Membidik Cerita: Masjid Menara Kudus (Masjid Al-Aqsa) yang memiliki corak akulturasi antara Hindu-Buddha dan Islam, sekaligus menjadi ikon toleransi antar umat beragama yang dibuat oleh Sunan Kudus.
***
Awalnya, saya hanya ingin singgah sebentar di Masjid Menara Kudus untuk salat sekaligus istirahat sebentar setelah menelusuri stand-stand makanan di Festival Dandangan 2026. Namun, makin lama saya menapaki bagian dalam bangunan, rasanya seperti ditarik ke masa lalu. Saya terkesima dengan arsitektur dan ornamen Masjid Menara Kudus yang sarat akan makna.
Konon, sebelum adanya menara, masyarakat setempat percaya bahwa di Masjid Menara Kudus (Sayyid Ja’far Shadiq) terdapat sumur sebagai sumber kehidupan. Namun, berkembang sebuah mitos, bahwa air di dalamnya bisa menyembuhkan segala macam penyakit.

Sejak Sunan Kudus menyebarkan ajaran Islam usai keruntuhan Majapahit, masyarakat mulai menutup sumur itu menjadi bangunan menara agar tak berujung syirik. Ada pula yang menyebut bahwa bangunan menara berfungsi untuk mempercepat laju ajaran Islam dengan mengubur kitab-kitab agama Hindu dalam menara.
Dengan begitu, warga tak bisa mempelajari agama Hindu dan tetap merawat bangunan tersebut karena di dalamnya terdapat kitab suci. Meski begitu, Sunan Kudus menyebarkan ajaran Islam dengan cara halus yakni dengan prinsip dakwah bil hikmah dan tepo seliro (empati).
Guna melancarkan dakwahnya, Sunan Kudus melarang pengikutnya agar tak pernah menyembelih sapi saat Ramadan. Sebab, penduduk di sana yang mayoritas beragama Hindu masih percaya bahwa sapi adalah hewan suci alias kendaraan dari Dewa Siwa.
Alih-alih, memaksa pengikutnya untuk menyembelih sapi, Sunan Kudus menganjurkan mereka untuk menyembelih kerbau atau kambing demi menjaga toleransi. Hingga kini, ajaran tersebut masih berlaku dan terinternalisasi sebagai identitas kultural masyarakat Kudus.
Berdasarkan jurnal berjudul “Menara Masjid Al-Aqsha Kudus: Antara Situs Hindu atau Islam”, Masjid Menara Kudus dibangun tahun 1540 Masehi. Dalam perkembangan arsitektur masjid di Jawa, bangunannya merupakan minaret pertama alias menara tinggi yang melengkapi sebuah masjid.
Alasan corak Hindu-Islam dari Masjid Menara Kudus masih dipertahankan
Semula, menara itu berupa candi. Ada pula yang berpendapat jika bentuknya mirip dengan Bale Kulkul di Bali yang mayoritas warganya beragama Hindu. Fungsinya sebagai tempat kulkul atau kentongan untuk menyebarluaskan informasi dari jauh ke desa-desa.
Seiring berkembangnya waktu, bagian atas menara dijadikan tempat memukul beduk sebagai penanda salat tiap lima waktu. Sebagai bentuk merawat cagar budaya tersebut, peziarah maupun wisatawan tidak diperkenankan naik.
Biasanya, mereka lebih memilih berziarah ke makam Sunan Kudus yang berada di balik masjid. Sementara, bangunan utamanya tetap dipakai untuk salat berjamaah dan wisata religi.
Saking menariknya bangunan tersebut, dua orang pria dari Jepang, Sakai Takashi dan Takimoto Tadashi datang ke Masjid Menara Kudus untuk menelusuri asal mula hiasan keramik yang menempel pada dinding menara di antara bata merah.
Hasilnya, para arkeolog itu menemukan produk keramik dari pabrik Vietnam. Cirinya bisa dilihat dari dominasi warna biru dengan motif bunga yang bernuansa Islam, seperti ornamen bangunan di Istanbul Turki.
Hal ini menunjukkan betapa cerdasnya Sunan Kudus sebagai pendakwah sekaligus arsitek ulung yang memasukkan nilai kedamaian melalui corak masjid. Tak ada perseteruan, tak ada paksaan, melainkan tempat nyaman untuk orang-orang berserah kepada sang ilah.
Fotografer & Kurator: Aisyah Amira Wakang
Redaktur: Muchamad Aly Reza
LIHAT JUGA: Juru Selamat “Walkman” di Bantul yang Menolak Punah Musik Analog atau konten Membidik Cerita (foto jurnalistik) Mojok lainnya di rubrik Bidikan