ke mana sih ini bocah-bocah?” tanya saya ke adik.
Adik saya menjawab enteng, “Lagi pada motoran ke Jogja, Mas. Mau beli Mie Gacoan.”
Saya agak kaget. Desa kami memang cukup jauh dari hiruk-pikuk “kuliner viral” yang tiap hari lewat di layar TikTok. Selama ini, anak-anak SMP dan SMA di kampung cuma bisa menelan ludah. Mereka hanya bisa melihat bentuk dan membayangkan rasa makanan kekinian itu dari video pendek di HP.
Nah, barangkali mumpung libur Lebaran, dan kebetulan kantong lagi lumayan tebal karena dapat uang sangu atau THR, kesempatan ini akhirnya dipakai untuk memuaskan rasa penasaran mereka.
Rombongan 12 orang boncengan demi Mie Gacoan
Malam harinya, gerombolan anak muda itu akhirnya pulang. Karena penasaran, saya langsung mengajak mereka ngobrol di teras rumah. Cerita yang keluar dari mulut salah satu anak benar-benar bikin geleng-geleng kepala. Lucu, dan sangat polos.
Mereka cerita, rombongan tadi berangkat beramai-ramai. Total ada 12 orang yang boncengan pakai enam sepeda motor. Perjalanan menembus aspal dari ujung Wonogiri ke Jogja itu memakan waktu lebih dari dua jam.
Waktunya bahkan bisa makin lama karena mereka sempat terjebak macet parah di jalanan menanjak kawasan wisata Bukit Bintang.
Alasan mereka jauh-jauh ke sana sebenarnya cuma satu: FOMO sama rasa Mie Gacoan! Mereka mengaku sudah capek cuma jadi penonton di TikTok.
Dari 12 anak yang ikut rombongan motoran itu, ternyata baru dua orang yang pernah makan mi pedas tersebut. Itu pun bukan makan langsung di warungnya, melainkan lewat jastip atau jasa titipan dari teman sekolah yang kebetulan sedang main ke kota.
Bisa dibayangkan betapa semangatnya mereka saat akhirnya sampai di kedai dan ikut antre panjang seperti orang-orang di video TikTok.
Mulut tersiksa, tapi ada rasa puas dan bangga
Namun, di sinilah letak lucunya. Karena merasa sudah berjuang jauh-jauh naik motor, menahan pegal punggung, dan menembus debu jalanan, mereka tidak mau rugi. Pantang buat mereka memesan menu yang rasanya “tanggung”.
Si anak ini cerita, alih-alih memesan level pedas yang wajar, mereka malah menantang diri. Rata-rata dari mereka memesan mi di level enam sampai level delapan. Tingkat kepedasan yang jelas menyiksa perut dan mulut yang tidak terbiasa makan super pedas.
Hasilnya sudah bisa ditebak. Makanan viral yang diidam-idamkan sejak dari desa itu malah bikin mereka merana. Mereka tidak bisa menikmati rasanya sama sekali. Mulut kepanasan, barangkali bibir jontor, sampai telinga rasanya sakit dan berdengung.
Ujung-ujungnya, mereka lebih banyak minum es teh daripada mengunyah Mie Gacoan. Perut mereka kenyang gara-gara kebanyakan air, bukan karena makanan yang sudah mereka kejar selama dua jam penuh itu.
Anehnya, saat menceritakan rentetan penderitaan itu ke saya, tidak ada wajah menyesal sama sekali. Mereka pulang membawa sensasi mulut yang tersiksa, tapi dada mereka membusung bangga.
Bagi mereka, rasa penasaran itu sudah lunas. Mereka sekarang punya bahan cerita seru untuk dipamerkan waktu kumpul di sekolah nanti. Ini adalah bukti sah bahwa mereka sudah pernah mencoba tren makanan orang kota, walaupun bayarannya lidah mati rasa dan perut kembung.
Mendengar tawa si anak malam itu, dan mengingat lagi ucapan “bosan” dari teman-teman kos saya, saya sadar satu hal. Di tengah zaman internet yang serba cepat ini, kebahagiaan anak muda di desa ternyata masih sangat sederhana.
Ya, kebahagiaan itu sesederhana rela menahan pegal duduk di jok motor selama dua jam, demi sepiring mi pedas yang menyiksa mulut. Apa yang di kota besar sudah dianggap sangat membosankan, ternyata masih menjadi perjalanan yang mewah, menantang, dan tak terlupakan buat anak-anak di sudut desa.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Orang Desa Pertama Kali Makan di Mie Gacoan: Demi Viral Malah Berujung Malu Perkara QRIS dan Sumpit atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
